16.10.15

Jalan-jalan ke Hong Kong dengan Manula, Balita, dan Batita (HK Special, Part 1)

Libur lebaran kemarin saya dan keluarga besar pergi ke Hong Kong. Ini kali kedua saya dan Bi ke sana. Sebelumnya saya pernah cerita di sini. Perbedaan besarnya adalah kalau tiga tahun lalu saya pergi berdua saja, kali ini pergi ber-23. Banyak ya. Termasuk di dalamnya Eyang Uti (80 tahun lebih), Freya si ponakan (4 tahun), dan Ru (15 bulan).

Walaupun ramai-ramai perjalanan ini semi-backpacker dan tanpa agen travel. Lumayan ribet sih. Tapi tetap senang. Berikut ini vlog buatan adik saya Lala Djais. Enjoy!



Penerbangan
Ini adalah bagian paling mengecewakan dalam jalan-jalan ini. Saya ga mau cerita detail ah, daripada bikin mood jelek. Intinya menurut pengalaman saya Cathay Pacific sangat sangat ga recommended terutama untuk yang bawa anak di bawah 2 tahun, Lebih mahal dan pelayanannya ga ok sama sekali. Mending cari maskapai lain deh. Saya lumayan kapok sih naik Cathay. 

Kursi Roda dan Stroller
Ini adalah kesulitan kedua. Sesuai sama cerita orang-orang di internet, Hong Kong memang kurang bersahabat untuk pengguna kursi roda dan stroller. Padahal eyang uti harus pakai kursi roda dan Freya juga duduk di stroller. Untungnya Ru masih bisa digendong pake gendongan.

Di sini jarang ada lift di stasiun MTR, banyak tangga-tangga tanpa ramp, dan kotanya berbukit-bukit. Silahkan siapkan otot dan tenaga ekstra untuk yang mendampingi pengguna kursi roda dan anak ber-stroller. Supaya kuat mengangkat mereka naik-turun tangga. Dalam beberapa kasus bisa juga siapkan waktu yang cukup banyak untuk  memilih jalan memutar.


Tiga tahun lalu kami ke sini bulan April. Cuacanya cerah, cuma berdua, dan lagi honeymoon. 
Tahun ini tambah gendongan anak 15 bulan, tas isi perlengkapan si bocah, dan ditemani 
hujan bulan Juli. Lebih ribet iya, tapi kadar senangnya sama kok. 

Foto full-team di Avenue of the Stars

Cerita Jalan-Jalan
Untuk cerita jalan-jalannya menyusul. Sekarang intronya dulu. 



Moral
- Ternyata apa yang saya lihat dan rasakan saat pertama kali ke sini beda banget dengan yang kedua. Transportasi yang oke banget, ternyata sulit sekali untuk pengguna kursi roda. Penduduknya yang biasa-biasa aja ternyata banyak yang tidak ramah dan sabar dengan orang tua berkursi roda. 

- Liburan ke Hong Kong seru buat yang masih muda, banyak tantangan untuk yang bawa anak dan stroller, dan sangat repot untuk yang naik kursi roda.

- Ga perlu terlalu khawatir bawa anak jalan-jalan. Ru senang dan ga rewel sama sekali. :D Padahal saya udah khawatir. 

11.10.15

#Pumping Series: Perlengkapan Memerah ASI di Kantor


Ru sudah 18 bulan. Artinya sudah selama itu juga saya memerah ASI. Pengennya sih cerita komplit tentang tips dan suka duka jadi ibu perah. Tapi karena bakal panjang sekali saya bikin perbagian aja ya. Mari dimulai dengan perlengkapannya dulu.

Selama 14 bulan pumping di kantor, saya pakai sistem trial and eror. Termasuk perlengkapan pumping. Jadi apa yang saya bawa saat Ru 4 bulan dan sekarang lumayan beda. Ini bawaan saya yang terkini.

Btw ini saya sebut merek bukan karena di-endorse.

