22.12.17

Cerita Melahirkan: Operasi Caesar Kedua

“Bu, lahir sekarang ya,” kata dokter kandungan saya dengan tenang. Jujur saya dan Bi kaget. Harusnya hari ini hanya kontrol rutin 37 minggu kehamilan.

Mestinya sih kami tidak kaget-kaget amat. Sebulan terakhir bu dokter memang bilang ada kemungkinan harus segera dilahirkan kalau ketuban saya di bawah batas normal. Sebab cairan ketuban saya terbilang sedikit. Tapi kami yakin dan percaya itu tidak akan terjadi. Kan saya sudah minum 3 liter air tiap hari, minum air kelapa, dan Pocari Sweat seperti saran dokter. Saya juga sudah afirmasi positif bisa lahiran normal. Kenyataannya ga semua semua yang dipercaya jadi kenyataan.

(FYI saat itu indeks cairan ketuban (Amniotic Fluid Index) saya 8 padahal menurut dokter kandungan saya minimal 10. Seminggu sebelumnya masih 12.  Idealnya 15, kata bu dokter)

Memang Kenapa Dok Harus Segera Lahir?
Menurut bu dokter kalau cairan ketuban saya dibawah 10 artinya plasenta sudah tidak bisa mendukung kehidupan bayi di dalam perut. Jadi daripada bayi stress dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan harus segera dikeluarkan. Itu sih yang saya pahami.

Daftar Kamar Persalinan
Kami keluar dari ruang dokter jam sebelas lewat. Masih dengan pikiran mengawang-ngawang. Lah wong saya aja belum selesai packing untuk ke rumah sakit. Niatnya beres sebelum minggu ke 38.

Kami langsung diarahkan untuk duduk bersama suster. Di Rumah Sakit Hermina ada program pendaftaraan kelahiran dari awal dengan beberapa keuntungan. Untung saya sudah daftar. Walaupun saya akhirnya tidak memanfaatkan keuntungan apapun (seperti diskon senam hamil, dsb). Saya pun menyerahkan kartu pendaftaran saya. Suster kemudian memberikan berlembar-lembar surat untuk ditandatangani.

Awalnya saya kira saya boleh pulang dulu ambil barang-barang. Ternyata yang boleh pulang hanya Bi saja. Sementara saya sudah tidak boleh kemana-mana lagi.

Periksa Darah
Selagi Bi disuruh menyelesaikan administrasi, saya diminta untuk tes darah dulu. Tes darahnya di lab dan antri seperti pasien rawat jalan.

Petugas lab bahkan menyuruh saya untuk ambil hasilnya beberapa jam lagi. Saya bilang tadi kata suster nanti dia saja yang ambil.

“Oh gitu, ya bisa juga nanti diambilin suster,” kata pak petugas laboratorium.

Makan Siang Kilat
Selesai ambil darah pikiran saya cuma satu: makan. Operasi dijadwalkan jam lima sore. Kata dokter, Saya harus puasa dari jam dua belas. Artinya saya cuma punya waktu setengah jam.

Pagi tadi saya cuma sarapan sekedarnya. Buru-buru untuk sampai RS jam delapan pagi sesuai jadwal, tapi ternyata dokternya telat lebih dari dua jam. Jangan sampai harus menjalani operasi caesar dengan perut keroncongan, pikir saya.

Bingung dong mau makan di mana dengan waktu yang sedikit itu. Akhirnya saya ke kantin rumah sakit. Memang tidak ada pilihan lain juga. Saya beli arem-arem segepok. Cuma itu yang siap saji, mengenyangkan, dan tidak pedas.

Tepat saat saya mau makan ibu saya sampai. Tentu untuk menemani saya melahirkan. Hore jadi ada teman makan karena Bi masih sibuk ke kasir untuk menyelesaikan pembayaran.

Menunggu Operasi
Begitu Bi selesai seorang suster mendatangi saya untuk mengantar kami ke kamar.

“Mau naik kursi roda atau jalan saja?” tanyanya. Saya memilih jalan. Seperti ga mau lahiran deh rasanya.

Setelah menunjukkan kamarnya suster tersebut pamit. Katanya tunggu saja nanti ada suster yang akan memberi saya obat untuk persiapan operasi.

Berbeda dengan saat lahiran Ru di RS Puri Cinere, di RS Hermina pasien tidak menggunakan baju rumah sakit kecuali saat operasi. Jadi masih dengan pakaian sejak pagi saya naik ke tempat tidur menunggu suster. Bagaimana saya mau menerima kenyataan si ade akan lahir kalau rasanya saya seperti pengunjung yang iseng tidur di kasur RS.

“Aku pulang sekarang aja ya?” tanya Bi.

Dia memang harus mengambil barang-barang sekaligus menjemput anak kami, Ru(3 tahun 7 bulan). Pengasuh Ru pulang sore. Selain itu Ru belum tahu kalau saya akan melahirkan dan untuk beberapa hari ke depan harus menginap di rumah sakit.

