18.12.12

Weekend Project: Lemari Besi Siku

Ada perkembangan baru di apartemen saya baru-baru ini. Lemari baru! Hore! Bukan lemari yang wah atau bagaimana. Hanya lemari besi biasa yang kami (saya dan si w) buat sendiri. Walaupun biasa-biasa saja, tapi lemari ini berhasil menaikan derajat ruang kecil ini dari gudang menjadi ruang kerja plus ruang simpan yang lebih rapi. 

Awalnya kami mau bikin lemari simpan yang bagus. Dengan bracket dan cermin sebagai pintunya supaya si ruang kecil berubah jadi luas. Masalahnya, bikin lemari seperti itu lumayan mahal. Berarti harus nabung dulu, berarti masih lama, dan berarti ruang ini jadi gudang juga akan masih lama. Oh no. 

Ya sudah, diputuskan untuk beli lemari besi saja yang lebih terjangkau. Masalahnya satu, panjang ruangnya dua meter kurang dua centimeter. Hanya karena dua centimeter, kami ga bisa beli lemari jadi yang tinggal dirakit karena modul lemari fabrikasi adalah per-satu meter. Terpaksa buat custom.



si lemari dan dimana boksnya dibeli

Lemari custom bikinnya ribet, ini yang kami lakukan: 
1) Beli rangka besi di Panglima Polim. Warnanya hanya ada perak. 
2) Minta OB kantor si w ngecat si lemari pake pilox putih. 
3) Besi L untuk struktur tambahan belum dipilox, akhirnya saya yang ngerjain. 
4) Si rangka besi kami rakit. Lagi tengah-tengah ngerakit dateng tamu. Jadilah apartemen kecil penuh orang dengan halang rintang berupa lemari besi belum jadi di tengah-tengahnya. 
5) Murnya dikasihnya kurang. Beli dulu. 
6) Ukur bidang untuk kayunya, kami maunya pake medium-density fibreboard (MDF). Biar lebih bagus kelihatannya.
7) Nyari MDF di sekitaran Pasar Minggu. Cuma ada satu toko yang jual dan ga bisa minta potongin. Gagal. 8) Minta si OB kantor lagi buat beliin MDF. Dia ga nemu, akhirnya dia beli chipboard 18mm yang dipotong sesuai ukuran. 
9) Pasang chipboard. 

Panjang kan ceritanya. Intinya saya dan si W menghabiskan seharian di long-weekend November kemarin untuk bikin lemari ini. Begitu beres, kami dengan senang hati menata boks-boks di sana. Boks-boks yang kami punya memang ga seragam karena saya dan si w ga satu selera. Saya ga suka boks yang ada warnanya. W ga suka boks yang ga ada 'kunciannya'.

Kalau saran dari Amanda di serial the Amanda's (acara tentang mengorganisasi rumah) : Gunakan boks tanpa tutup. Boks yang ada tutupnya hanya akan membuat kita lupa apa isinya dan barang di dalamnya jadi tidak dipakai. 

Tapi si W ga suka sama acaranya Amanda. Jadi boksnya tetep ditutup deh. Huhu

Moral
- Saya ga yakin bikin lemari besi siku custom kayak gini jatuhnya lebih murah dari lemari beneran yang dibuat tukang. Terutama kalau menghitung effort-nya. Yah namanya juga proyek coba-coba.

- Sebaiknya jangan warnain besi siku pakai pilox. Mudah mengelupas dan kalau sehabis itu dibungkus koran, korannya nempel.

- Alasan kami mau pakai mdf/chipboard yang tebalnya 18mm adalah supaya kelihatannya lebih bagus daripada pakai tripleks.

- Info tambahan
MDF: kayu yang dibuat dari serat-serat kecil kayu yang dicampur sejenis lilin dan resin lalu di-press dalam bentuk panel dengan tekanan dan suhu tinggi. Kelebihannya permukaan rata. Kekurangannya tidak kuat air dan lembab.

Chipboard / Particle Board : Mirip seperi MDF tapi dibuat dari serpihan-serpihan kayu yang lebih besar-besar. 

14.12.12

Saat Saya Susah Bangun Pagi

Beberapa bulan ini saya susah bangun pagi. "Kamu tidurnya kemaleman si," kata suami saya yang udah bosen denger saya ngeluh setiap bangun kesiangan (baca: setiap hari). "Ok, malem ini aku tidur jam 9!" Jawab saya setiap dia bilang begitu.

Malam hari. Saya ingat kalau saya mau tidur cepat. Jam 9 masih terlalu dini, akhirnya saya baru beranjak ke tempat tidur jam 10. Tidurpun ga dengan tangan kosong, tapi disenjatai alarm dan hp ber-alarm yang saya taruh di sebelah tempat tidur. Ga lupa baca doa yang salah satu isinya adalah supaya saya besok bisa bangun pagi. 