1. Cool Box / Cool Bag
Awal saya kerja saya bawa cool box karena ga ada kulkas di kantor. Coolbox Rubbermaid beli di ACE Hardware. Cukup tahan selama 12 jam kerja. Biar ga kaya jualan es, coolbox nya saya masukin ke tas kain.

Setelah ada kulkas saya ganti bawa coolbag. Pertama pakai merek Gabag dengan dua kompartmen atas-bawah. Beli di ITC Kuningan. Tapi dalam beberapa bulan talinya putus. Sekain talinya oke banget sih sebenernya tas ini,

Saya lalu ganti jadi coolbag Boogy Baby beli di Suzzana Pondok Indah. Tali nya kuat. Sayangnya, walaupun ada dua kompartmen terpisah, dinginnya bisa masuk ke sisi yang satu. Jadinya pompa elektrik saya agak bermasalah. Jadi  ice block harus cepat-cepat dikeluarkan dari tas saat sampai kantor. Walaupun begitu, sampai sekarang saya masih pakai yang ini.

2. Pompa ASI
Medela Swing Maxi
Favorit saya. Beli di Bilna. Efektif karena sistemnya dual pump. Ditambah jenis ini closed system, artinya ASI yang diperah ga mungkin bisa tersedot ke dalam mesinnya. Kelemahannya adalah kalau ga dicolokin lumayan juga konsumsi baterai AAA nya. Pengennya si Medela Freestyle, tapi harganya sungguh ga bersahabat. Medela Swing Maxi harganya ga murah. Tapi saya anggap investasi aja. Kalau saat pumping saya merasa susah, pasti jadi ga happy dan ASI nya malah ga lancar kan.

Medela Harmony
Ini saya pakai sebelum punya swing maxi. Awal-awal kerja saya bawa untuk pompa saat ada seminar. Karena ga ada bunyinya jadi ga ketahuan kalau saya lagi mompa sambil dengerin training. Tinggal ditutupin dengan apron menyusui aja. Sekarang udah ga pernah dibawa lagi.

3. Botol Medela + Huki BPA free
Saya bawa beberapa botol medela supaya tidak perlu mencuci saat di kantor. Karena jumlahnya kurang, saya suka bawa botol HUKI juga. Ulirnya sama, tapi harganya jauh lebih murah. Lumayan untuk backup. Tapi kualitas ulirnya tentu ga se-oke medela.

4. Botol Kaca
Awalnya saya ga pernah bawa botol kaca. Semua ASIP baru dipindahkan ke botol kaca saat di rumah. Sejak saya ganti coolbag yang ukurannya lebih kecil saya mengurangi jumlah botol plastik medela dan bawa botol kaca supaya muat di tas.

5. Ice Block
Andalan saya adalah ice block Maxcold igloo. Bawa dua sewaktu pakai coolbox dan tas gabag. Tapi di Boogy baby cuma muat satu. Paling suka karena paling ramping dibanding ice block dan ice gel lain yang saya punya (Rubbermaid dan Gabag)

6. Food Container
Ini saya pakai untuk simpen corong yang mau di simpan di kulkas sampai waktu pumping berikutnya. Supaya tidak terkontaminasi benda lain di kulkas kantor.

7. Lainnya (Hand sanitizer, tissue, baterai AAA)

Yang Ga Dibawa Lagi
Dulu sempet bawa barang-barang ini juga. Tapi lama kelamaan dirasa ga perlu dan berat-beratin. Jadi ga pernah bawa lagi deh.

Plastik ASI
Bawa untuk jaga-jaga kalau kurang botol ASI

Apron menyusui
Dibawa kalau terpaksa pumping di ruang terbuka.

Peralatan mencuci (Sleek, sikat botol, termos)
Awal-awal saya bawa. tapi kalau pakai nyuci kapan saya kerjanya. Akhirnya cuma dilap tisuue lalu masukin kulkas. Alhamdulillah Ru ga apa-apa


Moral
- Kalau males mikir harus bawa apa untuk pumping silahkan contek aja daftar di atas.




BACA JUGA : Tempat Memerah ASI di Kantor

29.8.15

Weekend: Novotel, Tangerang

"Nginep di hotel yuk!" ajak Bi, suami saya, ketika tau ada panggung dangdut di depan komplek rumah kami. 

"Ayo!" jawab saya tanpa berpikir lama.

Rumah saya itu letaknya dibagian depan komplek. Nah, warga sekitar suka bikin panggung di jalanan. Kali ini dalam rangka pembagian hadiah lomba 17 Agustusan. Acara dangdutan baru mulai habis magrib dan selesai dini hari. Dari rumah saya itu suaranya sekencang kalau nonton persis di depan panggungnya. Plus, penontonnya pasti nutupin pintu masuk ke komplek yang artinya kalau pergi saya ga bisa masuk lagi atau saya ga bisa kemana-mana. Alasan yang tepat banget kan untuk nginep di hotel.

Bi bilang saya boleh pilih mau nginep dimana. Tentunya dengan persetujuan dia. Saya random aja pilih Novotel Tangerang. Alasannya, harganya lumayan murah dibanding hotel di Jakarta dan ada tempat main anak-anaknya. 

Seperti biasa kita pesen via agoda. Di sana semua kamar Novotel ga ada pilihan breakfast. Bi yakin kalau pasti breakfast include, yang ternyata malah kebalikannya. Semua kamar ga ada breakfast-nya. Jadi kalau plus breakfast jatohnya sama harganya sama Hotel lain di Jakarta.

Spending time with them is priceless
Ketika masuk kamar Ru (16 bulan), senang sekali. Ketawa-ketawa sambil mondar-mandir. Sementara Bi sibuk foto-foto dan merhatiin detail desainnya. Gini nih kalau bawa interior designer spesialis hotel. Saya sih cuma ribut kapan fotonya selesai jadi saya bisa tiduran di kasur. Maklum, saya mah berkutatnya sama produk IKEA jadi jarang harus perhatiin detail.


Desain kamarnya 'rapi' dan dipikirkan dengan baik
Ru the explorer. Desain pintu kamar mandinya beda dengan hotel kebanyakan.
Salah satu keunggulan hotel ini adalah karena nyambung dengan mal Tangcity yang katanya paling gaul se-tangerang. Hehehe. Ga seperti waktu nginep di R Hotel, yang menginap di sini banyak orang asing.

Kekurangannya, pelayanannya ga seramah itu. Plus ada insiden kamar kami ga bisa dibuka dan harus nunggu sekitar satu jam an untuk dibenerin. Lumayan sebel sih, karena Ru udah ngatuk tapi ga bisa masuk kamar.

Besok paginya kami berenang. Yeii! Ini kali keduanya Ru berenang. Pertama kali berenang dia kurang suka. Marah-marah karena harus pakai ban. Kali ini lebih sukses. Ru senang. Walaupun masih takut jadi harus nempel sama papanya.




Sekian acara ngungsi singkat kami. Sampai rumah panggung dangdut sudah ga kelihatan jejaknya. Alhamdulillah. Kapan-kapan nginep di hotel lagi ya.


Moral

- Hotelnya ya lumayan lah. 7 dari 10. Mungkin bisa ditingkatin lagi pelayanannya dan jangan sampe rusak pintu kamarnya.

- Sebenernya kalau untuk liburan keluarga kurang recommended sih, karena Tangerang kotanya kurang cantik. Hehe. Maaf lo warga Tangerang. Tapi kalau untuk sekedar ngungsi lumayan.

11.7.15

Review Clodi (Cloth Diaper)

Salah satu barang bayi yang membuat saya menghabiskan waktu lama untuk pilih-pilih adalah cloth diaper (clodi). Lama karena model dan merek nya banyak sekali. Harganya pun macem-macem. Waktu itu untungnya saya punya waktu untuk bacain review ibu-ibu lainnya. Sekarang saatnya membalas budi dengan nambahin review clodi dari pengalaman saya 15 bulan ini.