Untuk barang-barang untung saya sudah sempat membuat daftarnya. Saya mengirimkannya pada Bi via WhatsApp. Lumayanlah, walaupun saya yakin Bi akan cukup bingung juga.

Obat Pematang Paru dan Lainnya
Saat Bi pulang, saya ditensi, dipasang alat CTG (untuk mendeteksi detak jantung janin) selama setengah jam, dan dipasangi infus. Terakhir, yang paling berkesan, diberi obat pematang paru.

“Jangan kaget ya bu nanti terasa seperti kesemutan di vagina,” kata mbak suster sambil menyuntikan obat melalui infus.

Satu sampai dua detik setelah disuntikan badan saya langsung serasa dijalani ribuan semut. Bagian kemaluan memang seperti semutan, tapi puncak kepala lebih lagi. Sampai terasa gatal. Sensasi yang saya tidak pernah rasakan. Kalau susternya ga bilang tentu saya sudah panik. Bener-bener ga enak, sampai sekarang saya masih ingat rasanya.

Sebenarnya saya kurang tahu kenapa harus dikasih obat pematang paru, tebakan saya karena saat itu usia kandungan saya baru 37 minggu.

Keluarga Berdatangan
Cukup lama juga Bi pulang. Ia lalu kembali bersama Ru, anak pertama saya yang selalu ceria itu.

“Mamaa! Ade mau lahir ya?” tanyanya senang. Ru lalu sibuk mengeksplorasi kamar rumah sakit sama seperti kalau kami menginap di hotel untuk staycation.

Selain itu datang juga ibu dan bapak mertua saya dari Bandung, juga ayah dan adik saya. Lupa bagaimana urutan kedatangannya.

Walau ramai kegelisahan saya menunggu jam lima tak juga hilang. Pengalaman operasi caesar sebelumnya meski lancar tapi tidaklah menyenangkan.




Diundur
Mendekati jam lima saya dikabarkan bahwa operasinya diundur sejam. Tepat saat azan magrib suster menjemput saya untuk ke ruang operasi.

“Salat dulu sebentar boleh sus?”
“Udah ditungguin bu di ruang operasi”

Saya pun lalu dibawa dengan kursi roda ditemani Bi dan si mama. Sampai di depan ruang operasi saya diminta turun dari kursi, buka sandal, dan menyimpannya di loker. Hanya satu orang yang boleh masuk ke ruang operasi. Bi menemani, mama kembali ke kamar.

Di balik pintu area operasi ada banyak ruang-ruang lain. Saya dipersilahkan masuk ke ruang paling depan. Diberikan pakaian operasi untuk berganti pakaian. Saya pun berganti di kamar mandi.

Setelah berganti saya diminta menunggu karena dokternya ada operasi mendadak. Yah sus, berarti tadi bisa kan salat dulu sebenarnya, pikir saya.

Daripada bengong saya dan Bi foto-foto aja. Walaupun tetep sih saya dag dig dug dan dalam hati sibuk baca doa.



Saatnya Operasi
Akhirnya saya dijemput juga untuk masuk ruang operasi menggunakan tempat tidur. Bi dipersilahkan keluar.

Ruang operasi di sini tidak sedingin saat Ru lahir dulu. Baik secara suhu maupun penampakannya. Saya lalu diperkenalkan dengan dokter-dokter yang akan membantu proses kelahiran ini.

Kemudian diminta duduk untuk diberi anastesi di tulang belakang. Entah hanya perasaan atau bukan yang ini lebih tidak sakit dari saat lahiran Ru.

Bismillah. Operasi pun dimulai. Senangnya kali ini saya diselimuti, jadi ga mengigil seperti dulu. Tersiksa loh mengigil kedinginan kalau lama.

Tak berapa lama Haha lahir. Tangisannya tak sekencang kakaknya saat lahir. Tak lama dia diletakkan di dada untuk inisiasi menyusui dini. Halo anak ganteng mama! Saya lupa dia berhasil menyusui atau tidak. Haha lalu dibawa keluar sementara operasi terus berlanjut. Haha lahir dengan berat 2,5 Kg dan panjang 47cm.


Operasi Pengangkatan Polip
Selain persalinan, saya sekaligus menjalani operasi pengangkatan polip.

Sudah sejak hamil Ru saya tahu bahwa ada polip di mulut rahim saya. Polip adalah semacam daging/ kulit yang tumbuh. Konon katanya kalau melahirkan normal polip bisa copot sendiri. Nah saat operasi caesar yang pertama dokter saya tidak bilang apa-apa tentang pengangkatan polip, jadi ya saya ga minta diangkat juga.

Barulah saat USG 4D di Citra Ananda, dokter di sana mempertanyakan kenapa polip saya tidak diangkat saja. Menurutnya kalaupun normal tidak akan terangkat dengan sendirinya. Ditambah karena polip ini saya tidak bisa papsmear karena ada kemungkinan terjadi pendarahan.

Sejak pendaftaran awal pengangkatan polip ini sudah sekalian didaftarkan. Lumayan diskon 50% bila dilakukan bersamaan dengan operasi caesar. Walaupun operasi kecil biayanya cukup mahal, kisarannya sampai sepuluh juta rupiah sebelum diskon.

