20.1.17

Weekend: Museum Geologi, Bandung


“Ru mau ke museum yang ada dinonya lagi,” ga kehitung berapa kali Ru bilang gini dua bulan terakhir. Semua berawal dari acara jalan-jalan spontan ke Museum Geologi Bandung.

Kami memang sering ke Bandung karena orang tua Bi, suami saya, tinggal di sana. Pagi itu sehabis makan bubur Mang Oyo, Bi mengajak kami ke Museum Geologi. Walaupun pernah tinggal di Bandung, saya dan Bi sama-sama belum pernah ke museum ini.


Harga tiket masuknya tiga ribu per orang. Ru (2.5 tahun) gratis. Anak-anak bayar kalau sudah PAUD. Peraturan yang aneh karena menurut undang-undang PAUD itu mulainya dari bayi. Karena Ru gratis jadi mungkin maksudnya TK.


Lantai Dasar: Aneka Fosil
Memasuki museum Ru langsung girang. Dia memang suka begitu di tempat baru. Langsung lari dari satu ruangan ke ruangan lain. Tidak sabar pengen lihat semua benda yang ada di sini. Juga berusaha manjat pagar-pagar pembatas. Jangan ditiru yang adik-adik (mana ada adik-adik baca blog). Favoritnya tentu saja replika tulang T-rex yang terkenal itu. Sayangnya Ru ga sempat foto karena keburu kabur ke sana ke mari. Hanya sempat foto sama kakinya.

Walaupun masih pagi museumnya sudah cukup ramai. Juga banyak rombongan sekolah, padahal hari minggu.

Lantai Dua: Bebatuan
Puas muter-muter di lantai dasar, kami mengajak Ru naik ke atas. Di lantai ini desainnya agak berbeda. Lebih modern dan lebih dewasa. Bagus sih, tapi menurut saya sedikit kurang ramah anak.

Di lantai ini Bi dan Ru mencoba simulasi gempa. Ru senang campur bingung. Maklum, belum pernah merasakan gempa yang sebenarnya. Ga seperti di lantai dasar, di sini dia ga terlalu lari-larian. Mungkin karena agak takut pencahayaannya lebih temaran. Favoritnya tentu saja gambar excavator. Haha, ga nyambung. Seperti yang pernah saya ceritakan di sini, Ru emang fans berat construction vehicle






Taman di Sekitar Museum Geologi
Beda sama anak-anak SD yang sibuk cari informasi di dalam museum, kami cuma cuci mata aja. Bahkan saya lebih ngeliatin desainnya dari pada konten museumnya. Kebiasaan deh. Jadi ga lama kami pun sudah selesai lihat-lihat museumnya.

Bi lalu mengajak untuk melihat lapangan Gasibu yang jadi bagus sejak Ridwan Kamil jadi wali kota. Ramai sekali lapangannya. Sempat ditegur karena pakai stroller di jalur jogging. Mungkin karena ketauan kalau kami ga berniat olah raga.

Setelah itu Bi mengajak ke taman lansia yang ada di seberangnya. Saya gamau. Dari jauh saja kelihatan ramai sekali. Saya kurang suka tempat ramai. Bi ga ngerti kenapa saya ga suka tempat ramai. Saya ga paham kenapa Bi dan orang Bandung lainnya bisa tetap senang di antara lautan orang.

Moral, Tips, & Trik
- Meseum geologi agak kurang ramah untuk anak Balita. Tapi kalau anaknya suka dinosaurus ternyata sangat berkesan.

- Lumayan oke sebagai alternatif hiburan keluarga yang mengedukasi dan murah.

- Saran buat pemerintah, mungkin museumnya bisa ditambahkan area untuk toddler. Supaya bukan cuma anak yang sudah besar saja yang bisa menikmati.

- Kalau mau ke sini bisa sepaket sama jalan-jalan ke Taman Gasibu, Perpustakaan Gasibu, dan Taman Lansia.

- Museum Geologi tutup setiap hari Jumat.

- Semoga kapan-kapan kita bisa lihat fosil dinosaurus beneran di Museum di luar sana ya Ru. Amin.

2 komentar:

  1. bagus ya museumnya dan bersih... mana murah pula tarif masuknya ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya juga ya.. kalau dibandingin tiket masuknya emang lumayan banget..

      Hapus