31.1.17

Desain Taman Kanak-kanak di IKEA

Beberapa minggu lalu tak biasa saya mendapat pesan singkat dari atasan saya di kantor dulu. Disertai beberapa foto room setting baru di area anak-anak IKEA Alam Sutera. Saya langsung tersenyum. Sebab meski baru, saya mengenalinya. Ini desain terakhir saya sebelum resign setengah tahun lalu. Tentu saja ada beberapa penyesuaian pada implementasinya serta detail-detail tambahan yang tidak saya rancang sebelumnya. Namun secara garis besar sesuai dengan apa yang dulu saya gambar.

27.1.17

Pelajaran dari Jalan-jalan ke Osaka Castle


Yang namanya jalan-jalan itu ga selalu sukses. Contohnya saat kami pergi ke Osaka Castle. Sebenernya bukan gagal gimana gitu sih. Tapi rasanya kurang inspiratif dan harusnya bisa jauh lebih baik.

Bingung Transportasi
Kesalahan utama saya adalah kurang cari informasi sebelum ke sini. Pasalnya saya terlalu mengandalkan ibu dan adik saya. Ketika berpisah dari rombongan, saya jadi kurang siap.

Selama jalan-jalan di Jepang saya dan keluarga membeli JR pass. JR pass ini adalah tiket terusan untuk naik kereta di line JR. Kalau mau untung sebaiknya hanya pakai kereta yang dikelola JR saja. Sayangnya jalur JR ini ga semuanya merupakan rute yang paling oke untuk pergi dari satu titik ke titik lain. Saat menuju Osaka Castle dari Namba kami sempat naik kereta non JR. Padahal ternyata bisa saja kalau mau pakai JR. Ini baru kami sadari saat pulang.


25.1.17

Minggu Pagi di Namba Parks, Osaka, Jepang

“Waduh Ki jauh-jauh ke Jepang cari spot yang Jepang banget donk jangan kaya di Cibubur,” komentar om saya saat saya mengunggah foto kami bertiga di Namba Parks, Osaka. Iya juga sih, saat itu sedang musim panas dan kami berfoto diantara tanaman."Eits jangan salah om.. Ini di atas gedung," jawab saya waktu itu. Sebenarnya saya ga peduli, toh saya jalan-jalan itu bukan buat pamer. Diunggah ke instagram juga supaya instagram saya ada isinya, lumayan untuk album digital.

Hari itu adalah hari kedua saya dan keluarga berada di Jepang. Sengaja loncat ke hari kedua karena hari pertama terlalu melelahkan dan kurang menyenangkan untuk diceritakan. Mungkin kapan-kapan saya ceritakan. Hari ini semua keluarga saya naik shinkansen dari Osaka ke Hiroshima. Saya, Bi, dan Ru membelot tidak ikut. Kemarin terlalu melelahkan untuk kami, jadi hari ini mau jalan santai saja di Osaka.

Seperti yang sudah saya ceritakan di sini, untuk trip Korea-Jepang kali ini saya fokus bikin itinerary Korea saja. Itinerary Jepang keluarga saya yang bikin. Efeknya saya ga tau mau kemana ketika kami memutuskan berpisah dari rombongan. Setelah googling kilat pagi-pagi, kami memutuskan untuk pergi ke Namba Parks.


22.1.17

Fotografer Keliling


Beberapa hari yang lalu Ru (2.5 tahun) tumben-tumbenan ikutan saya nonton Discovery Channel. Tiba-tiba dia terinspirasi untuk pegang kamera seperti di TV. Ru tau dimana saya menyimpan kamera dan meminta saya membuka kunci lemarinya. Akhirnya sekalian saja saya ajarkan cara memakai kamera. Ru tersenyum lebar ketika berhasil dengan jepretan pertamanya. Lalu saya sarankan Ru foto-foto benda-benda di sekeliling rumah yang menurutnya menarik. Ia pun berkelana ke halaman belakang, tempat cucian, sampai  ke depan rumah.

Saya selalu senang kalau Ru punya kegiatan baru di rumah. Jujur saya kadang bingung harus ngapain lagi yang seru bareng Ru. Seringnya sih Ru asik aja sama mainan yang sekarang ada, tapi saya suka bosen nemeninnya. Lagipula kalau itu itu aja kok kayaknya kurang bervariasi untuk perkembangannya Ru.

20.1.17

Weekend: Museum Geologi, Bandung


“Ru mau ke museum yang ada dinonya lagi,” ga kehitung berapa kali Ru bilang gini dua bulan terakhir. Semua berawal dari acara jalan-jalan spontan ke Museum Geologi Bandung.

Kami memang sering ke Bandung karena orang tua Bi, suami saya, tinggal di sana. Pagi itu sehabis makan bubur Mang Oyo, Bi mengajak kami ke Museum Geologi. Walaupun pernah tinggal di Bandung, saya dan Bi sama-sama belum pernah ke museum ini.


18.1.17

Berkunjung ke Dongdaemun Design Plaza by Zaha Hadid

Ini adalah malam terakhir saya dan keluarga di Seoul. Setelah mengunjungi Gyeongbokgung Palace, Insadong, Dongadaemun Toys Street, dan Myeongdong Street Market, kami segera bergegas menuju Dongdaemun Design Plaza. Takut terlalu malam.

Salah satu landmark kota Seoul ini adalah rancangan Zaha Hadid. Walaupun sering sekali melihat karya-karya Zaha Hadid di berbagai media, Saya dan suami, Bi, belum pernah berkunjung secara langsung.

Wow! Emang ya kalau dirancang sama arsitek top memang beda. Pengalaman yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Selain bentuknya yang sangat futuristik kami mengagumi bagaimana seorang arsitek bisa meyakinkan kliennya untuk menerima rancangan yang tidak biasa. Tentu tidak biasa lazimnya berbanding lurus dengan biaya yang lebih tinggi.

16.1.17

Belanja Mainan Murah di Korea

Dongdaemun Stationery and Toys Alley, Seoul, Korea
Sesuai namanya tempat belanja di daerah Dongdaemun ini menjual alat tulis dan mainan yang katanya murah. Sebagai orang tua sayang anak, saya dan Bi, suami saya, menyempatkan berkunjung ke sini dalam kunjungan singkat kami ke Seoul.

Lokasinya tak jauh dari pintu keluar subway. Waaah senang sekali melihat pasar yang isinya cuma alat tulis dan mainan aneka rupa.

14.1.17

Playground: Naik Excavator di Kids@Work, Gandaria City

Enam bulan terakhir Ru (2.5 tahun) lagi suka banget sama yang namanya kendaraan konstruksi. Ru hafal semua nama alat-alat berat dan fungsinya. Setiap jalan-jalan dan ketemu di jalan senangnya bukan main. Ga jarang kami berhenti dipinggir jalan untuk nontonin excavator yang lagi parkir. Buku, mainan, tontonan juga semua tentang construction vehicle. Sampe saya boseeeennn. 

Dari kesukaannya ini juga kami tahu ada amusement park yang bernama Diggerland. Ru pengen sekali ke sana. Ada hari dimana dia nangis-nangis minta naik mobil dan diantar ke Diggerland. Masalahnya Diggerland itu hanya ada di Amerika dan Inggris. Sampai akhirnya dia pun pasrah menerima kenyataan kalau Diggerland itu jauh dan untuk ke sana perlu uang banyak. 

12.1.17

Daftar Belanja Kebutuhan Bayi

Tiga tahun yang lalu ketika mempersiapkan kelahiran Ru saya menghabiskan banyak waktu membaca berbagai blog untuk membuat daftar belanja kebutuhan bayi. Saat itu keponakan saya baru berusia tiga tahun tapi kakak saya sudah lupa ketika saya tanya barang apa saja yang sebaiknya saya beli.

Saat itu saya lumayan bingung karena pengennya beli semua benda yang ada tapi apa daya dana terbatas. Untuk itu sekarang saya membuat daftar belanja kebutuhan bayi berdasarkan pengalaman saya. Semoga daftar ini bisa membantu para calon ibu yang sedang bingung. Untuk versi kedua sengaja saya tuliskan jumlahnya sebagai referensi.

Silahkan disimpan di handphone atau bisa juga di-print di kertas A4.

10.1.17

Belanja Oleh-oleh di Insadong, Seoul, Korea


Setelah melihat-lihat Gyeongbokgung Palace saya dan keluarga kemudian berjalan kaki ke daerah Insadong. Hanya perlu kira-kira tujuh menit berjalan kaki dari istana Gyeongbokgung ke sana. Insadong ini merupakan tempat belanja yang terkenal dengan barang-barang tradisional Korea.

Saya sebenarnya tidak terlalu antusias karena saya tidak berencana membeli banyak oleh-oleh barang khas Korea ataupun membeli untuk diri sendiri. Kenyataannya tempat belanja yang satu ini jauh di atas ekspektasi saya. Bukan hanya menjual barang-barang tradisional tapi juga barang berdesain modern dengan tema kebudayaan Korea. Sukaaa.

8.1.17

Gyeongbokgung Palace, Seoul, Korea

15 Juli 2016
Tidak seperti kemarin, hari ini kami tidak menyewa bus dan berencana untuk berkeliling kota Seoul menggunakan subway. Kami tidak membeli tiket subway khusus karena lebih murah beli biasa bila hanya satu hari.

Mengikuti itinerary yang telah dibuat tempat pertama yang akan kami kunjungi adalah Gyeongbokgung Palace. Istana ini adalah yang terbesar dan (katanya) paling bagus dari lima komplek istana yang ada di kota Seoul.

6.1.17

Weekend: DoubleTree By Hilton Hotel, Jakarta

Libur natal kemarin saya dan keluarga menginap di DoubleTree by Hilton Hotel, Cikini, Jakarta. Sebenarnya budget liburan jauh kami sudah habis dan Bi, suami saya, gamau nyetir macet-macet. Jadilah kami memilih mencari suasana baru di hotel sekitaran Jakarta saja. Toh menginap di hotel pasti lebih murah daripada biaya akomodasi ke luar kota.

Sejak punya anak kriteria hotel untuk kami adalah yang ramah anak. Bagi yang belum punya anak, percaya deh tempat yang gak ramah anak itu sangat melelahkan untuk orang tua yang anaknya tergolong aktif. Jadi harus kejar sana sini karena ga boleh ini itu.


3.1.17

Merayakan Tahun Baru 2017


Di balkon lantai 29 di hotel kawasan Ancol, Saya, Bi, dan Ru - suami dan anak saya, menyaksikan matahari terbenam terakhir di tahun 2016.

Kami berada di sana karena eyang uti saya, seperti yang pernah saya ceritakan di sini, ingin melihat pesta kembang api.