Jadi, seperti yang pernah saya ceritain di sini, saya beli bermacam-macam clodi. Konon katanya, sebaiknya jangan beli satu merek saja karena belum tentu pas di anaknya. Sayang kan kalau semuanya jadi ga pas. Saya pun mengikuti saran tersebut.

CLODI LOKAL

Pempem  -- Saya kurang suka, karena cepat pesing dan entah kenapa suka disemutin. Dari semua clodi cuma ini aja yang sering disemutin.

GG -- Saya suka-suka aja sama GG. Cuma gatau perasaan saya atau apa, Clodi lokal lebih cepat pesing dibanding clodi impor Amerika. Tapi ya ada harga ada barang kan.

Cluebebe -- Sama seperti GG. So far so good. 

Enphilia -- Cuma punya yang mini. Kurang oke sih, karena insertnya cuma ditaro gitu aja. Tapi ya berbanding lurus sama harganya.

Nvme -- Di Ru kadang suka bocor. Tapi covernya bisa digabung dengan prefold. Lumayan ekonomis.

Rekomendasi saya: GG dan Cluebebe. Untuk diaper cover Nvme ok.




CLODI IMPOR - CINA

Momoko -- Saya beli yang sistem snap. Snapnya kebanyakan jadi Ru suka ga sabar pas dipakein. Tapi untuk daya serapnya cukup oke.

Sobi Minky -- Clodi yang saya paling ga suka. Insertnya bulky dan keringnya paling lama dibanding clodi lainnya.

Rekomendasi saya: Ga perlu lah beli yang produksi cina. Kualitasnya mirip sama yang lokal. Mending beli lokal aja, lebih ekonomis.  


CLODI IMPOR - AMERIKA

Charlie Banana -- Favorit saya. Kelihatannya lebih simpel karena untuk untuk memperkecil ukurannya ada di bagian dalam. Jadi ga terlalu banyak snap yang bikin pusing si mbak.

Rumparooz -- Saya belinya yang bamboo jadinya bulky sekali. Daya serapnya si oke.

Fuzzibuns -- Suka juga karena sistem pengaturan sizenya ada di dalam, seperti Charlie Banana.

Bumgenius -- Daya serapnya se oke clodi impor asal amerika lainnya. Pilihan warnanya lucu-lucu.

Flip  -- Tidak mengecewakan seperti Clodi asal Amerika lainnya. Covernya juga bisa dipakai dengan prefold.

Blueberry -- Karena air di rumah saya bikin semua kain jadi kaku, Blueberry jadi investasi yang kurang tepat. Harganya terlalu mahal tapi daya serapnya berkurang jauh karena kualitas air di rumah saya.

Rekomendasi saya: Charlie Banana, Fuzzibuns, Flip. Lebih ekonomis dibanding yang lain. 




Moral

- Kalau mau ekonomis beli yang lokal aja. Cuma harus rajin gantiin popok. Kalau punya uang lebih beli yang impor dari Amerika.

- Untuk Blueberry dan Rumparooz insert bamboo harusnya daya serapnya tinggi jadi bisa dipakai semaleman. Tapi pastikan dulu kalau air di rumah oke. Kalau airnya bisa bikin handuk jadi kaku, sebaiknya jangan beli clodi dengan harga semahal Blueberry dan Rumparooz.

- Kelemahan clodi beda-beda semua adalah susah ngejelasin cara pakainya ke mbak yang jaga. Jadi kalau untuk ibu bekerja mungkin pertimbangkan untuk ga beli terlalu banyak merek dan model berbeda.

- Model snap sungguh membuat bingung mbak dan lama makeinnya. Model velcro lebih ga awet katanya tapi lebih mudah dalam pemakaian. Jadi terserah Anda.

