11.7.15

Review Clodi (Cloth Diaper)

Salah satu barang bayi yang membuat saya menghabiskan waktu lama untuk pilih-pilih adalah cloth diaper (clodi). Lama karena model dan merek nya banyak sekali. Harganya pun macem-macem. Waktu itu untungnya saya punya waktu untuk bacain review ibu-ibu lainnya. Sekarang saatnya membalas budi dengan nambahin review clodi dari pengalaman saya 15 bulan ini.

Jadi, seperti yang pernah saya ceritain di sini, saya beli bermacam-macam clodi. Konon katanya, sebaiknya jangan beli satu merek saja karena belum tentu pas di anaknya. Sayang kan kalau semuanya jadi ga pas. Saya pun mengikuti saran tersebut.

CLODI LOKAL

Pempem  -- Saya kurang suka, karena cepat pesing dan entah kenapa suka disemutin. Dari semua clodi cuma ini aja yang sering disemutin.

GG -- Saya suka-suka aja sama GG. Cuma gatau perasaan saya atau apa, Clodi lokal lebih cepat pesing dibanding clodi impor Amerika. Tapi ya ada harga ada barang kan.

Cluebebe -- Sama seperti GG. So far so good. 

Enphilia -- Cuma punya yang mini. Kurang oke sih, karena insertnya cuma ditaro gitu aja. Tapi ya berbanding lurus sama harganya.

Nvme -- Di Ru kadang suka bocor. Tapi covernya bisa digabung dengan prefold. Lumayan ekonomis.

Rekomendasi saya: GG dan Cluebebe. Untuk diaper cover Nvme ok.




CLODI IMPOR - CINA

Momoko -- Saya beli yang sistem snap. Snapnya kebanyakan jadi Ru suka ga sabar pas dipakein. Tapi untuk daya serapnya cukup oke.

Sobi Minky -- Clodi yang saya paling ga suka. Insertnya bulky dan keringnya paling lama dibanding clodi lainnya.

Rekomendasi saya: Ga perlu lah beli yang produksi cina. Kualitasnya mirip sama yang lokal. Mending beli lokal aja, lebih ekonomis.  


CLODI IMPOR - AMERIKA

Charlie Banana -- Favorit saya. Kelihatannya lebih simpel karena untuk untuk memperkecil ukurannya ada di bagian dalam. Jadi ga terlalu banyak snap yang bikin pusing si mbak.

Rumparooz -- Saya belinya yang bamboo jadinya bulky sekali. Daya serapnya si oke.

Fuzzibuns -- Suka juga karena sistem pengaturan sizenya ada di dalam, seperti Charlie Banana.

Bumgenius -- Daya serapnya se oke clodi impor asal amerika lainnya. Pilihan warnanya lucu-lucu.

Flip  -- Tidak mengecewakan seperti Clodi asal Amerika lainnya. Covernya juga bisa dipakai dengan prefold.

Blueberry -- Karena air di rumah saya bikin semua kain jadi kaku, Blueberry jadi investasi yang kurang tepat. Harganya terlalu mahal tapi daya serapnya berkurang jauh karena kualitas air di rumah saya.

Rekomendasi saya: Charlie Banana, Fuzzibuns, Flip. Lebih ekonomis dibanding yang lain. 




Moral

- Kalau mau ekonomis beli yang lokal aja. Cuma harus rajin gantiin popok. Kalau punya uang lebih beli yang impor dari Amerika.

- Untuk Blueberry dan Rumparooz insert bamboo harusnya daya serapnya tinggi jadi bisa dipakai semaleman. Tapi pastikan dulu kalau air di rumah oke. Kalau airnya bisa bikin handuk jadi kaku, sebaiknya jangan beli clodi dengan harga semahal Blueberry dan Rumparooz.

- Kelemahan clodi beda-beda semua adalah susah ngejelasin cara pakainya ke mbak yang jaga. Jadi kalau untuk ibu bekerja mungkin pertimbangkan untuk ga beli terlalu banyak merek dan model berbeda.

- Model snap sungguh membuat bingung mbak dan lama makeinnya. Model velcro lebih ga awet katanya tapi lebih mudah dalam pemakaian. Jadi terserah Anda.

9.7.15

Weekend: Taman Safari & R Hotel, Rancamaya

Saya dan Bi, suami saya,  lagi diserang virus jenuh dan butuh liburan. Tapi ga mau mahal-mahal, yang berarti ga jauh-jauh. Tadinya pengen ke Anyer, tapi hotelnya penuh. Maklum, kami super dadakan, baru mau booking hotel H-1. Saya emang paling suka yang spontan kalau tentang jalan-jalan.

Jadi kami memutuskan untuk ke taman safari aja. Toh, Ru juga udah ngerti liat binatang pas diajak ke Ragunan.

Bi pengen nginep. Katanya biar ga terlalu capek dan dapet suasana yang beda. Akhirnya kami booking R Hotel di Rancamaya. Hotelnya baru buka tahun 2014. Lumayan, dapet kamar di bawah 1 juta karena diskon.

