25.7.13

Perlukah Desainer Interior untuk Rumah

"Kenapa si orang perlu pakai desainer interior untuk rumahnya?" tanya seorang teman SMA saya yang akan pindah rumah. Dia bukan tanya ini untuk menguji pengetahuan saya tentunya, hehe, tapi karena merasa kalau dia tidak butuh desainer interior.

Sebenarnya saya kurang ingat juga waktu itu saya jawab apa. Sepertinya tidak cukup meyakinkan untuk membuat teman saya itu berubah pikiran. Karena menjelaskan secara lisan kurang efektif, kali ini saya coba jawab versi tulisan ya. Siapa tau ada juga yang punya pertanyaan yang sama. Jawabannya lumayan panjang karena susah kalau harus dijelaskan dalam satu kalimat.

Desain vs Dekorasi
Dosen saya waktu kuliah dulu paling tidak suka kalau orang menganggap desainer dan dekorator itu pekerjaan yang sama. "Kita itu desainer bukan dekorator," sering kali dia bilang begitu.

Lah, apa bedanya? Jadi begini sodara-sodara, desain itu artinya pemecahan masalah, sementara dekorasi itu mempercantik sesuatu. Intinya desain mengakomodasi kebutuhan seseorang dan dekorasi itu masalah selera.

Misalnya, seorang wanita bernama A baru beli rumah, masih kosong dan perlu diisi. Kalau dia minta tolong seorang dekorator (di Indonesia sebenernya ga ada dekorator untuk rumah), si dekorator itu akan berusaha membuat rumahnya cantik. Misalnya dengan memilihkan warna, bentuk furnitur, dan pola-pola yang terkini. Mirip kerjaan fashion stylist, tapi dalam bentuk tiga dimensi.

Sementara, kalau si A minta tolong desainer, maka si desainer (yang bener ya) akan ngobrol panjang lebar dulu sama A untuk tau gaya hidupnya, kebutuhannya, hobinya, dan lain-lain. Tugas utama desainer adalah membuat rumah si A ini sesuai dengan apa yang dibutuhkannya. Misalnya si A bajunya banyak, maka desainer akan membuat lemari pakaian yang besar, atau si A males bersih-bersih, maka si desainer akan memilihkan material yang mudah dibersihkan. Kalau misalnya rumahnya awalnya terlihat bagus, tapi setelah ditinggalin jadi berantakan karena kurangnya tempat penyimpanan, berarti itu salah desainernya.

Nah gitu bedanya, moga-moga ngerti ya. Btw, kalau dalam prakteknya batesnya si samar ya antara dua hal ini.

Fungsi Desainer Interior
Intinya, kenapa orang perlu desainer interior adalah agar rumahnya mampu memfasilitasi semua kebutuhannya plus terlihat bagus. Desainer interior itu sebenarnya sangat bermanfaat untuk mengatur ruang-ruang yang kecil, karena si desainer akan memberikan solusi terbaik supaya seluruh kebutuhan penghuni terakomodasi, yang kadang ga kepikiran sama pemiliknya. (hehehe, berasa lagi nulis tugas kuliah nih)

Kalau saya si menganggap interior rumah itu sangat penting, karena kalau rumahnya berantakan dan ga tertata saya jadi pusing sendiri dan mood-nya jadi ga oke.

Desain itu bisa mempengaruhi perilaku orang juga. Dulu, di rumah mama saya, yang bikin desain tempat cuci piring itu pak tukang, saya benciiii banget sama yang namanya cuci piring. Nah, setelah saya pindah rumah, dan kali ini dapurnya didesain sama si Bi (suami saya yang interior desainer), saya suka-suka aja tuh nyuci piring. Sebenarnya alasannya simpel, di rumah mama sink-nya terlalu rendah dan tempat meletakkan piringnya di atas sink, jadi saya selalu basah tiap abis cuci piring. Di tempat tinggal yang sekarang tinggi sink-nya sesuai standar dan piringnya diletakkan di samping, jadi saya ga basah dan jadi lebih rajin cuci piring.

