11.8.17

Museum Bhakti TNI, Cilangkap

tank-museum
'Ru mau ke kantor eyang papa, di kantor eyang ada tank!'

Selasa lalu Ru (3 tahun) ikut eyang uti ke kantor. Sama saya dan mbaknya Ru tentunya. Iseng aja pengan ajak Ru jalan-jalan ke Markas Besar Tentara Republik Indonesia (TNI) sebelum eyang pensiun. Sekalian ke Museum Bhakti TNI yang ada di sana.

Masuk Museum Bhakti TNI
Mungkin tidak banyak yang tahu tentang museum ini, sebab letaknya ada di dalam Markas Besar TNI, Cilangkap. Untuk masuk ke area tersebut harus melawati pos penjagaan dan pemeriksaan kendaraan. Berhubung mama saya kerja di sana jadi hanya diperiksa cepat saja mobilnya seperti masuk mal, untuk orang umum saya kurang tahu prosedurnya.

Lokasi museum ini tak jauh dari pos penjagaan. Di depannya terpampang pesawat tempur, tank, dan kapal perang.

4.8.17

Perdana Pergi ke Posyandu

Setelah tiga tahun lebih jadi ibu, baru pertama kali saya pergi ke Posyandu. Tapi bukan kali pertama untuk Ru, anak saya. Saat saya masih kerja kantoran, Ru pernah dibawa pengasuhnya untuk ambil vitamin A di Posyandu.

Posyandu Cempaka III berlokasi di Pisangan, Ciputat TImur, Tangerang Selatan. Tidak jauh dari rumah. Fasilitas layanan kesehatan ini bertempat di sebuah rumah warga dan buka satu hari dalam sebulan (setiap hari Kamis pertama setiap bulannya). Lokasi dan jam buka Posyandu ini diketahui warga dari mulut ke mulut. Artinya tanpa bantuan dari pengasuhnya Ru yang warga asli daerah sini, saya gatau harus kapan dan kemana kalau mau ke Posyandu.

31.7.17

Main Binatang di BFC Mini Farm, Bintaro

Tiap akhir pekan saya dan Bi punya agenda untuk ajak Ru jalan-jalan. Salah satunya bertujuan menghabiskan energinya Ru yang ga ada habisnya. Sejak lahir mbak yang bantu ngasuh Ru memang ga kami suruh masuk kalau akhir pekan. Dengan jalan-jalan kami berdua lumayan ga terlalu capek karena paling ngga Ru seringnya tidur di mobil.

Minggu lalu Ru (3 tahun) minta lihat kuda. Gara-gara habis nonton di TV. Setelah dipikir-pikir kayaknya lebih seru ke tempat yang binatangnya lebih beragam. Akhirnya kami pergi ke Bintaro Fish Center Mini Farm (BFC Mini Farm). Saya tahu tempat ini dari google dan pernah nonton liputannya sekilas di TV.


28.7.17

Weekend: Pantai Anyer, Banten

pantai-anyer
Salah satu kegiatan yang Ru (3 tahun) paling suka adalah main pasir. Makanya waktu mama saya mengajak liburan ke Anyer saya langsung setuju. Ga tanggung-tanggung dua bulan terakhir kami ke pantai Anyer sampai dua kali. Salah satunya untuk puas-puasin liburan sama dua ponakan saya, Freya dan Cleo yang Agustus ini berencana pindah ke Belanda.

Sejak kecil saya sering banget ke pantai yang lumayan dekat dari Jakarta ini. Mama saya pun sudah hafal villa mana saja yang pantainya bisa dipakai berenang. Sedikit info, sebagian besar villa yang ada di Anyer pantainya berkarang, tidak bisa dipakai renang.

Di bulan Juni kami menginap di The Jayakarta Anyer Beach Resort sementara bulan depannya kami menginap di Pondok Pantai Tambang Ayam 3K.

11.6.17

IndoBuildTech, Ru, dan Kendaraan Berat

"Hari ini kita ke IndoBuildTech ya," kata Bi di suatu hari minggu bulan lalu. Sudah lama pasti Bi merencanakannya, tapi tidak merasa perlu memberitahu saya.

Bagi yang ga tahu, IndoBuildTech adalah pameran tahunan mengenai industri bangunan dan interior. Sebagai desainer interior, Bi selalu datang setiap tahun, sementara saya datang kadang-kadang saja kalau sempat. Biasanya Bi ke sana bersama teman-teman kantornya, makanya saya berasumsi tahun ini pun akan demikian. Entah apa yang membuat tahun ini berbeda.

