14.3.13

Memori Kerusuhan Mei 98

Beberapa hari yang lalu si mama beres-beres rumah. Hasilnya beberapa barang dari masa lalu yang sudah lama terlupakan kembali terangkat ke permukaan. Di antaranya buku diary saya dan si ade zaman SD. Yang menarik, kami berdua sama-sama menulis tentang kerusuhan 1998. Padahal dua buku itu terisinya cuma sedikit. Hehe.

Sebenernya ceritanya sederhana. Karena kerusuhan kami mengungsi ke rumah eyang. Tapi kemudian sekitar rumah eyang diisukan akan dibakar karena ada beberapa toko milik warga tionghoa di sana. Akhirnya kami kembali ke rumah. Rumah saya terletak di bagian depan komplek, dekat dengan jalan raya. Ketika ada isu masa bergerak ke arah rumah kami, kami kembali mengungsi ke rumah tetangga yang letaknya di bagian belakang komplek. Walaupun sempat muncul panser, namun masa tidak melewati komplek rumah kami dan kami pun kembali dengan selamat ke rumah.

Walaupun ceritanya sama, saya dan si ade cerita dengan cara yang sangat-sangat berbeda. Saya menuliskannya dalam delapan paragraf super detail, sampai makanan apa yang saya makan hari itu. Ade saya hanya menuliskan dalam satu paragraf cukup panjang dengan singkat dan padat. Kami juga menulis kalimat pembuka yang super beda. Ini saya salin seratus persen dari buku hariannya, termasuk coretan dan kesalahan ejaan dan tanda baca.

Jumat, 15 Mei 1998

Saya (10 tahun)
Buku harianku, hari ini aku menginap di rumah eyangku bersama tetanggaku, Bude wit dan keluarga. Kami menginap karna dimana-mana terjadi kerusuhan. Saat itu Pondok Labu masih tidak ada apa-apa. Perasaanku si biasa2 saja. Malam-malam karena ada siaran khusus jadi aku dan eyang mikir bahwa tidak ada Jin dan Jun (itu kemarin malam). Dirumah eyangku sudah ada semua barang barang berharga.

Si Ade (9 tahun)
Juli 1997 itu, adalah awalnya kiris moneter. Tanggal 12-5-1998 anak Trisakti (nama universitas) ditembak Besoknya sampai meninggal. Besoknya Tgl 14-5-98 aku disuru cepet pulang karena, katanya orang-orang turun ke jalan pukul 12.00 untuk unjuk rasa tetapi orang-orang yang ngaco malah menjarah toko-toko dan rumah-rumah. aku sekeluarga nginep di rumah eyang, surat surat berharga dan pasport.

*arti:
menjarah= mencuri dengan beramai-ramai (ini juga ditulis si ade di bagian bawah halaman)


Cuplikan lainnya di antara cerita yang lumayan panjang:

Saya
Kami di persilahkan masuk. aku masuk dan duduk. Tanganku gemetaran. aku membaca doa dalam hati. 

Si Ade
Kita juga panik karena MASA nya sudah menuju cinere.  Masanya ke Cinere karena dikejar ABRi. Kita semua ketakutan. 

Habis itu aku mengasah golok papa.

***

Sebenernya saya hanya ingat samar-samar tentang kejadian hari itu, jadi saya gatau antara saya memang lebih kekanak-kanakan dan penakut atau ade saya cuma sok gede dan berusaha menuliskan ceritanya seperti wartawan koran yang lebih pemberani. Yang manapun, untungnya hari itu tidak terjadi sesuatu yang mengerikan dan membuat trauma mendalam pada kami. Do you remember what happened to you that day?

Ps. Ga saya kasih gambar ya. Serem abisan gambar-gambar kerusuhan.

Moral
- Walau nulis diary kesannya norak, tapi seru ternyata karena bisa dibaca lagi beberapa tahun kemudian. Lagipula menurut penelitian, memori seseorang suka memodifikasi cerita sebenarnya lo.

- Yuk menulis jurnal! *pake istilah jurnal supaya kedengeran lebih dewasa dan berkelas dibanding diary.

2 komentar:

  1. Kikiiiii, lucu bangetttttt…

    BalasHapus
    Balasan
    1. yuu... update blog lo dongg.. hehe biar ada bacaan.

      Hapus