Setelah operasi caesar selesai, operasi pengangkatan polip dilakukan. Cepat sekali, mungkin hanya lima menit.

Operasi Selesai
Alhamdulillah akhirnya operasi selesai. Bi lalu diminta membawakan pakaian ganti. Saya langsung digantikan dengan pakaian biasa lagi. Saat itu badan saya masih mati rasa.

Bi langsung menyambut saya begitu saya didorong keluar dari kamar operasi. Setelah saya ditempatkan di ruang lain (yang masih di dalam area operasi) Haha kembali diberikan kepada saya untuk disusui.

Secara bergantian keluarga saya muncul untuk melihat Haha. Kecuali Ru tentunya. Saat itu entah mengapa saya sangat mengantuk.

Tak lama kemudian Haha diambil lagi, sementara saya dibawa ke ruang observasi yang ada jauh di belakang. Sepertinya karena saat itu ruang operasi sedang penuh. Di sana saya hanya diinfus. Di ruang ini tidak banyak aktivitas, suster saja tidak kelihatan. Hanya ada satu pasien lain di sebelah saya yang sedang ditemani banyak orang. Untunglah, saya jadi ga takut.

Saat itu saya benar-benar mengantuk. Jadi selama observasi saya tertidur. Hanya terbangun sekali-kali.

“Disebelah ada orang?” terdengar percakapan dari balik tirai
“Ada”
“Coba-coba lihat, cantik ga?”
Saya pun jadi terbangun. Tepat saat saya membuka mata ada seseorang yang sedang mengintip ke arah saya. Yaelaaah, ibu-ibu abis lahiran kok dilihat cantik apa ngga. Pikir saya waktu itu lalu kembali tidur.

Sekitar pukul sepuluh malam observasi selesai dan saya dibawa kembali ke kamar. Saya sempat ditanya apa adik bayi mau diantar malam ini juga setelah observasi empat jam atau besok pagi saja. Saya dan Bi kompak menjawab besok pagi. Sungguh saya sudah lelah sekali.

Ru sudah tidur ketika saya kembali. Belum sempat bertemu adiknya. Ru kemudian dibawa pulang oleh bapak-ibu mertua saya. Besok ya Ru ketemu ade nya.

Haha dan Ru Hebat
Jam dua pagi tiba-tiba suster datang membawa bayi saya. Ah suster, katanya boleh besok pagi. Ga mungkin tapi saya tolak dan balikin lagi. Mana tega sama anak sendiri.

Malam itu juga, jam tiga pagi, Haha langsung minta disusui. Dia langsung bisa dan ASI saya langsung keluar. Alhamdulillah. Kagum saya sama Haha bisa langsung jago. Mungkin karena Haha tidak tongue tie seperti Ru.

Selain Haha, Ru juga sama hebatnya. Selama saya dan Bi tiga malam di rumah sakit dia di rumah bersama yangti dan yangkungnya. Tidak rewel dan bisa tidur. Ini kali kedua Ru tidak tidur bersama saya seumur hidupnya. Sebelumnya dia nangis berjam-jam tidak bisa tidur. Syukurlah, saya cukup khawatir.

Ini pertama kalinya Ru bertemu Haha. Saling sayang ya Ru dan Haha.


_____
Kesimpulannya saya memang tidak berhasil vaginal birth after caesarean (VBAC) seperti yang saya cita-citakan. pengalaman melahirkan ini juga bukan memori yang penuh kegembiraan dan bebas trauma seperti yang digadang-gadang para penggiat gentle birth. Walau begitu saya percaya tuhan memilihkan jalan terbaik untuk saya. Saya dan Haha selamat dan sehat adalah yang terpenting. Terima kasih Sang Pencipta.

Moral, Tips, & Trik
- Saya merasa melahirkan anak kedua lebih sakit dari yang pertama. Ditambah saya sembelit dan masuk angin. Berkali-kali saya ingatkan diri saya “this too shall pass”. Mama saya juga kesakitan sekali saat melahirkan anak kedua, yang ketiga malah tidak sesakit itu katanya.

- Walapun sudah dua kali operasi caesar ternyata ceritanya bisa beda sekali. Beda rumah sakit beda juga segala sesuatunya.

- Tiap rumah sakit punya kelebihan kekurangan masing-masing. Dari segi makanan, pelayanan, dan kenyamanan RS Puri Cinere jauh di atas RS Hermina. Sementara RS Hermina lebih ekonomis dan proses operasinya lebih ‘homey’. Jadi kalau boleh pilih saya mau diopersi di RS Hermina namun dirawat di RS Puri Cinere.

2 komentar:

  1. Saya merasakan hal yang sama mba, operasi caesar kedua lebih sakit dibanding yang pertama, hanya saja yang saya alami persiapan lebih matang dibanding operasi yang pertama. Jadi kondisi pikiran lebih stabil :)

    Thanks for sharing mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks for comment juga mba :)

      Hapus