Kali ini kami mengajak anak kami Ru (3 tahun). Pertama karena memang ga ada yang bisa jagain kalau hari minggu, kedua karena Bi yakin akan ada kendaraan berat seperti tahun lalu. Ru adalah penggemar kendaraan berat.

28.3.17

Anniversary dan Kejutan

Ga terasa sudah lima tahun saya menikah dengan Bi. Harusnya pertanda baik ya kalau bisa bilang ga terasa. (Kalau mau baca cerita anniversary tahun-tahun sebelumnya: anniversary pertama, kedua, ke empat.) Berhubung tahun ini kami tidak merencanakan liburan, karena masih harus menyesuaikan budget karena saya tidak lagi bekerja, saya meminta Bi untuk cuti. Daripada cutinya tidak terpakai.

Ga ada agenda perayaan khusus sebenarnya. Saya cuma ingin punya quality time berdua saja. Untung bahasa cinta saya dan Bi jika berdasarkan buku Five Language of Love sama-sama quality time.

20.3.17

Pantai Tanjung Tinggi, Belitung


Kadang saya suka mikir kok saya asal banget ya makein Ru baju. Misalnya waktu main ke Pantai Tanjung Tinggi. Ru pakai kaos yang udah melar, sampe ga ada bedanya sama anak kampung sini kayaknya.

Sebagai pembelaan, main di Pantai Tanjung Tinggi agak spontan. Gara-gara adik sepupu saya bersikeras mau melihat pantai tempat shooting laskar pelangi. Padahal hari sudah sore, tapi ternyata sempat juga main sebentar sebelum gelap. Jadi saya sengaja makein Ru baju butut aja biar bisa main bebas di pantai. Lagian ga ada yang kenal ini di Belitung. Haha, tapi saya lupa kalau saya pengen tulis di blog.

15.3.17

Pulau Lengkuas, Belitung

liburan keluarga ke pulau lengkuas
Salah satu senangnya punya blog adalah bisa bernostalgia dan bersyukur tentang liburan atau kejadian sehari-hari lainnya. Apalagi kalau nulis blog nya kayak saya, pengalamannya sudah ntah kapan, ditulisnya baru sekarang.

Pulau Lengkuas adalah salah satu tempat yang saya kunjungi pada kunjungan ke Belitung tahun lalu. Pulau ini adalah salah satu pulau paling terkenal di antara pulau-pulau kecil lain di Belitung karena memiliki mercusuar. Mercusuar di pulau lengkuas dibangun oleh Belanda pada tahun 1882.

Cara Ke Pulau Lengkuas
Untuk pergi ke pulau Lengkuas saya dan keluarga menyewa kapal kayu yang sudah dilengkapi pelampung sesuai jumlah penumpang. Kami dijemput di Pantai Tanjung Tinggi di depan Hotel Lor In, tempat kami bermalam. Bisa khusus dijemput karena jumlah kami sebanyak kapasitas kapal.

13.3.17

Melihat Dinosaurus di Kid City, Transmart Cilandak

trex robot

Sampai sekarang Ru (2 tahun 11 bulan) masih suka sekali dengan dinosaurus. Bosenlah tapinya kalau ke taman dinosaurus di Taman Mini lagi. Jadi minggu lalu kami sengaja belanja bulanan di Transmart Cilandak karena tahu di sana ada tempat bermain anak bertema dino, Kid City.

Kid City terletak di lantai paling atas Transmart. Tempat bermain keluarga ini bertema Dino in Paris. Kombinasi tema yang agak unik memang. Jadi dinosaurusnya ada di kota Paris yang direpresentasikan dengan menara Eiffel dan poster-poster ala paris.

8.3.17

#Pumping Series: Tempat Memerah ASI di Kantor

tempat memerah asi di kantor

Dulu saat akan masuk kerja ke kantor baru setelah melahirkan saya banyak cari-cari informasi tentang memerah air susu ibu (ASI) di kantor. Salah satunya tentang dimana biasanya ibu-ibu perah memompa ASI. Masalahnya saya tidak terbayang kantor baru saya akan seperti apa dan apakah ada ruang laktasi atau tidak. Selain untuk persiapan mental juga untuk mempersiapkan perlengkapan yang harus dibawa.