9.7.15

Weekend: Taman Safari & R Hotel, Rancamaya

Saya dan Bi, suami saya,  lagi diserang virus jenuh dan butuh liburan. Tapi ga mau mahal-mahal, yang berarti ga jauh-jauh. Tadinya pengen ke Anyer, tapi hotelnya penuh. Maklum, kami super dadakan, baru mau booking hotel H-1. Saya emang paling suka yang spontan kalau tentang jalan-jalan.

Jadi kami memutuskan untuk ke taman safari aja. Toh, Ru juga udah ngerti liat binatang pas diajak ke Ragunan.

Bi pengen nginep. Katanya biar ga terlalu capek dan dapet suasana yang beda. Akhirnya kami booking R Hotel di Rancamaya. Hotelnya baru buka tahun 2014. Lumayan, dapet kamar di bawah 1 juta karena diskon.

Taman Safari
Sabtu pagi kami berangkat menuju Safari. Jalanan lumayan padat jadi baru sampai jam 11-an. Walaupun ditulisannya anak di atas 1 tahun bayar, Ru (13 bulan) masih gratis. Alhamdulillah, karena tiketnya lumayan mahal.

Ru seneng banget bisa liat binatang dari deket. Dia bahkan berusaha keluar mobil. Hehehe.




Setelah keliling naik mobil kami sampai di area bermain. Sudah jam makan siang. Karena Ru paling ga mau makanan yang beda sama orang tuanya, jadilah dia ikut makan di foodcourt. Rasanya biasa aja. Harganya lebih mahal dari rasanya.

Dari semua tempat di sini, favorit Ru tempat burung. Dia emang suka banget burung karena tetangga samping rumah melihara burung.


Intinya kita keliling-keliling dan ga banyak main. Susah bawa anak satu tahun. paling main sepeda air. Juga ga nonton show-nya, soalnya Ru belum ngerti sepertinya.

Jam 4an kami pulang dan bergerak menuju Rancamaya. Sayangnya macet. Keluar Safari menuju jalan raya puncak berhenti. Padahal menurut jadwal, sedang diberlakukan satu arah ke bawah. Lumayan lama juga tuh kita berhasil lewat kemacetan dan sampai jalan raya puncak.

Cimory Riverside
Menurut baca-baca di internet hotel R Rancamaya lumayan jauh dari mana-mana, jadi kami mau makan dulu. Supaya di hotel tinggal istirahat.

Akhirnya kami berhenti di Cimory Riverside. Selain karena lewat, saya belum pernah makan di sana sebelumnya. Pernahnya Cimory Mountain View.

Hari itu restaurannya cukup ramai. Walau ga sampai waiting list sih. Pemandangan ke sungainya lumayan menarik. Dari segi pemandangan Cimory Riverside lebih bagus dari yang mountain view. Untuk makanan sama saja rasanya.

R Hotel Rancamaya
Setelah melewati beberapa titik kemacetan. akhirnya sampai juga di R hotel. Yeii! Hotelnya terlihat bagus.


Karena sudah gelap agendanya cuma istirahat. Sayang juga sih sebenernya baru dateng malem. Ru aja sudah bobo sejak di mobil.

Subuhnya, sebelum Ru bangun, saya dan Bi menikmati pemandangan dari balkon. Bagus deh. Momen sepi gini cuma sebentar adanya. Begitu Ru bangun dia langsung sibuk mondar-mandir.

"Kita ke bawah dulu ya.. Ru ngelempar sandalnya dari balkon ke kolam renang bawah!" Teriak Bi saat saya sedang mandi. Padahal kamar kami di lantai 6. Untung sandalnya ga nyangkut dan jatuh ke kolam, jadi bisa diambil. Hehe dasar Ru.

Sebelum jalan-jalan, kami sarapan dulu. Beda sama hotel pada umumnya, di sini breakfast-nya bisa untuk 2 dewasa dan 2 anak-anak. Dari segi rasa, makanannya biasa aja.

Setelah perut kenyang kami pun jalan-jalan. Di halaman hotel ada kandang rusa dan angsa. Rusanya bisa dikasih makan. Tapi harus bawa sendiri makanannya, ga ada yang jual kaya di Safari. Bi sih cuma nyabut rumput deket kandang terus dikasih. Ru ikut-ikut tapi rusanya gamau, apa ga liat ya. Hehe kasian Ru ga laku.



R hotel juga punya children club. Tempat main anak-anak ini gratis. Ru cukup senang main di sini.



Walaupun bawa baju renang kami ga berenang. Males harus mandi lagi. udaranya ga terlalu dingin sebenernya. Jadi memungkinkan banget kalau mau berenang. Padahal kolam renangnya terlihat cantik menempel dengan bangunan hotel. Lain kali ya kolam renang.

Ga terasa sudah mau jam 12. Saatnya check out. Aaa.. Cepet amat sih waktu berlalu.

Makaroni Panggang, Bogor

Sebelum kembali ke Jakarta, kami mampir Bogor dulu. Mau makan siang. Berhubung kami ga tau-tau amat Bogor dan males browsing, makannya di tempat standar, Makaroni Panggang.

Rasanya ga seenak dulu deh perasaan. Kaya ada manis-manisnya gitu. Intinya saya kurang suka. Tapi cukup bikin perut kenyang.

Sudah hampir sore. Saatnya pulang dan kembali ke realita. Terima kasih Tuhan atas liburannya!

Moral
- Dua kali saya ke Safari pulangnya selalu macet,  jadi siap-siap aja.

- Menginap di hotel ternyata bisa bikin refresh. :D

- Safari + R hotel bukan kombinasi yang sempurna, karena lokasinya cukup jauh dan macet. Tapi juga bukan kombinasi buruk. 7 dari 10 nilainya.

- Hal favorit di R Hotel: Kamar paling kecil tempat tidurnya twin ukuran queen. Pas banget untuk keluarga. Luaas.

18.6.15

Weekend Klasik: Ragunan & Ancol

Jadi ya, sejak punya anak gaya hidup saya berubah cukup banyak. Dari yang ga pernah masak jadi masak tiap hari. Dari yang hobinya nonton Running Man dan drama korea jadi lebih sering nonton baby tv dan acara bayi lainnya di youtube. Acara jalan-jalan juga ikutan berubah.

Sejak Ru bisa jalan cukup lancar (13 bulan) pilhan tempat wisata langsung bertambah. Plus sekarang dia juga udah ngerti macem-macem. Yeiii, saatnya jalan-jalan. Sebagai pemanasan, saya dan Bi ga mau pergi yang jauh-jauh dulu. Repot. Jadilah weekend kami tujuannya klasik: Ragunan dan Ancol.

Ragunan
Ini sih deket rumah. Jadi niatnya kasih liat Ru binatang sekalian jalan pagi. Biar agak rame kami ngajak mama, papa, dan Freya, sepupunya Ru.

Ragunan ya gitu aja kan dari dulu. Tiket masuknya murah meriah, dalemnya biasa, dan lumayan ramai. Positifnya, banyak pohon dan ada area-area sepi untuk menghirup udara segar.

Sampai sekarang Ru udah dua kali ke Ragunan. Dia senang lihat gajah, rusa, dan zebra. Sayangnya jerapah udah ga ada, kayaknya mati deh.




Ancol
Saatnya mengajak Ru main pasir dan liat laut. Jalan-jalan yang ini terinspirasi teman kantor saya Shanda dan kakak Saya. Mereka sama-sama bawa anaknya main di pantai Ancol. Ayo lah saya juga ikutan.

Jam 6 pagi kami berangkat dari rumah supaya belum ramai. Tujuannya ke pantai pasir putih belakang Ancol Mall. Sampai sana sejam kemudian. Ga terlalu ramai. Ru senang sekali. Dia langsung teriak-teriak ketawa-tawa pas ketika sampai. Hihihihi.

Awalnya saya ga ngebolehin main air. Soalnya laut Ancol kan polusi. Tapi tanpa izin saya, Bi dan Ru jadinya main air karena Ru rewel pengen main sekop pasir punya anak-anak lain, jadi dialihkan dengan main air. Wih, senengnya juga luar biasa. 