Berhasil? Tentu saja tidak. Kalau berhasil saya ga bakalan nulis di sini. Gagal karena saya selalu merasa belum ngantuk dan baru ketiduran saat sudah malam. Ah. Saya pun mulai bertanya-tanya. Waktu di Bandung dulu saya mudah sekali tidur cepat dan bangun pagi. Mengapa oh mengapa.

Akhirnya pagi ini entah kenapa saya berinisiatif untuk bertanya pada yang banyak tau, sebut saja namanya google. Banyak sumber bilang caranya ya harus tidur cepet. "Yeiii itu sih saya juga tau tapi ga berhasil," cibir saya dalam hati. Iya, saya emang anaknya suka gitu. 

Tapii... lalu saya nemu satu artikel wolipop yang bilang begini: 

"Kurang kena sinar matahari akan membuat seseorang tidur lebih larut, tidak cukup tidur dan akhirnya merasa malas," ujar Dr Mariana Figueiro dari the Rensselaer Polytechnic Institute Lingting Research Centre, New York seperti dilansir dari detikhealth.

Artikelnya lumayan panjang, intinya, terlalu banyak di ruang tertutup dan ga mendapat sinar matahari pagi membuat jam biologis seseorang jadi terganggu. Gejala ini namanya 'teenage night owl syndrome' karena lebih banyak dialami remaja. 

Hore saya senang. Walaupun saya belum melakukan apapun supaya saya lebih banyak kena matahari di apartemen yang penuh gedung ini, paling ngga saya udah tau penyebabnya. 

"Kalau gitu aku pake kostum kaktus aja ya, terus tiap pagi berjemur di luar," kata saya, tentu saja dengan maksud bercanda

"Loh ya malah ga kena matahari kalau pakai kostum, gimana sih kamu," yang ternyata ditanggepi serius sama si suami. Hehe. 

Image by Nadyabird

Moral

- Kalau mau baca artikel lengkap tentang teenage night owl syndrome, silahkan lihat di sini

-Yuk sering-sering kena matahari! *ngajak-ngajak

12.12.12

Book Review: Nabi Muhammad, Satu Cerita Dua Buku

Dari sekian banyak buku tentang nabi Muhammad, baru dua yang sudah saya baca yaitu Muhammad - a prophet for our time karya Karen Armstrong dan 365 Hari Bersama Nabi Muhammad saw. Ceritanya sama-sama tentang nabi Muhammad dari lahir sampai meninggal, tapi keduanya diceritakan dengan cara yang sangat-sangat berbeda.

Muhammad - a prophet for our time

Ini buku bulan November saya. Selesai dibaca hanya dalam satu hari, tidak tebal memang. Kalau biasanya buku-buku tentang nabi Muhammad ditulis oleh dan untuk orang muslim, buku yang ini tidak. Buku karya Karen Armstrong tersebut diterbitkan pertama kali tahun 1991, namun kemudian direvisi dan diterbitkan kembali paska tragedi WTC.

(source: here)

Inti dari buku ini adalah meluruskan image nabi muhammad dimata orang barat. Kalau saya sih dari awal juga udah tau, jadi ga perlu diluruskan lagi. Hehe. Tapi yang saya suka dari buku ini adalah bagaimana Karen Armstrong menjelaskan tentang keadaan politik di zaman nabi. Kalau dulu saya mengertinya sekedar nabi Muhammad dalam menyebarkan islam bertemu banyak kesulitan, sekarang saya jadi kebayang gimana sulitnya. Sulit banget ternyata. Hah, saya si mungkin udah angkat tangan kabur kalau dikasih tugas seberat itu. haha. 

Mungkin karena tujuan buku ini lebih untuk meluruskan pendapat yang salah tentang nabi Muhammad, di dalamnya tidak banyak cerita mengenai teladan-teladan yang bisa ditiru dari Rasulullah. Isinya lebih membeberkan fakta-fakta berdasarkan catatan sejarah dan bukan sesuatu yang sifatnya kepercayaan yang lebih sulit dipahami.


365 Hari Bersama Nabi Muhammad saw

Buku ini sudah selesai saya baca sekitar dua tahun lalu. Kalau buku sebelumnya saya baca satu hari, buku ini saya baca satu tahun. Tebal memang, tapi tentu saja bukan karena tebalnya. Sesuai judulnya buku untuk anak-anak ini berisi cerita  nabi dari lahir sampai wafat yang dipotong-potong menjadi 365 cerita pendek, sesuai jumlah hari dalam satu tahun. Meski sering tergoda untuk menyelesaikannya dalam sekali baca, akhirnya saya berhasil baca sesuai tujuan penulisnya.