Perbedaannya sama Arsitek
Desainer interior lebih detail. Arsitek tentunya lebih berperan dalam nentuin flow di rumah itu, pencahayaan, dan sirkulasi udara. Kalau arsiteknya oke dan penghuni rumahnya cerdas dan artistik, sebenarnya ga perlu desainer interior. Tapi kadang, kalau beli rumah jadi, arsiteknya berpikirnya secara general, belum tentu cocok sama penghuninya. Atau sering juga rumahnya udah bagus-bagus dibuat arsitek, eh penempatan dan ukuran furniturnya kacau. Ini sih yang paling sayang.

Hayo tebak, yang mana yang desain saya dan yang mana yang desainnya si Bi? 

Hehehe, tulisannya panjang banget ya kayak kereta. Tapi moga-moga-moga ada manfaatnya. Kalau menurut kalian gimana hey teman-teman interior ku?

MORAL

- Perlukah desainer interior untuk rumah? Perlu dan ga perlu, tergantung kaya apa pemilik rumahnya.

- Desain dan dekorasi itu beda.

- Sini-sini yang merasa butuh, mau didesain-in? Hehehehe, becanda kok ini.

(Jawaban : kiri saya, kanan Bi)

22.7.13

Akhir Pekan: Bersepeda di Kota Tua

Nulis bahasa inggrisnya istirahat dulu ya. Lagi ga pengen mikir.

Jadi beberapa minggu yang lalu, saya dan Bi si suami jalan-jalan ke kota tua. Soalnya lagi bosen sama yang namanya mal. Dari tempat tinggal kami ke kota lumayan mudah, setengah jam saja dengan kereta.

Setelah jalan-jalan di Museum Bank Mandiri dan Museum  Bank Indonesia, saya dan Bi pergi ke Museum Fatahillah. Nah, di depannya ada banyak sepeda ontel yang disewakan beserta properti topi belanda. Hmm, tertarik, tapi masih agak panas. Sambil menunggu matahari mulai turun, kami jalan-jalan dulu di dalam museum.


"Berapa bang?" tanya si Bi setelah kami keluar dari museum.
"Kalau keliling-keling di lapangan sini aja setengah jam 15 ribu, kalau ke luar sepuasnya 40 ribu,"
"Boleh satu sepeda berdua apa harus satu-satu?" tanya saya
"Boleh neng goncengan"

Kami pun memutuskan untuk sewa satu sepeda keluar lapangan Fatahillah, rutenya : Toko merah - Jembatan Kota Intan - Museum Bahari - Pelabuhan Sunda Kelapa. Kita ga pake guide karena kata bapaknya tempatnya deket-deket plus ga tau juga kalo pake guide harus ngasih berapa lagi. haha.

Satu kata tentang jalan-jalan naik sepeda di rute itu : NGERI. Gimana ga serem, pertama karena ga ada jalur sepeda -- jadi naik sepedanya di jalan raya yang ramai, kedua, sepedanya ga punya kaca spion, dan ketiga jalanannya bukan jalan biasa yang isinya kebanyakan mobil tapi jalanan penuh truk, tronton, dan truk molen. Hiiii... Untung boncengan, kalo saya naik sendiri mah langsung puter balik ga jadi.

Tentunya kami ga lupa foto-foto, bukti kalau berhasil naik sepeda dengan tingkat kesulitan maksimum. 





Dua manusia kucel, setelah naik sepeda lumayan lama

Moral

- Kalau yang masih sayang sama nyawa mendingan ga usah naik sepeda keliling daerah kota tua. Kecuali kalau nanti pak Jokowi dan Ahok bikin jalan khusus sepeda yang aman. Tapi, kalau emang suka yang menantang maut monggo dicoba.

- Kalau penasaran banget pengen coba mungkin bisa pake guide, walaupun saya ga jamin guidenya bisa melindungi kalian dari truk-truk yang ukurannya 10x ukuran badannya. Hehe.

- Walaupun semua moralnya kesannya negatif, tapi saya sebenernya seneng-seneng aja kok jalan-jalan kali ini. Hehe. Walaupun ga mau lagi, tapi pengalaman pertama emang selalu seru kan. ;)