Taman Safari
Sabtu pagi kami berangkat menuju Safari. Jalanan lumayan padat jadi baru sampai jam 11-an. Walaupun ditulisannya anak di atas 1 tahun bayar, Ru (13 bulan) masih gratis. Alhamdulillah, karena tiketnya lumayan mahal.

Ru seneng banget bisa liat binatang dari deket. Dia bahkan berusaha keluar mobil. Hehehe.




Setelah keliling naik mobil kami sampai di area bermain. Sudah jam makan siang. Karena Ru paling ga mau makanan yang beda sama orang tuanya, jadilah dia ikut makan di foodcourt. Rasanya biasa aja. Harganya lebih mahal dari rasanya.

Dari semua tempat di sini, favorit Ru tempat burung. Dia emang suka banget burung karena tetangga samping rumah melihara burung.


Intinya kita keliling-keliling dan ga banyak main. Susah bawa anak satu tahun. paling main sepeda air. Juga ga nonton show-nya, soalnya Ru belum ngerti sepertinya.

Jam 4an kami pulang dan bergerak menuju Rancamaya. Sayangnya macet. Keluar Safari menuju jalan raya puncak berhenti. Padahal menurut jadwal, sedang diberlakukan satu arah ke bawah. Lumayan lama juga tuh kita berhasil lewat kemacetan dan sampai jalan raya puncak.

Cimory Riverside
Menurut baca-baca di internet hotel R Rancamaya lumayan jauh dari mana-mana, jadi kami mau makan dulu. Supaya di hotel tinggal istirahat.

Akhirnya kami berhenti di Cimory Riverside. Selain karena lewat, saya belum pernah makan di sana sebelumnya. Pernahnya Cimory Mountain View.

Hari itu restaurannya cukup ramai. Walau ga sampai waiting list sih. Pemandangan ke sungainya lumayan menarik. Dari segi pemandangan Cimory Riverside lebih bagus dari yang mountain view. Untuk makanan sama saja rasanya.

R Hotel Rancamaya
Setelah melewati beberapa titik kemacetan. akhirnya sampai juga di R hotel. Yeii! Hotelnya terlihat bagus.


Karena sudah gelap agendanya cuma istirahat. Sayang juga sih sebenernya baru dateng malem. Ru aja sudah bobo sejak di mobil.

Subuhnya, sebelum Ru bangun, saya dan Bi menikmati pemandangan dari balkon. Bagus deh. Momen sepi gini cuma sebentar adanya. Begitu Ru bangun dia langsung sibuk mondar-mandir.

"Kita ke bawah dulu ya.. Ru ngelempar sandalnya dari balkon ke kolam renang bawah!" Teriak Bi saat saya sedang mandi. Padahal kamar kami di lantai 6. Untung sandalnya ga nyangkut dan jatuh ke kolam, jadi bisa diambil. Hehe dasar Ru.

Sebelum jalan-jalan, kami sarapan dulu. Beda sama hotel pada umumnya, di sini breakfast-nya bisa untuk 2 dewasa dan 2 anak-anak. Dari segi rasa, makanannya biasa aja.

Setelah perut kenyang kami pun jalan-jalan. Di halaman hotel ada kandang rusa dan angsa. Rusanya bisa dikasih makan. Tapi harus bawa sendiri makanannya, ga ada yang jual kaya di Safari. Bi sih cuma nyabut rumput deket kandang terus dikasih. Ru ikut-ikut tapi rusanya gamau, apa ga liat ya. Hehe kasian Ru ga laku.



R hotel juga punya children club. Tempat main anak-anak ini gratis. Ru cukup senang main di sini.



Walaupun bawa baju renang kami ga berenang. Males harus mandi lagi. udaranya ga terlalu dingin sebenernya. Jadi memungkinkan banget kalau mau berenang. Padahal kolam renangnya terlihat cantik menempel dengan bangunan hotel. Lain kali ya kolam renang.

Ga terasa sudah mau jam 12. Saatnya check out. Aaa.. Cepet amat sih waktu berlalu.

Makaroni Panggang, Bogor

Sebelum kembali ke Jakarta, kami mampir Bogor dulu. Mau makan siang. Berhubung kami ga tau-tau amat Bogor dan males browsing, makannya di tempat standar, Makaroni Panggang.

Rasanya ga seenak dulu deh perasaan. Kaya ada manis-manisnya gitu. Intinya saya kurang suka. Tapi cukup bikin perut kenyang.

Sudah hampir sore. Saatnya pulang dan kembali ke realita. Terima kasih Tuhan atas liburannya!

Moral
- Dua kali saya ke Safari pulangnya selalu macet,  jadi siap-siap aja.

- Menginap di hotel ternyata bisa bikin refresh. :D

- Safari + R hotel bukan kombinasi yang sempurna, karena lokasinya cukup jauh dan macet. Tapi juga bukan kombinasi buruk. 7 dari 10 nilainya.

- Hal favorit di R Hotel: Kamar paling kecil tempat tidurnya twin ukuran queen. Pas banget untuk keluarga. Luaas.