30.3.13

Akhir Pekan : Refreshing in Tenjolaya Bogor

Last November was my grandma's 80th birthday. "No birthday party for me!" she warned her children (my parents, my uncles, and my aunties) as they usually make a (surprise) birthday party for her. In order to replace the annual party, they arranged a weekend trip to Bogor.

We stayed at place named Aldepos Salaca. It is located in Tenjolaya, Bogor, near Institut Pertanian Bogor. For someone who needs some quiet environment to relax this place is very suitable. The place is huge (about 60 hectares) with only eight villas inside. The villas are surrounded by many plantations. It was so refreshing to see green everywhere.

As a complimentary we can try flying fox. I did not have a gut to try, because it was quite high and I really don't like the sensation of hanging. So I volunteered myself to take pictures. Here are some pictures that I took.









Beside flying fox there were some activities that we can try, such as fishing, making pottery, washing buffaloes, barbecue or doing some free stuffs like swimming, jogging, or playing in the river. For pottery class, because the pottery that you make needs to be burned and colored, you can have the result about two weeks later. You can take it in Pondok Indah, Jakarta or you can ask them to send it to your home.

The only thing that was lack from this place was cool weather. Cool weather never failed to make me happy and refresh. Here, I couldn't feel like I was in the mountain. Oh, I also think paying for washing the buffaloes is stupid. Hehe.

Even though this place is not too far from Jakarta, but the time needed to come and leave this place can be unpredictable. The first time I went here (in early 2012) I only need about 2,5 hours to reach home, but this time we spent seven hours to go home. So tiring.. :(

Notes
- Rorompog Sagi Tilu (Triangle House) is the most unique villas in here. Worth to try.
- For more info about this place you can visit the official sites here. Btw I am not paid to write this post. Hehe.

26.3.13

1st Anniversary - Satoo

Couple days before the anniversary I asked Bi what will we do to celebrate it. He said it's up to me. Because I didn't have an idea, I made a list - 50 things we have never done together. I didn't write any specific place because if I had done, I would have written a thousand places we have never been to. Then, I asked him to choose one of 50 things that I wrote. He didn't choose any of it, but he said to me "You said you want to take me to eat in Satoo." I assumed he choose number 10 which is 'Eat in 5-Star Hotel just the two of us'


After we spent a whole day in Water Bom (I will tell about this later) we filled our empty stomachs with abundant food in Satoo, Shangri La, Jakarta. (We made a reservation only two hours before, even though we have planned it couple days ago)

I like Satoo for its free-flow water and the various desserts which look very beautiful. I also think Satoo is a right place to celebrate our first anniversary because in Bahasa, Satoo (Satu) means one. Hehehe.. It's expensive though, around 375.000 rupiah/pax. Oh, if you think it is a romantic dinner, you absolutely wrong. The place is full of people and buffet makes you leave your table quite often.

Anyway, I am happy to cross off number 10 from my list. One done, 49 more things to experience. :D

25.3.13

My Wedding

Kemarin adalah anniversary pertama saya dengan si Bi (dulu-dulu saya nulis namanya si W, tapi ternyata dia ga suka ditulis begitu. Tapi gamau juga ditulis nama aslinya, yaudah Bi aja deh, moga-moga kali ini ga protes lagi, hehe). Sebelum saya cerita tentang anniversary, saya mau cerita dulu tentang pernikahan yang belom pernah saya ceritain sebelumnya.

Nikahan ini pakai adat Jawa, lengkap dengan prosesi siraman dan midodareni dulu sebelumnya. Awalnya saya ga mau ada siraman, tapi kata mama wajib, sekali seumur hidup. Yaudah, mau gimana lagi. Kalau midodareni saya ga nolak. Karena ga perlu keluar dari kamar persembunyian dan saya dapet seserahan. Yeiiii.




Saat hari H, Bi deg-deg an parah takut ga lancar pas ngomong ijab kabul, saya lebih deg-degan kalau hujan turun. Soalnya, tempat kawinannya setengan outdoor dan saat itu musim hujan belum berakhir. Alhamdulliah semuanya lancar.




Beberapa saat setelah menikah Bi pernah bilang gini:

"Aku tuh seumur hidup baru sekali salat istiqarah. Pas malem sebelum nikah itu," 

"Hah?! Kamu emang di antara dua pilihan apa? Kan kamu yang ngajak nikah. Emang ada cewe lain?"  Saya shock berat.

"Ha? Salat istiqarah bukannya yang malem-malem itu ya." 

"Itu sih Tahajud." (-____-')

Btw bagi yang ga tau kaya si Bi, salat Istiqarah itu, salat minta petunjuk diantara dua pilihan.


Moral
- Kalau mau nikah outdoor atau semi outdoor, sebaiknya perkirakan dulu kira-kira tanggal tersebut musim hujan atau bukan.

- Pas midodareni ajak temen dateng ke rumah, biar ada temen ngobrol. Dari pada bengong sendirian di kamar. Waktu itu saya ga ngajak siapa-siapa karena kasian kalau harus pada pulang malem. Trus jadi agak nyesel deh. Hehehe.

*Photo by Circle Photography

20.3.13

Setahun yang Lalu - Parade Pernikahan

"Aduh lagi bosen banget nih sama rutinitas," curhat saya pada seorang teman yang saya anggap paling bijak

"Nikah aja gih," jawabnya pendek. Saya shock berat. Pasalnya, pembicaraan ini bukan terjadi baru-baru ini atau waktu kuliah, tapi saat saya kelas 2 SMP.

"Hehe, ngikutin nyokap. Nyokap kemaren ngomong gitu waktu gw curhat bosen," si teman bijak menjelaskan, mungkin ga tega liat tampang shock saya waktu itu.


***

Di tanggal-tanggal ini setahun yang lalu saya sedang sibuk. Sibuk sama satu hal yang namanya pernikahan. Tentu saya jadi tidak sempat menulis di sini. Sejak tahun lalu saya putuskan untuk cerita ini tahun depan saja.  

Salah satu pernikahan yang paling membuat sibuk adalah pernikahan saya sendiri. Tapi saya beruntung, dua orang teman SMP saya berbaik hati menikah sebulan dan dua minggu lebih dulu supaya saya lebih siap mental. Hehehe. Ini sih saya bohong. Cerita sebenarnya, tanpa janjian sebelumnya, saya dan dua orang sahabat saat di SMP memutuskan menikah di tanggal yang berdekatan (masing-masing hanya berselang dua minggu).

Waktu SMP dulu saya paling sering main berlima dengan anggota yang itu-itu saja. Nah, tiga dari lima itulah yang menikah di saat yang berdekatan. Dua orang sisanya sibuk beli kado dan siapin baju untuk tiga buah pernikah tiap dua minggu sekali. Bingung ga? Saya harap ngga.




Cerita ini sebenarnya saya pun kurang tau apa moralnya, hanya saja saya rasa kebetulan semacam ini jarang adanya. Saya si senang karena bisa merasakan pengalaman menempuh hidup baru 'bersama-sama' teman dekat saya. Hehehe bahkan nikahpun saya senang jadi follower.

Ohya, dua minggu setelah pernikahan saya, teman kantor saya juga menikah di Malang. Waktu itu saya udah pernah cerita sekilah tentang jalan-jalan singkat ke Malang. 

Nah, kalau tahun lalu penuh dengan nikahan, tahun ini sepi. Atau saya aja yang kurang gaul jadi ga diundang ke nikahan orang ya. hehe.

14.3.13

Memori Kerusuhan Mei 98

Beberapa hari yang lalu si mama beres-beres rumah. Hasilnya beberapa barang dari masa lalu yang sudah lama terlupakan kembali terangkat ke permukaan. Di antaranya buku diary saya dan si ade zaman SD. Yang menarik, kami berdua sama-sama menulis tentang kerusuhan 1998. Padahal dua buku itu terisinya cuma sedikit. Hehe.

Sebenernya ceritanya sederhana. Karena kerusuhan kami mengungsi ke rumah eyang. Tapi kemudian sekitar rumah eyang diisukan akan dibakar karena ada beberapa toko milik warga tionghoa di sana. Akhirnya kami kembali ke rumah. Rumah saya terletak di bagian depan komplek, dekat dengan jalan raya. Ketika ada isu masa bergerak ke arah rumah kami, kami kembali mengungsi ke rumah tetangga yang letaknya di bagian belakang komplek. Walaupun sempat muncul panser, namun masa tidak melewati komplek rumah kami dan kami pun kembali dengan selamat ke rumah.

Walaupun ceritanya sama, saya dan si ade cerita dengan cara yang sangat-sangat berbeda. Saya menuliskannya dalam delapan paragraf super detail, sampai makanan apa yang saya makan hari itu. Ade saya hanya menuliskan dalam satu paragraf cukup panjang dengan singkat dan padat. Kami juga menulis kalimat pembuka yang super beda. Ini saya salin seratus persen dari buku hariannya, termasuk coretan dan kesalahan ejaan dan tanda baca.

Jumat, 15 Mei 1998

Saya (10 tahun)
Buku harianku, hari ini aku menginap di rumah eyangku bersama tetanggaku, Bude wit dan keluarga. Kami menginap karna dimana-mana terjadi kerusuhan. Saat itu Pondok Labu masih tidak ada apa-apa. Perasaanku si biasa2 saja. Malam-malam karena ada siaran khusus jadi aku dan eyang mikir bahwa tidak ada Jin dan Jun (itu kemarin malam). Dirumah eyangku sudah ada semua barang barang berharga.

Si Ade (9 tahun)
Juli 1997 itu, adalah awalnya kiris moneter. Tanggal 12-5-1998 anak Trisakti (nama universitas) ditembak Besoknya sampai meninggal. Besoknya Tgl 14-5-98 aku disuru cepet pulang karena, katanya orang-orang turun ke jalan pukul 12.00 untuk unjuk rasa tetapi orang-orang yang ngaco malah menjarah toko-toko dan rumah-rumah. aku sekeluarga nginep di rumah eyang, surat surat berharga dan pasport.

*arti:
menjarah= mencuri dengan beramai-ramai (ini juga ditulis si ade di bagian bawah halaman)


Cuplikan lainnya di antara cerita yang lumayan panjang:

Saya
Kami di persilahkan masuk. aku masuk dan duduk. Tanganku gemetaran. aku membaca doa dalam hati. 

Si Ade
Kita juga panik karena MASA nya sudah menuju cinere.  Masanya ke Cinere karena dikejar ABRi. Kita semua ketakutan. 

Habis itu aku mengasah golok papa.

***

Sebenernya saya hanya ingat samar-samar tentang kejadian hari itu, jadi saya gatau antara saya memang lebih kekanak-kanakan dan penakut atau ade saya cuma sok gede dan berusaha menuliskan ceritanya seperti wartawan koran yang lebih pemberani. Yang manapun, untungnya hari itu tidak terjadi sesuatu yang mengerikan dan membuat trauma mendalam pada kami. Do you remember what happened to you that day?

Ps. Ga saya kasih gambar ya. Serem abisan gambar-gambar kerusuhan.

Moral
- Walau nulis diary kesannya norak, tapi seru ternyata karena bisa dibaca lagi beberapa tahun kemudian. Lagipula menurut penelitian, memori seseorang suka memodifikasi cerita sebenarnya lo.

- Yuk menulis jurnal! *pake istilah jurnal supaya kedengeran lebih dewasa dan berkelas dibanding diary.

6.3.13

#3. Singapore Trip 2 - Roundup

Mari melanjutkan cerita tentang jalan-jalan ke Singapur Januari lalu. Selain Singapore Art Museum dan ArtScience Museum, ga ada lagi tempat yang semenarik itu untuk diceritain dalam satu post tersendiri. Tapi kalau dilewatin rasanya kurang komplit dan siapa tau ada yang butuh ide mau kemana. Walaupun saya si sama sekali ga ahli dalam bidang jalan-jalan di Singapur.

Little India
Pergi ke Mustafa untuk beli cokelat. Harganya memang jauh lebih murah daripada tempat lain. Tapi effort-nya juga lebih capek. Emang ga ada ya di dunia ini murah tapi nyaman. hehe.

China Town
Mangga dua banget. Ga beli apa-apa karena udah kepegelan dan emang ga ada yang keliatan menarik.

IKEA - Alexandra
Selalu seneng deh tiap ke Ikea. Udah pernah diceritain di sini juga tentang jalan-jalan ke Ikea setahun yang lalu. Btw ada updated version untuk info tentang naik bus ke Ikea.

Orchard Road
Tujuan standar buat belanja. 

Dim Sum di Arab Street
Halal dan murah. Cuma kalau detail nama tempat dan lokasinya saya ga begitu paham. Abisan main ngikutin temen saya yang tinggal di Singapur yang berbaik hati jadi tour guide sehari. Dua blok dari masjid Sultan yang jelas. 

Masjid Sultan
Kalau yang ini bukan karena jalan-jalan, tapi karena belum salat. Bodohnya, saya dan teman-teman pake celana pendek. Tapi dari pada ga salat yaudah lah ya. Awalnya kami ditolak masuk karena dikira turis dan jam buka untuk turis udah lewat. Begitu bilang mau salat, dites dulu suruh jawab Assalamualaikum. Untungnya berhasil lulus, hehehehe. Kami pun kaya dikasih jubah yang bahannya mirip jas ujan versi tebel gitu dan warnanya biru nge-jreng. Berasa kaya dementor tapi versi lebih kekinian. Sepanjang masuk dan keluar, bapak-bapak penjaga masjidnya (ada banyak ya) heboh kenapa kita sexy banget katanya. Hahahaha. Dimarahiiinn.. Harusnya difoto ya. Cuma bisa makin dimarahin kalau pakai foto-foto. Hehehe.

Karena pake baju ini jadi diomel-omelin. Padahal kan ga sexy ya.. *pembelaan. haha.

Penampakan jubahnya seperti ini. Photo from here


Chilly Crab
Menurut teman saya, Chilly Crab yang tempatnya nun jauh di sana ini enak. Karena tinggal main ikut aja, saya jadi ga bener-bener tau itu dimana. Setelah sempet nyasar akhirnya ketemu juga si tempat chilly crab ini. Saya ga berani makan karena takut maag-nya kambuh dan akhirnya pesen butter crab. 

Rasanya menurut saya lebih ga enak dari di Indonesia. Kalahlah sama kepiting 212 di Kelapa Gading. Kalau Butter Crab-nya rasanya mirip corn cup yang suka dijual di mal-mal itu-yang jagung pake keju sama susu, tapi jagungnya diganti kepiting. Aneh si kalau menurut saya.

Makan di sini satu orangnya habis sekitar S$30 (sekitar 230 rb-an). Mahaaal...  Pulangnya kami lagi-lagi nyasar. Setelah naik bus lalu kebingungan akhirnya berhasil sampe stasiun MRT Braddel dan berhasil pulang.

Chilly Crab dan hakau. Oiya, kalau pake tissue basah bayar.
Photo by Dea (diambil dr FB nya)