Selama 18 bulan menjadi ibu perah, tempat mempompa ASI saya ternyata cukup beragam:

1. Toilet
Awal saya masuk, kantor saya masih dalam tahap pembangunan. Tidak ada ruang kosong apalagi ruang laktasi. Untunglah toiletnya lumayan bersih. Jadi selama beberapa bulan pertama saya dan seorang rekan kerja rutin memerah ASI di toilet. Alhamdulillah Ru, anak saya, tidak apa-apa.

Saya selalu cuci tangan dulu bersih-bersih sebelum masuk bilik, kemudian menutup dan mengunci pintu dengan siku, dan menutup dudukan kloset dengan kaki. Saya pun mengusahakan ga pegang apa-apa lagi selain alat pumping.

5.3.17

8 Tempat Seru di Hong Kong

Hong Kong akan selalu jadi tempat yang spesial untuk saya. "Negara" tanpa visa ini adalah tempat saya berbulan madu lima tahun yang lalu. Tiga tahun kemudian saya kembali lagi ke sini membawa anak kami yang berusia 15 bulan. Ini adalah perjalanan pertamanya ke luar negeri. “Kenapa sih ki suka banget sama Hong Kong?” begitu tanya beberapa teman saya. Jawabannya sederhana, karena bebas visa, biaya hidup di Hong Kong lebih murah dari pada Singapura, sangat mudah berkeliling Hong Kong dengan transportasi umum, mayoritas penduduknya bisa berbahasa Inggris, dan banyak tempat yang bisa dikunjungi. Intinya saya pengen seneng-seneng tapi gamau repot.

Sebenarnya semua perjalanan saya ke Hong Kong sudah saya ceritakan cukup detail di blog ini. Kebetulan Wego sedang mengadakan kompetisi blog dengan tema jalan-jalan ke Hong Kong, jadi saya pikir kenapa tidak saya buat kumpulan cerita dari tulisan-tulisan sebelumnya saja.

Museum Kata, Belitung

museum kata belitung

Sebuah rumah warna-warni menyambut kami di pinggir jalan sepi itu. "Fiction is the new power" tertulis di sana. Menarik, pikir saya.

Museum Kata ternyata lebih besar dari kelihatannya. Di dalamnya berisi tentang perjalanan Laskar Pelangi, juga tentang berbagai hal lainnya seperti tentang Belitung dan literatur dunia. Untuk pertama kalinya saya tidak terganggu dengan banyaknya tulisan yang tertempel di dinding. Biasanya museum dengan banyak tulisan dan sedikit interaksi dengan benda pamer membuat saya bosan. Namun museum ini membuat saya merasa membaca buku tiga dimensi.

Saya mengagumi Andrea Hirata. Seseorang dari di pulau kecil tapi cerdas, mampu menulis dengan baik, sukses memperkenalkan kampung halamannya, dan meningkatkan perekonomian daerah asalnya lewat pariwisata. Gara-gara Laskar Pelangi Belitung lebih terkenal daripada pulau tetangganya, Bangka. Padahal pantai di Bangka juga sama cantiknya.


28.2.17

Pantai Nyiur Melambai, Pantai Olivier, dan Anniversary


anniversary di pantai belitung
Sore itu, hampir setahun yang lalu, saya dan keluarga tiba di kota Manggar. Kota kecil yang menjadi populer karena buku Laskar Pelangi. Kami tiba agak terlalu sore karena terlalu lama menghabiskan waktu di Tanjung Pandan, mengunjungi museum dan rumah kerabat.

Pantai Nyiur Melambai
Setelah meletakkan barang-barang di hotel, kami pergi ke Pantai Nyiur Melambai. Akhirnya bertemu pantai juga.

Sudah pukul 5.30 sore. Cepat-cepat, sebelum gelap. Saya segera mengajak Ru (1 tahun 11 bulan) duduk di pasir dan menuang seluruh mainan pasir yang kami bawa.

Ru bermain pasir dengan riang gembira. Ini pertama kalinya ia bermain pasir di pantai sungguhan. Ru pernah sih main di pantai reklamasi Ancol, tapi namanya buatan pastilah tak seindah aslinya.

25.2.17

Mengajak Batita Main ke Kidzania

ajak batita ke kidzania
Siapa sih yang ga tahu Kidzania. Tempat anak-anak bisa bermain peran, mencoba berbagai profesi. November kemarin, untuk pertama kalinya saya dan Ru (2.5 tahun) pergi ke Kidzania. Dalam rangka dapat voucher sekaligus play date dengan teman saya dan kedua anaknya, Azfar (3.5 tahun) dan Syalen (1 tahun).

Saya tahu sih kalau anak usia tiga tahun ke bawah tidak bisa main banyak di sini. Hal ini pun juga disosialisasikan saat saya reservasi dan menukarkan tiket. Tidak apa, toh saya pakai voucher. Yang saya tidak tahu adalah main di Kidzania sebaiknya berbekal sedikit informasi kalau gamau bingung. Berikut beberapa hal yang sebaiknya diketahui kalau ingin membawa batita ke Kidzania, juga sedikit cerita pengalaman saya.


22.2.17

Playground: Kidzoona, AEON, BSD

Kidzoona AEON BSD
Libur pemilu kemarin Ru main di AEON BSD sama sepupu-sepupunya, Freya dan Cleo. Tiba-tiba ke AEON karena uyutnya Ru yang lagi jalan-jalan ke sana dan pasti seneng kalau cicitnya ikut gabung. Akhirnya tiga bocah itu dibolehin main di playground karena bingung juga mau ngapain. Mainnya di Kidzoona, supaya eyang uyut bisa nontonin dari luar. Kalau Playtime dan Miniapolis tertutup jadi ga bisa dilihat anaknya lagi main apa.

Kidzoona ada di dalam department store AEON bagian anak-anak di lantai 2. Tepatnya berada di ujung paling dalam.

Harga Tiket dan Member
Untuk main di sini ada dua pilihan waktu: 1 jam atau satu hari. Biayanya 80 ribu untuk satu jam dan 130 ribu untuk satu hari pada weekend atau hari libur. Sementara di hari kerja biayanya 50 ribu dan 80 ribu saja. Saran saya jangan pilih tiket satu hari kalau weekend. Selain mahal, playground-nya ramai.


18.2.17

Museum Tanjung Pandan, Belitung

museum tanjung pandan belitung
Setelah mendarat dan sarapan, saya dan keluarga berkunjung ke Museum Tanjung Pandan. Museum ini berisi berbagai hal yang berkaitan dengan pulau Belitung. Desainnya tipikal desain museum Indonesia yang belum direnovasi. Satu-satunya bagian yang cukup terdesain adalah ruang pamer berisi peninggalan kapal karam di sekitar Pulau Belitung.

Cara terbaik menikmati museum ini adalah mendengarkan cerita dari bapak pemandu. Sebab jika lihat-lihat sendiri agak sulit mendapat informasi. Salah satu cerita yang menarik bagi saya adalah tentang harta karun yang ditemukan bersama kapal-kapal karam di sana. Harta karun tersebut kemudian entah diambil siapa paska penemuannya. Sedih ya denger cerita orang segitunya banget sama harta.

Sejujurnya saya tidak terlalu fokus mendengarkan bapak pemandu. Maklum, Ru (hampir 2 tahun) malah sibuk sendiri ke sana ke mari. Jadi saya pun harus mengikuti Ru dan mendengar ceritanya sepenggal-sepenggal. Ru bahkan berlari ke halaman belakang Museum sebelum bapak pemandu selesai menceritakan semuanya.

16.2.17

Itinerary 3 Hari 3 Malam di Belitung

itinerary 3 hari 3 malam di belitung

Alhamdulillah saya dan Bi masih punya rezeki untuk ajak Ru jalan-jalan. Bukan karena uangnya berlebih tapi karena jalan-jalan adalah prioritas kami. Tahun lalu, saat Ru hampir dua tahun, kami mengajak Ru ke Belitung. Ru senang sekali. Lebih senang daripada saat diajak ke Hong Kong, Korea, atau Jepang.

Memang sih jalan-jalannya sudah lewat lama. Sayangnya saya belum sempat cerita di sini. Tapi sampai saat ini prinsip saya masih ‘lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.’ Semoga ceritanya tetap menarik.

Liburan ke Belitung ini seluruhnya diatur oleh mama saya. Saat itu saya masih bekerja, jadi saya dengan senang hati menyerahkan semuanya ke mama. Tinggal bayar dan jadi peserta aja. Kekurangannya saya ga inget sama sekali nama restauran yang kami datangi selama di Belitung. Saya juga ga foto sama sekali pas makan. Jadi cerita tentang tempat makan di Belitung ga akan ada sampai seri tulisan jalan-jalan ke Belitung ini berakhir.


14.2.17

Perlukah Insisi Tongue Tie

perlukah insisi tongue tie
Ru sudah bukan bayi lagi, tapi pengalaman menjadi ibu baru dan mengurus bayi sangat membekas bagi saya. Itulah mengapa sekali-kali saya bercerita cerita lampau di sini. Siapa tahu ada ibu baru yang mengalami hal serupa dan bisa belajar dari pengalaman saya. Salah satunya adalah tentang tongue tie, salah satu hal yang sempat ditanyakan beberapa teman saya paska melahirkan.

Hampir tiga tahun lalu Ru lahir di Rumah Sakit Puri Cinere. Rumah sakit ini pro ASI. Setelah melahirkan, saya dan Ru tidak hanya dikunjungi oleh dokter kandungan dan dokter anak, tapi juga dokter laktasi. Dokter spesialis menyusui datang dan memeriksa apakah cara menyusu bayi sudah benar dan adakah masalah dalam menyusui. Juga mengajarkan posisi menyusui yang benar. Benar-benar membantu karena menyusui itu ternyata tidak semudah kelihatannya.

Beberapa hari setelah Ru lahir puting payudara saya lecet (maaf agak vulgar). Menurut dokter laktasi, setelah memeriksa mulut Ru, hal itu disebabkan Ru mengalami tongue tie dan lip tie.


9.2.17

Weekend: Petualangan Dinosarus, Taman Mini Indonesia Indah


Ru (2.5 tahun), anak saya, lagi suka sekali sama dinosaurus. Makanya begitu tahu di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ada Petualangan Dinosaurus saya semangat mau ajak Ru ke sana. Lihat replika tulang dino di Museum Geologi saja senang sekali, apalagi lihat yang lebih jelas bentuknya. Tapi karena Bi suami saya menolak terus akhirnya baru hari minggu kemarin kami berkunjung.

Harga Tiket
Petualangan Dinosaurus ini ada di dalam area Legenda Wisata di dalam Taman Mini Indonesia Indah. Biaya masuk ke TMII per orang 10 ribu, mobil 10 ribu, sementara Ru masih gratis.

Sudah lama saya dan Bi tidak ke Taman Mini, jadi kami agak bingung. Kami lalu parkir di depan Keong Emas padahal harusnya parkir tepat di depan Legenda Wisata saja. Kami bertiga jadi harus jalan kaki kira-kira 5 menit. Itung-itung olah raga.


8.2.17

Universal Studio Japan, Kurang Cocok untuk Balita

Universal Studio Japan (USJ) adalah tempat terakhir yang kami kunjungi di trip Korea-Jepang. Di sini, adik-adik sepupu saya puas bermain dan pulang dengan senyum lebar di akhir hari. Sayangnya itu tidak terjadi dengan saya dan Bi. Universal Studio kurang cocok untuk anak-anak usia 2 tahun ke bawah seperti Ru.

Tiket masuk untuk dewasa (12-64 tahun) saat saya berkunjung adalah 7,400 yen (sekitar 880 ribu rupiah, di kurs hari ini). Jelas bukan jumlah yang sedikit. Anak-anak dibawah 4 tahun tidak dikenakan biaya masuk. Awalnya saya cukup antusias, mengingat Ru bisa bermain banyak wahana di Disneyland Hong Kong tahun lalu, saat usianya baru satu tahun. Syaratnya hanya sudah bisa duduk tegak dan tidak tidur. Ternyata di USJ tidak demikian. Kebanyakan wahana menetapkan tinggi minimal 92 cm, 102 cm, dan 107 cm. Saat kami berkunjung tinggi Ru baru 90 cm dan dia pun ditolak untuk naik wahana yang tampaknya tidak berbahaya sekalipun.

6.2.17

Kuil Fushimi Inari dengan Balita

Fushimi Inari adalah kuil Shinto yang terletak di Kyoto, Jepang. Kuil ini terkenal karena deretan gapura berwarna oranye (torii) yang jumlahnya ribuan. Gapura-gapura tersebut berderet mengikuti jalan setapak di hutan Gunung Inari, di belakang kuil utama.

Tempat ini sangat populer sebab ribuan torii ini terlihat sangat bagus di foto, sangat instagramable kalau kata anak sekarang. Selain itu Fushimi Inari buka 24 jam, gratis, dan tinggal menyeberang dari stasiun kereta yang namanyapun Fushimi Inari Station. Sehingga pantas saja ketika saya berkunjung kuil ini ramai sekali.

Jalan-jalan dengan Balita
Salah satu tips untuk jalan sama anak-anak adalah jangan terlalu idealis. Maksudnya, jangan berharap bisa menjelajah semuanya atau berkunjung ke banyak tempat di waktu yang terbatas. Di Fushimi Inari pun juga begitu. Untuk menyusuri keseluruhan jalan setapak penuh torii ini diperlukan waktu 2-3 jam. Jalannya tidak rata penuh dengan tangga-tangga kecil. Sehingga tidak mungkin memakai stroller. Ru (2 tahun) sudah berat sekali, sehingga kami tidak lagi kuat menggedongnya walaupun dengan gendongan seperti saat jalan-jalan ke Hong Kong setahun sebelumnya.

2.2.17

Playground: Playtime, AEON, BSD


AEON memang sudah tak baru lagi. Saya rasa sebagian besar penduduk sekitaran BSD juga sudah pernah berkunjung ke sini. Tapi karena AEON adalah salah satu mal favorit saya dan Bi, saya akan tetap bercerita.

Menurut kami AEON adalah mal yang cukup ramah anak. Pertama karena ada peminjaman troli berbentuk mobil-mobilan untuk keliling mal. Walaupun sekarang harus jadi member kalau mau pinjam, tapi jadi member syaratnya cukup belanja 200  ribu dalan satu struk. Kedua karena ada tiga pilihan playground untuk anak-anak: Playtime, Kidzoona, dan Miniapolis.

Salah satu tempat main favorit Ru, anak saya, adalah Playtime. Letaknya di lantai 3, dekat bioskop XXI. Di dalamnya ada berbagai area bermain mulai dari kolam pasir, kolam kacang merah, mandi bola, main masak-masakan, kereta api, balok-balok raksasa, dan lain-lain. Terlalu banyak jika harus saya sebut satu per satu.

31.1.17

Desain Taman Kanak-kanak di IKEA

Beberapa minggu lalu tak biasa saya mendapat pesan singkat dari atasan saya di kantor dulu. Disertai beberapa foto room setting baru di area anak-anak IKEA Alam Sutera. Saya langsung tersenyum. Sebab meski baru, saya mengenalinya. Ini desain terakhir saya sebelum resign setengah tahun lalu. Tentu saja ada beberapa penyesuaian pada implementasinya serta detail-detail tambahan yang tidak saya rancang sebelumnya. Namun secara garis besar sesuai dengan apa yang dulu saya gambar.

27.1.17

Pelajaran dari Jalan-jalan ke Osaka Castle


Yang namanya jalan-jalan itu ga selalu sukses. Contohnya saat kami pergi ke Osaka Castle. Sebenernya bukan gagal gimana gitu sih. Tapi rasanya kurang inspiratif dan harusnya bisa jauh lebih baik.

Bingung Transportasi
Kesalahan utama saya adalah kurang cari informasi sebelum ke sini. Pasalnya saya terlalu mengandalkan ibu dan adik saya. Ketika berpisah dari rombongan, saya jadi kurang siap.

Selama jalan-jalan di Jepang saya dan keluarga membeli JR pass. JR pass ini adalah tiket terusan untuk naik kereta di line JR. Kalau mau untung sebaiknya hanya pakai kereta yang dikelola JR saja. Sayangnya jalur JR ini ga semuanya merupakan rute yang paling oke untuk pergi dari satu titik ke titik lain. Saat menuju Osaka Castle dari Namba kami sempat naik kereta non JR. Padahal ternyata bisa saja kalau mau pakai JR. Ini baru kami sadari saat pulang.


25.1.17

Minggu Pagi di Namba Parks, Osaka, Jepang

“Waduh Ki jauh-jauh ke Jepang cari spot yang Jepang banget donk jangan kaya di Cibubur,” komentar om saya saat saya mengunggah foto kami bertiga di Namba Parks, Osaka. Iya juga sih, saat itu sedang musim panas dan kami berfoto diantara tanaman."Eits jangan salah om.. Ini di atas gedung," jawab saya waktu itu. Sebenarnya saya ga peduli, toh saya jalan-jalan itu bukan buat pamer. Diunggah ke instagram juga supaya instagram saya ada isinya, lumayan untuk album digital.

Hari itu adalah hari kedua saya dan keluarga berada di Jepang. Sengaja loncat ke hari kedua karena hari pertama terlalu melelahkan dan kurang menyenangkan untuk diceritakan. Mungkin kapan-kapan saya ceritakan. Hari ini semua keluarga saya naik shinkansen dari Osaka ke Hiroshima. Saya, Bi, dan Ru membelot tidak ikut. Kemarin terlalu melelahkan untuk kami, jadi hari ini mau jalan santai saja di Osaka.

Seperti yang sudah saya ceritakan di sini, untuk trip Korea-Jepang kali ini saya fokus bikin itinerary Korea saja. Itinerary Jepang keluarga saya yang bikin. Efeknya saya ga tau mau kemana ketika kami memutuskan berpisah dari rombongan. Setelah googling kilat pagi-pagi, kami memutuskan untuk pergi ke Namba Parks.


22.1.17

Fotografer Keliling


Beberapa hari yang lalu Ru (2.5 tahun) tumben-tumbenan ikutan saya nonton Discovery Channel. Tiba-tiba dia terinspirasi untuk pegang kamera seperti di TV. Ru tau dimana saya menyimpan kamera dan meminta saya membuka kunci lemarinya. Akhirnya sekalian saja saya ajarkan cara memakai kamera. Ru tersenyum lebar ketika berhasil dengan jepretan pertamanya. Lalu saya sarankan Ru foto-foto benda-benda di sekeliling rumah yang menurutnya menarik. Ia pun berkelana ke halaman belakang, tempat cucian, sampai  ke depan rumah.

Saya selalu senang kalau Ru punya kegiatan baru di rumah. Jujur saya kadang bingung harus ngapain lagi yang seru bareng Ru. Seringnya sih Ru asik aja sama mainan yang sekarang ada, tapi saya suka bosen nemeninnya. Lagipula kalau itu itu aja kok kayaknya kurang bervariasi untuk perkembangannya Ru.

20.1.17

Weekend: Museum Geologi, Bandung


“Ru mau ke museum yang ada dinonya lagi,” ga kehitung berapa kali Ru bilang gini dua bulan terakhir. Semua berawal dari acara jalan-jalan spontan ke Museum Geologi Bandung.

Kami memang sering ke Bandung karena orang tua Bi, suami saya, tinggal di sana. Pagi itu sehabis makan bubur Mang Oyo, Bi mengajak kami ke Museum Geologi. Walaupun pernah tinggal di Bandung, saya dan Bi sama-sama belum pernah ke museum ini.


18.1.17

Berkunjung ke Dongdaemun Design Plaza by Zaha Hadid

Ini adalah malam terakhir saya dan keluarga di Seoul. Setelah mengunjungi Gyeongbokgung Palace, Insadong, Dongadaemun Toys Street, dan Myeongdong Street Market, kami segera bergegas menuju Dongdaemun Design Plaza. Takut terlalu malam.

Salah satu landmark kota Seoul ini adalah rancangan Zaha Hadid. Walaupun sering sekali melihat karya-karya Zaha Hadid di berbagai media, Saya dan suami, Bi, belum pernah berkunjung secara langsung.

Wow! Emang ya kalau dirancang sama arsitek top memang beda. Pengalaman yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Selain bentuknya yang sangat futuristik kami mengagumi bagaimana seorang arsitek bisa meyakinkan kliennya untuk menerima rancangan yang tidak biasa. Tentu tidak biasa lazimnya berbanding lurus dengan biaya yang lebih tinggi.

16.1.17

Belanja Mainan Murah di Korea

Dongdaemun Stationery and Toys Alley, Seoul, Korea
Sesuai namanya tempat belanja di daerah Dongdaemun ini menjual alat tulis dan mainan yang katanya murah. Sebagai orang tua sayang anak, saya dan Bi, suami saya, menyempatkan berkunjung ke sini dalam kunjungan singkat kami ke Seoul.

Lokasinya tak jauh dari pintu keluar subway. Waaah senang sekali melihat pasar yang isinya cuma alat tulis dan mainan aneka rupa.

14.1.17

Playground: Naik Excavator di Kids@Work, Gandaria City

Enam bulan terakhir Ru (2.5 tahun) lagi suka banget sama yang namanya kendaraan konstruksi. Ru hafal semua nama alat-alat berat dan fungsinya. Setiap jalan-jalan dan ketemu di jalan senangnya bukan main. Ga jarang kami berhenti dipinggir jalan untuk nontonin excavator yang lagi parkir. Buku, mainan, tontonan juga semua tentang construction vehicle. Sampe saya boseeeennn. 

Dari kesukaannya ini juga kami tahu ada amusement park yang bernama Diggerland. Ru pengen sekali ke sana. Ada hari dimana dia nangis-nangis minta naik mobil dan diantar ke Diggerland. Masalahnya Diggerland itu hanya ada di Amerika dan Inggris. Sampai akhirnya dia pun pasrah menerima kenyataan kalau Diggerland itu jauh dan untuk ke sana perlu uang banyak. 

12.1.17

Daftar Belanja Kebutuhan Bayi

Tiga tahun yang lalu ketika mempersiapkan kelahiran Ru saya menghabiskan banyak waktu membaca berbagai blog untuk membuat daftar belanja kebutuhan bayi. Saat itu keponakan saya baru berusia tiga tahun tapi kakak saya sudah lupa ketika saya tanya barang apa saja yang sebaiknya saya beli.

Saat itu saya lumayan bingung karena pengennya beli semua benda yang ada tapi apa daya dana terbatas. Untuk itu sekarang saya membuat daftar belanja kebutuhan bayi berdasarkan pengalaman saya. Semoga daftar ini bisa membantu para calon ibu yang sedang bingung. Untuk versi kedua sengaja saya tuliskan jumlahnya sebagai referensi.

Silahkan disimpan di handphone atau bisa juga di-print di kertas A4.

10.1.17

Belanja Oleh-oleh di Insadong, Seoul, Korea


Setelah melihat-lihat Gyeongbokgung Palace saya dan keluarga kemudian berjalan kaki ke daerah Insadong. Hanya perlu kira-kira tujuh menit berjalan kaki dari istana Gyeongbokgung ke sana. Insadong ini merupakan tempat belanja yang terkenal dengan barang-barang tradisional Korea.

Saya sebenarnya tidak terlalu antusias karena saya tidak berencana membeli banyak oleh-oleh barang khas Korea ataupun membeli untuk diri sendiri. Kenyataannya tempat belanja yang satu ini jauh di atas ekspektasi saya. Bukan hanya menjual barang-barang tradisional tapi juga barang berdesain modern dengan tema kebudayaan Korea. Sukaaa.

8.1.17

Gyeongbokgung Palace, Seoul, Korea

15 Juli 2016
Tidak seperti kemarin, hari ini kami tidak menyewa bus dan berencana untuk berkeliling kota Seoul menggunakan subway. Kami tidak membeli tiket subway khusus karena lebih murah beli biasa bila hanya satu hari.

Mengikuti itinerary yang telah dibuat tempat pertama yang akan kami kunjungi adalah Gyeongbokgung Palace. Istana ini adalah yang terbesar dan (katanya) paling bagus dari lima komplek istana yang ada di kota Seoul.

6.1.17

Weekend: DoubleTree By Hilton Hotel, Jakarta

Libur natal kemarin saya dan keluarga menginap di DoubleTree by Hilton Hotel, Cikini, Jakarta. Sebenarnya budget liburan jauh kami sudah habis dan Bi, suami saya, gamau nyetir macet-macet. Jadilah kami memilih mencari suasana baru di hotel sekitaran Jakarta saja. Toh menginap di hotel pasti lebih murah daripada biaya akomodasi ke luar kota.

Sejak punya anak kriteria hotel untuk kami adalah yang ramah anak. Bagi yang belum punya anak, percaya deh tempat yang gak ramah anak itu sangat melelahkan untuk orang tua yang anaknya tergolong aktif. Jadi harus kejar sana sini karena ga boleh ini itu.


3.1.17

Merayakan Tahun Baru 2017


Di balkon lantai 29 di hotel kawasan Ancol, Saya, Bi, dan Ru - suami dan anak saya, menyaksikan matahari terbenam terakhir di tahun 2016.

Kami berada di sana karena eyang uti saya, seperti yang pernah saya ceritakan di sini, ingin melihat pesta kembang api.