(source: here)

Beda banget dari buku Karen Armstrong, buku ini memakai kata-kata yang mudah, cerita yang ringan dan dibuat sesederhana mungkin. Misalnya, untuk nama tidak ada satu pun yang menggunakan embel-embel bin atau binti. Saya suka.

Selain di dalamnya banyak gambar-gambar, buku tebal ini juga disertai peta. Jadi pembacanya bisa membayangkan dimana nabi Muhammad saat melakukan perjalanan dan hijrah.


Moral
- Meski beda, saya suka kedua buku ini. Masing-masing punya keunikan dan keunggulannya.

- Untuk yang punya anak, wajib punya buku 365 Hari Bersama Nabi Muhammad saw. Untuk cerita pengantar tidur.

- Buku Muhammad karya Karen Armstrong cocok untuk memperluas perspektif. Untuk mempertebal keimanan, saya rasa kurang.

3.12.12

#6. SG Trip - Singapore Philatelic Museum

(My Travel Series)
____________
Selasa, 26-1-2010
Singapore Museum Trip
Day 2


(Please note that this trip happened in 2010, there are probably some changes in the museum now)

Hari kedua di Singapura, juga hari terakhir. Memang kunjungan yang super singkat karena saya dan adik saya tidak sedang libur kuliah. 

Pagi-pagi sekali kami sudah check out dari hostel, the Mitra. Sengaja pagi-pagi agar punya waktu untuk foto-foto di Singapura supaya punya bukti kalau kami beneran pergi ke sini. Hehe.

Pergilah kami ke Esplenade yang tentu saja masih tutup, lalu berfoto dengan pemandangan Singapore flyers dan marina bay sands yang saat itu belum jadi. Juga sempat foto sama si singa Merlion. Panas sekali, mau meleleh rasanya. 


*** 

Akhirnya sudah agak siang, museum sudah buka tampaknya. Hari ini kami hanya akan pergi ke satu museum saja, karena takut tidak sempat dan ketinggalan pesawat.  Tujuan kami Singapore Philatelic Museum. Menurut kakak saya, museum ini seru. Yuk yuk menuju ke sana!

Sesuai namanya museum ini berisi informasi mengenai surat menyurat. Tapi juga ada beberapa area temporer dengan tema lainnya. Museum yang berada di Coleman Street ini cukup mudah ditemukan. Berhubung saya kurang pintar cerita tentang isi nya, ini saya kasih foto-fotonya aja ya, biar kebayang.

 Si ade dan sign Singapore Philatelic Museum

Saya pamer tiketnya. $6 untuk orang dewasa.

 Salah satu sudut Heritage Room. 


 Room of Rarities. Seru, bisa sok-sok an 
bawa kantong isi surat.


Purple Room. Ada capnya di dalam mulut. Hihi.


Aneka bentuk kotak surat di Purple Room. 
Pengen deh punya rumah yang ada kotak pos lucunya. 
Biar pak posnya juga terhibur. 

Ruang untuk anak-anak. Bisa pura-pura kerja di kantor pos. 
Juga ada meja untuk mewarnai.

Pemeran temporer tentang Filipina kalau ga salah. Lucu deh, 
lacinya isinya rempah-rempah, ada namanya satu-satu.


Masih di ruang pamer temporer. 
Lagi pakai kacamata 3d.


Dua foto yang nantinya keliatan jadi tiga dimensi.


Pameran temporer lainnya.


Kebetulan saya ke sini sewaktu tahun baru, jadi sedang ada pameran temporer tentang shio. Waktu itu tahun Harimau. Kerennya, bukan hanya ruang temporernya yang dihias, tapi tangga dan beberapa dindingnya dibuat gambar bekas cakaran harimau. Detail banget, salut.

Setelah semua ruang terjelajahi, jalan-jalan di museum pun selesai. Sudah dapat pencerahan, saat nya kembali ke Indonesia, mengerjakan tugas akhir supaya lulus kuliah (bagi yang belum tau, jalan-jalan ini dalam rangka survey untuk tugas akhir). Kira-kira itu yang akan saya tulis dua tahun yang lalu. Sekarang si sudah lulus. 

Moral
- Museum ini cocok sekali untuk anak-anak. Karena anak-anak bukan hanya melihat tapi bisa pegang, puter ini-itu, tarik ini itu. Interaktif lah pokoknya. Selain sangat interaktif semua ukurannya dibuat untuk anak-anak. Saya merasa segala sesuatu di museum ini kependekan. 

- Ruang untuk pameran temporer di museum ini sangat banyak. Bahkan perbandingan antara ruang permanen dan temporer sama. