17.5.13

#6. Samosir Island - The Old Village

(My Travel Series)
August 2010
Day 2

I have been preoccupied with a lot of things lately and forget to continue my travel stories here. To refresh your memory this is my last post about my North Sumatra Trip and here the beginning of the story if you haven't read it yet. 

***

One of the places you have to visit in Samosir island is the old village. My family and I went there by a car. You supposed to pay some money to enter this place, but we didn't have to because my mom's friend is a local people and she had some contribution to this place.

Just like the name, this place is an outdoor museum about traditional village from the old days. There were eight different types of architecture from common people's houses to king's graves. In this place, according to the information board, there are Batak traditional dances which performed every day. Sadly, when we were here, we did not see the performance. Here the complete list of what you can see in the old village.


We did not meet anybody when we explored this area, not even a tourist guide. My Sister went inside the house and even climbed to the second floor of the house to play some percussion instrument which I did not know the name. I was not sure she was allowed to play it, but there were no 'don't touch' sign either.

The rice pounding houses.


Happy and sad totem expression.


The house of wooden puppet. The instrument up there is the one that my sister played.


The King's Grave. 


We finished exploring this place in about an hour and went back to the car. Then, we went around the island to have a quick look. Surprisingly, we saw many foreigner here, mostly walking down the street. Also, there were many hostels with free wi fi.

Time to get back to the main island. We went back to Tomok and took ferry to cross over . Bye bye Samosir! See you next time..

Tips and Conclusion.

- It is better to visit the old village with tourist guide because it was lacked of written information. It would be very interesting to hear the story about how people you used to life there and some folk tales. (Note for the museum manager: Adding some guides like the one in Ullen Sentalu, Jogjakarta would be perfect.)

- Samosir is a perfect place for people who love history and looking for serenity.

- There are many accommodation in the island if you want to stay here more than one day.

- I personally think when you visit north Sumatera, go to Samosir is a must.


*photos by Lala, edited by me


Next      >> #7. Lake Toba - Fish Farm
Previous >> #5. Samosir Island - Tomb of Sidabutar Kings and Sigale-gale

1.5.13

Negeri Dongeng Belanda

{This post along with two previous posts are specially written for Kompetiblog 2013. It might be different from my usual posts}


Saya tersenyum ketika pertama kali membaca sebuah artikel di Internet yang berjudul Living in a Dutch Fantasy Land..” Sang penulis James D Schwarts bercerita tentang hal-hal menyenangkan yang dijumpainya di Belanda, mulai dari penduduk yang murah senyum, jalur khusus sepeda dimana-mana, dan pengendara mobil yang berhati-hati terhadap para pengendara sepeda.

“Instead of horns, I hear bells. Instead of exhaust fumes, I’m breathing in fresh, clean air – and when I arrive at my destination, there are thousands of bicycle parking spaces – mostly full, “ tulisnya.

“Just like a maximum performance carbon fiber racing bicycle can make you push yourself harder, a Dutch-style bike can help you relax a little bit.”

Saya sungguh iri, tampaknya menyenangkan bisa menggunakan sepeda sebagai transportasi sehari-hari dan bukan hanya untuk olah raga atau rekreasi.

Sepeda digunakan untuk pergi bekerja, sekolah, berbelanja, dan segala keperluan lain.

Bahan baku andalan Belanda sebenarnya hanya satu, infrastruktur bersepeda. Dengan desain yang baik, para pengendera sepeda merasa aman, nyaman, sehat, hemat, dan bisa cepat sampai ke tujuan. Inilah kisah bagaimana Belanda mendapatkan jalur sepeda mereka.


Pahlawan Negeri Dongeng Belanda
Alkisah, paska perang dunia ke dua, Belanda semakin maju. Jalan-jalan diperluas untuk menampung jumlah mobil yang meningkat tajam. Jalanan menjadi tidak bersahabat. Ratusan anak meninggal dunia akibat tertabrak mobil.

Awal tahun 1970an, muncullah jagoan pertama Belanda, organisasi Stop the Child Murderer. Organisasi ini menuntut pemerintah untuk menciptakan jalanan yang lebih aman.

Salah satu unjuk rasa Stop the Child Murderer.
(sumber: Icc)

Di saat yang sama, seorang pionir dalam bidang transportasi, Joost Vahl menciptakan Woonerf, desain jalan yang terbagi-bagi untuk pejalan kaki, sepeda, dan kendaraan bermotor. 

Organisasi Stop the Child Murderer kemudian menggandeng Steven Schepel, yang sebelumnya bekerja untuk Joost Vahl. Schepel kemudian diangkat menjadi ketua organisasi tersebut dan membawa pembagian jalan sebagai solusi. “One of the important things was that came with feasible ideas. We not only made noise at the right moment, but we demonstrated that it would possible to make streets better places,” ujarnya.

Demonstrasi besar-besaran terus dilakukan dan akhirnya berhasil didengar oleh pemerintah Belanda. Desain jalan pun kemudian diubah.

Demo pembuatan jalur sepeda di Amsterdam, 1980.
(sumber: bicycle dutch)

Desain Impian
Jalur sepeda di Belanda berhasil dibuat di penjuru negeri. Desain perempatan jalan juga ikut berubah. Seperti sihir, perempatan jalan kini menjadi aman untuk para pengendara sepeda. Desain terebut menjadi pelopor yang kini ingin diikuti oleh berbagai negeri lainnya.   

Tipikal desain jalan di Belanda.
(sumber: altaplanning)

Desain perempatan yang aman bagi pengendara sepeda. 
Salah satu fitur terpenting adalah ‘pulau’ di sudut-sudutnya.
(sumber: wiki)


Aneka gedung parkir sepeda dibangun. Beberapa didesain dengan cantik. Ada pula jembatan khusus untuk para pengendara sepeda yang baru saja dibangun dekat Eindhoven dan jalan bebas hambatan khusus sepeda.

Para pengendara juga tak perlu takut tersesat karena petunjuk jalan untuk pengendara sepeda ada dimana-mana. Juga ada tempat sampah khusus untuk para pengayuh kendaraan roda dua ini.

Atas: Tempat sampah dan jembatan khusus pengendara sepeda.
Bawah: Dua desain gedung parkir sepeda. Desain di kanan sengaja dibuat seperti apel.
Hihi, jadi ingat apel Snow White.


Dongeng tentang negeri sepeda impian tidak berhenti di sini. Berbagai rencana untuk membuatnya lebih baik terus dilakukan. Selain berencana untuk menambah jumlah tempat parkir, pemerintah juga ingin membuat jalan sepeda dengan penghangat di bawahnya untuk musim dingin. 

Kami Juga Ingin
Dalam hal bersepeda, negeri kincir ini mungkin tak berniat jadi pionir, mereka hanya ingin hidup dengan lebih baik. Namun, siapa yang tidak iri melihat ada kota modern berudara bersih dan nyaman untuk bersepeda, tampak tidak nyata seperti di Negeri dongeng. 



Referensi Lain

Perahu Nuh Belanda


{This post along with a previous and a next posts are specially written for Kompetiblog 2013. It might be different from my usual posts}


Yang pernah belajar geografi pasti tau bahwa dua pertiga wilayah Belanda berada di bawah permukaan laut dan karena itulah Belanda paling siaga tentang air. Kekhawatiran akan masuknya air laut ke daratan kini tidak hanya punya Belanda. Jika global warming benar-benar terjadi dan air laut naik, semua Negara di dunia akan mengalami masalah yang sama dengan negeri kincir ini.

Ketika Negara lain masih ragu dan berdebat untuk membuat pertahanan terhadap air laut, Belanda sudah mengeluarkan biaya banyak dan telah membuat rencana menghadapi pemanasan global untuk 200 tahun ke depan.

Usaha Belanda antara lain mempertinggi bendungan, reklamasi pantai, dan membuat kincir angin. Tapi, usaha untuk menahan dan memompa air kembali ke laut tidak selamanya bisa dilakukan kalau air laut terus naik. Belanda pun mulai berfikir untuk membiarkan sebagian air masuk, misalnya dengan mengorbankan daerah di bantaran sungai dan membuat semuanya serba mengapung.

Serba Mengapung
Salah satu yang sudah dibuat adalah rumah amfibi karya perusahaan konstruksi Dura Vermeer. Rumah ini dibangun di tanah, namun mengapung ketika air sungai naik. Ada juga komplek perumahan mengapung di Ijburg karya biro arsitek Marlies Rohmer. Berbeda dengan rumah amfibi, perumahan ini sepenuhnya dibangun di atas air dan dapat diakses dengan kapal. Selain itu ada juga paviliun mengapung karya perusahaan Deltasync yang merupaka prototype untuk proyek besar mereka: kota di atas air.

