14.2.17

Perlukah Insisi Tongue Tie

perlukah insisi tongue tie
Ru sudah bukan bayi lagi, tapi pengalaman menjadi ibu baru dan mengurus bayi sangat membekas bagi saya. Itulah mengapa sekali-kali saya bercerita cerita lampau di sini. Siapa tahu ada ibu baru yang mengalami hal serupa dan bisa belajar dari pengalaman saya. Salah satunya adalah tentang tongue tie, salah satu hal yang sempat ditanyakan beberapa teman saya paska melahirkan.

Hampir tiga tahun lalu Ru lahir di Rumah Sakit Puri Cinere. Rumah sakit ini pro ASI. Setelah melahirkan, saya dan Ru tidak hanya dikunjungi oleh dokter kandungan dan dokter anak, tapi juga dokter laktasi. Dokter spesialis menyusui datang dan memeriksa apakah cara menyusu bayi sudah benar dan adakah masalah dalam menyusui. Juga mengajarkan posisi menyusui yang benar. Benar-benar membantu karena menyusui itu ternyata tidak semudah kelihatannya.

Beberapa hari setelah Ru lahir puting payudara saya lecet (maaf agak vulgar). Menurut dokter laktasi, setelah memeriksa mulut Ru, hal itu disebabkan Ru mengalami tongue tie dan lip tie.


Secara sederhana, tongue tie (ankyloglossia) adalah keadaan dimana lidah dan rongga mulut terikat oleh membran atau tali lidah (frenulum) yang tebal, kencang atau pendek, sehingga menyebabkan gerakkan lidah menjadi terbatas. Sementara lip tie serupa dengan tongue tie, hanya tali tersebut mengikat bibir atas dengan gusi atas. Kedua keadaan yang biasanya saling menyertai ini dapat menyebabkan kesulitan menyusu.

Bu dokter menyarankan untuk dilakukan insisi saja, atau digunting ikatannya, agar saya tidak lecet lagi. Ia khawatir bila saya kesakitan nantinya proses menyusui tidak lagi menyenangkan dan saya akan menyerah memberi ASI. Juga dikatakan bahwa sebaiknya dilakukan secepatnya, kalau sebelum Ru lebih dari seminggu umurnya sebab bayi belum terlalu bisa merasakan sakit. Silahkan dipikirkan dulu, ujarnya.

picture: mayoclinic.org

Cari Informasi
Bukan saya namanya kalau langsung nurut dan ga cari informasi terpercaya dulu. Saya pun mempelajari tentang tongue tie dan lip tie dari internet dan apakah insisi diperlukan.

Saya juga membaca buku The Baby Book karya Dr. William Sears,M.D dan Martha Sears, R.N.  Berikut sedikit kutipannya:

“Setelah lidah digunting, ibu akan segera merasa bahwa pengisapan lebih nyaman, dan bayi mampu makan dengan lebih efektif lagi. Terkadang lidah dapat terasa begitu kencang, tetapi bila bayi mengisap dengan baik, memperoleh air susu secara efisien, dan puting susu tidak terluka selama penyusuan, tidaklah perlu menggunting frenulum.

Pengguntingan frenulum adalah prosedur yang cepat, tidak menimbulkan rasa sakit, serta dilakukan di ruang praktik dokter Anda. Pada beberapa minggu pertama, frenulum begitu tipis sehingga mudah digunting dan tidak sakit bila digunting.

Selama bertahun-tahun memberikan konseling kepada para ibu yang menyusui saya telah menjadi penggunting frenulum. Tidaklah layak untuk memperlama isapan yang menyakitkan dan pengalaman yang tidak sukses sambil menanti lidah bayi dapat bergerak bebas secara alamiah, sejalan dengan pertumbuhannya.”

Buku The Baby Book adalah salah satu andalan saya. Dari informasi tersebut saya memutuskan tali lidah Ru dipotong.

Kontra
Salah satu yang agak keberatan dengan keputusan saya ada mama. Mama memang tidak melarang karena merasa sayalah yang seharusnya membuat keputusan untuk Ru. Namun beberapa kali eyang utinya Ru itu menyuarakan ketidaksetujuannya.

Pertama karena tidak tega cucunya diinsisi dan berdarah. Kedua, sebagai dokter gigi, menurut mama banyak dari pasiennya yang juga mengalami tongue tie dan lip tie tapi tidak dilakukan tindakan medis apapun dan tidak menimbulkan masalah, kecuali agak cadel pada beberapa orang.

"Dari dulu orang juga ga ada yang diinsisi, tapi ga papa tuh buktinya pasien-pasien mama. Lagian yang namanya menyusui lecet itu normal kok," ujar mama saya. Sebenarnya bukan hanya mama saya saja, beberapa dokter pun memiliki pendapat serupa.

Walaupun begitu saya tetap memutuskan tali lidah Ru dipotong saja demi proses menyusui yang lancar. Saya takut saya menyerah gara-gara lecet. Sakit sekali setiap menyusui.

Tali Lidah Ru diinsisi
"Dokter prakteknya kapan kalau saya mau anak saya jadi diinsisi?" tanya saya pada dokter yang mendiagnosa dan menyaran insisi tongue tie. Saya tidak ingat namanya karena dokter laktasi yang berkunjung ke kamar berganti tiap hari.

"Datang kapan saja, insisi tongue tie mudah kok, dokter siapa saja bisa," jawabnya.

Saya dan Ru lalu datang ke Puri Cinere ditemani mama. Kami menemui dokter laktasi lain yang saat itu ada, saya tidak ingat namanya.

Sebelum diinsisi kami sempat konsultansi lagi memastikan apa benar-benar diperlukan. Di sana dijelaskan bahwa ada empat tipe tongue tie. Menurutnya Ru ada di tipe tiga. Sehingga dia pun menyarankan untuk dilakukan pemotongan.

Akhirnya frenulum Ru diinsisi. Kasian, berdarah-darah mulutnya. Saya ga lihat prosesnya dari dekat karena ga tega.

Agar tidak menyambung kembali dokter tersebut mengajarkan saya untuk melakukan senam lidah pada Ru. Senam lidah adalah serangkaian gerakan menekan pada frenulum yang baru dipotong. Harus rutin dilakukan beberapa kali sehari (saya lupa detailnya). Sebab jika tersambung kembali sambungannya akan menjadi lebih tebal dan memperparah keadaan.

Saya juga diberikan salep racikan untuk mengobati lecet. Kami diwajibkan datang kembali untuk kontrol.

Gagal 
Setelah insisi dan penggunaan salep, lecet saya membaik. Menyusui juga semakin tidak sakit. Yang paling berat adalah senam lidah karena Ru terlihat sangat tidak menyukainya. Tapi demi tidak menyambung lagi saya tetap rutin melakukan senam lidah. Saya merasa keputusan saya benar dan Ru baik-baik saja.

Namun ternyata saat kami kontrol, lagi-lagi dengan dokter lain tergantung dokter yang ada, diberitahukan bahwa tali lidah Ru sebagian tersambung lagi. Dokternya pun sempat berkata bahwa insisi yang dilakukan kurang sempurna. Juga mungkin senam lidah yang saya lakukan ada yang kurang benar. Untungnya lip tie nya berhasil dan tidak bermasalah.

Dokter kemudian mendorong tali lidah yang tersambung dengan jari sehingga Ru kembali berdarah-darah. Kami diperbolehkan pulang dan dijadwalkan kontrol kembali.

Pada saat kontrol kembali lagi-lagi dinyatakan bahwa pemotongan tali lidah Ru tidak sepenuhnya berhasil. Dokter menyarankan melakukan insisi ulang. Saya menolak. Walaupun katanya tidak sakit tapi saya tidak tega melihat Ru yang masih mungil itu berdarah-darah terus. Belum lagi senam lidah yang durasinya juga akan diperpanjang. Toh saya sudah tidak lecet lagi dan proses menyusui jauh membaik.

Kesimpulannya, tali lidah Ru tidak terpotong sempurna tapi saya tidak lagi kesakitan dan proses menyusui berjalan lancar hingga Ru disapih. Entah karena insisi tongue tie atau Ru sudah semakin pintar menyusu. Saya tidak menyesal, karena yang lalu biarlah berlalu, diambil saja pelajarannya. Saya cuma berharap mudah-mudahan Ru ga cadel nantinya.

Moral, Tips, & Trik
- Walaupun pemotongan tali lidah adalah bedah kecil beresiko rendah tapi sebaiknya tetap selektif dalam memilih dokter. Paling tidak tahu dokternya siapa dan apakah dokter tersebut sudah sering melakukan insisi tongue tie. Mungkin saya akan tanya berapa kali dokter tersebut pernah melakukan prosedur ini kalau saya tau ada kemungkinan gagal. Biarin dianggap cerewet, daripada anak kesayangan ternyata adalah pasien pertama. Jangan tersinggung ya pak bu dokter.

- Rekam cara senam lidah di video saat dokternya mencontohkan. Biar di rumah ga salah dan ga lupa.

- Perlu atau tidaknya tali lidah dipotong memang agak membingungkan. Intinya tanyakan saja diagnosa dokternya dengan terperinci dan buat keputusan dari informasi tersebut. Teman saya ada yang cari second opinion, dokter kedua tidak pro insisi. Malah makin bingung deh. Hehe. Intinya prosedur ini resikonya kecil sekali jadi apapun keputusannya ya sudahlah. Jangan disesali.

- Saya sendiri lebih nyaman kalau dokternya satu saja tidak berganti-ganti seperti di Rumah Sakit Puri Cinere yang sistemnya tim.

2 komentar:

  1. Salam kenal mbak, bayiku jg diagnosa tongue tie tipe 3, mau tanya mbak itu yg insisi dokter laktasi ya? Bukam doktrr bedah mulut?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya dokter laktasi. karena cuma digunting biasa gitu mbak prosedurnya. Salam kenal juga.

      Hapus