Sebelum pulang Ru bilas badan dulu di tempat bilas persis belakang toilet.Tempat bilasnya tersembunyi dan ga ada tulisan apapun. 

Oiya, pantai pasir putihnya lagi digedein lo. 

Lain waktu ke pantai beneran ya Ru.


Moral
- Ragunan dan Ancol ga menarik sih untuk saya, tapi ternyata Ru senang sekali. Ga perlu mahal ternyata bikin senang Anak.

- Punya anak tuh live changing situation banget saudara-saudara.

23.5.15

Interview Kerja Saat Hamil

Kejadian ini sebenernya sudah hampir dua tahun yang lalu. Waktu itu saya janji sama diri sendiri buat nulis di blog, tapi ya dasarnya saya suka sok sibuk, baru sekarang deh sempet nulis.

Jadi, waktu itu saya pernah cerita di sini kan tentang pengen kerja di perusahan furnitur yang hobinya bagi-bagi katalog itu. Nah, kebetulan untuk pertama kali tokonya mau buka di Indonesia. Saya pun ngelamar. Ga ada kabar, yang ada malah kabar baik kalau saya hamil. Tiba-tiba saya dipanggil interview. Deng deng, gimana nih, emang mereka mau ya nerima ibu hamil, pikir saya.

Kebetulan salah satu sahabat saya, waktu itu mulai kerja saat baru hamil. Saya pun nanya apa dia ngaku sedang hamil saat interview. Sebenernya perusahaan ga boleh ga nerima karyawan karena hamil, tapi ya siapa yang tau kan. Temen saya lalu bilang dia baru tau hamil setelah diterima. Lagipula sebelumnya udah diinfokan kalau hamil sebelum satu tahun kerja cuti melahirkan dianggap unpaid leave.

Lah dia curang udah diterima. Hehehe. Galau tuh saya waktu itu tentang bilang atau ngga nya. Akhirnya saya datang interview. Lalu dijelaskan kalau kerjaannya pakai fisik, jadilah saya bilang kalau saya sedang hamil. Pasrah aja sih waktu itu.

Alhamdulillah saya dipanggil lagi untuk interview berikutnya. Mereka pun bilang bahwa sebenarnya ga mungkin saya kerja saat hamil. Tapi kalau saya sudah melahirkan dan ternyata masih ada lowongan, ga menutup kemungkinan untuk bergabung. Singkat cerita saya diterima kerja dan masuk kerja setelah melahirkan. Jadi saya interview bulan oktober dan baru masuk bulan agustus tahun depannya. Lama banget ya.

Moral
Saya cuma pengen share ini untuk para bumil diluar sana yang kali-kali aja lagi dipanggil interview kerja supaya jangan berkecil hati. Setiap anak pasti punya rezeki nya masing-masing. Entah rezeki mamanya punya penghasilan atau rezeki bisa diurus mamanya sepanjang hari. *Tumben ya moralnya serius gini*

8.3.15

A Glimpse of My Current Life

I miss writing. That is how i feel lately. It is ironic, when you have zillions things to do and million stories about it, you don't have enough time to write. But when you have nothing to do and want to write, you have no idea what to tell.

Nowadays, I am still struggling with working-mother things. I need to cook for baby Ru and monitor what he did on daily basis but I also have a busy work in my workplace. Oh, and I am craving for some me time. Being perfect is not an option. I run out energy everyday. I even missed some dinner because I was too tired and slept instantly when I touched my bed.

Sometimes, I have no idea how other working mom survive. For me, these past 6 months was like a roller coaster. It was fun but tiring. Some days were so tough I wanted to give up. Some days nice and manageable.

One thing to keep in mind, from one of my favorite song in high school, 'but don't forget enjoy the ride' :)


My mind are full with these two. 



Tips and Conclusion 

-Being mother is one of the hardest job ever. Thank you mommy and daddy for raising
me.