Rumah amfibi di Maasbommel, Belanda karya perusahaan konstruksi Dura Vermeer. 
Dibangun tahun 2003-2006.


Tujuh puluh lima rumah mengapung karya biro arsitek Marlies Rohmer 
dengan akses jalan di bagian belakang dan akses untuk kapal di bagian depan.
(©Marcel van der Burg via Arcdaily)

Floating pavilion di Rotterdam karya Deltasync.
(sumber: urbanomnibus, eureka)

Selain bangunan, Belanda juga membuat bus amfibi yang dinamakan Floating Dutchman. Saat ini digunakan sebagai bus wisata untuk melintasi kanal-kanal di Amsterdam.

Floating Dutchman

Tak berhenti di sana, ada banyak proyek lain yang masih dalam tahap rancangan. Misalnya pembuatan airport, pantai buatan, dan juga taman mengapung.




Dari Belanda untuk Dunia
Selain di negaranya sendiri, Belanda juga ingin menyebarkan ‘gaya’ mengapung ke Negara-negara lain. Salah satu yang telah dibuat adalah pemecah ombak mengapung di Yunani.

Teknologi pemecah ombak mengapung buatan insinyur belanda di Yunani tahun 2004.
(sumber: fdn-engineering)

Juga ada beberapa rancangan yang belum direalisasikan, misalnya lapangan golf mengapung di Maldives dan floating hotel di Norway oleh perusahaan Dutch Dockland. 

Rancangan floating hotel dan golf court karya Dutch Dockland.
(sumber: dutch dockland)

Tak hanya yang sifatnya komersial, ada juga proyek yang bersifat sosial. Contohnya desain kampung mengapung untuk daerah kumuh di Banglades oleh Waterstudio. Rancangan ini akan segera direalisasikan. Selain itu ada juga sekolah mengapung di Nigeria, yang merupakan kolaborasi desainer Nigeria dan Belanda.

Desain Waterstudio untuk memperbaiki kehidupan perkampungan kumuh di Korail, Bangladesh.
(sumber: water studio)

Sekolah mengapung kolaborasi arsitek Nigeria dan Belanda di Makoko, Nigeria.
(sumber: architizer)

Paling Siap
Teknologi floating inilah yang merupakan ‘Bahtera Nuh Belanda’. Di kala air laut naik dan semua negara kesulitan hidup dengan normal, Belanda telah beradaptasi dan bersahabat dengan air. Saat negara lain belum berbuat apa-apa untuk menahan masuknya air, Belanda sudah loncat ke langkah berikutnya. 

Dalam menghadapi pemanasan global ini, Belanda adalah pionir yang mau tak mau harus diikuti oleh negara lain jika ingin bertahan. 

Negara tulip ini bahkan telah menawarkan bantuan ke Indonesia untuk penanggulangan global warming. Di saat air laut naik, Indonesia menjadi salah satu negara paling beresiko. Selain karena negara kita belum siap, juga karena kurangnya dana untuk membuat infrastruktur yang diperlukan.

“Even if other countries start to build the dam today, it will be too late. Dutch is the only one who prepared,” begitu kata sebuah acara televisi luar tentang global warming yang saya tonton beberapa tahun lalu. “O..O…,” pikir saya waktu itu.


Referensi
Iol, Times, BBC

Tulip Belanda: Suntikan Ide Para Pionir


{This post along with two next posts are specially written for Kompetiblog 2013. It might be different from my usual posts}


Dengar kata tulip pasti langsung terbayang Belanda. Bunga warna-warni ini memang sudah jadi ikon tersendiri. ‘Tulip sama dengan belanda’, anggapan yang sederhana tapi sebenarnya tidak.

Setuju dengan quotes dari film Inception, “No idea is simple when you need to plant it in somebody else’s mind.” Lebih susah kalau ide itu ditanam di benak seluruh orang di dunia. Sukses menanamkan ide bahwa tulip adalah Belanda merupakan bukti keberhasilan para pionir asal Negeri kincir angin.

Poster dan logo Belanda dari tahun 1859, 1948, dan saat ini yang menampilkan gambar tulip


Sekilas tentang sejarahnya, tulip bukanlah tumbuhan asli Belanda. Awalnya tumbuh disekitar laut hitam, Rusia dan kemudian dibawa ke Turki. Di Turki, bunga ini mulai dikembangkan sebelum akhirnya diperkenalkan ke Belanda.

Tahun 1593, Carolus Clusius, seorang ahli botani, menjadi orang belanda pertama yang menanam tulip di negaranya. Tak sekedar menanam, Ia juga melakukan percobaan untuk membuat variasi warna pada tulip. Ia berhasil membuat tulip dengan warna-warna baru, orang-orang pun tertarik. Karena tidak ingin membuat bunga tersebut diperjual-belikan, Clusius menolak untuk menjual tulip miliknya.

Beberapa orang kemudian nekad mencuri tulip Clusius. Akibat pencurian tersebut, perdagangan tulip sempat menimbulkan krisis ekonomi ‘Tulipmania’ di Belanda. Tapi pencurian ini juga yang kemungkinan besar menjadi cikal-bakal berkembangannya industri florikultura Belanda saat ini. 

Lukisan Carolus Clusius oleh Jacob de Monte, 1585 dan Hortus Botanicus Leiden – tempat Clusius menanam tulip-tulipnya. Merupakan taman botani paling tua di Belanda.

Sejak saat itu hingga kini, lebih dari empat ratus tahun kemudian, penduduk belanda terus berinovasi agar tulip mereka lebih unggul sehingga bisa memperkenalkannya sebagai bunga khas Belanda.

Salah satunya Keukenhof, taman bunga terbesar di dunia yang hanya dibuka dua bulan dalam setahun. Digagas pertama kali tahun 1949 oleh walikota  Lisse dan para penghasil serta eksporter bunga. Tujuannya memperkenalkan dan menjual komuditas utama mereka, bunga tulip. Pameran bunga tahunan ini sukses dikunjungi ratusan ribu wisatawan asing dan menjadi salah satu tempat tujuan wisata utama di Belanda.

Poster Keukenhof 1957 dan kecantikan pemandangannya.

Tak hanya di dalam negeri, orang Belanda atau keturunan Belanda yang tinggal di Negara lain juga turut memperkenalkan bunga kebanggaan mereka. Mereka menginspirasi diadakannya beberapa festival tulip tahunan di Kanada dan beberapa Negara bagian Amerika seperti Albany, Michigan, Iowa, dan Washington.

Festival tulip di Kanada dan Michigan, Amerika.

Belanda merupakan Negara penghasil dan pengekspor bunga terbesar di dunia. Delapan puluh persen bunga tulip diekspor dari Belanda. Negara ini mampu memproduksi bunga dalam jumlah besar berkat penelitian berkelanjutan dan teknologi rumah kaca (greenhouse) yang terdepan.

Perkebunan tulip di musim semi. Super cantik! 
Belanda menghasilkan lebih dari 9 juta bunga tulip setiap tahunnya. 
(sumber: dailymail)

Belanda juga mampu mengirim dalam waktu cepat. Teknologi pengiriman barang di sana sangat efisien.  Negara di Eropa ini mampu mengirim bunga yang dipetik hari itu sampai ke New York pada hari yang sama. Keberhasilan ini tentu karena adanya Aalsmeer Flower Auction. Di sinilah setiap hari, harga bunga dunia ditentukan.

Suasana Flower Auction di Aalsmeer. Wisatawan boleh datang dan menonton dengan membeli tiket masuk.

Promosi yang dilakukan oleh Holland Flower Council turut memegang peranan penting. Mereka mendorong penduduk Negara lain untuk terbiasa menggunakan bunga sebagai hadiah, dekorasi acara khusus, ataupun sehari-hari, seperti layaknya gaya hidup orang Eropa.  Mereka juga gencar menjaga image tulip belanda sebagai yang terbaik.

Tulip sebagai dekorasi sehari-hari, dekorasi pesta, buket pernikahan, dan hadiah. Usaha untuk menciptakan image membuat Belanda lebih unggul dibandingankan kompetitornya seperti Israel.

Kontribusi mereka-meraka inilah yang membuat Belanda diakui dunia sebagai pionir florikultura khususnya tulip. Pionir tidak selalu berarti yang pertama punya, tapi siapa yang pertama melihat peluang dan tidak berenti mengembangkannya. 

Belanda berhasil maju berkat kesuksesannya menyuntikan ide tentang tulip. Sebaiknya Indonesia meng-inception apa ya ke penduduk dunia supaya ikut berhasil?

Referensi
1 / 2 / 3 / 4 / 5 / 6 / 7 / 8 / 9 /10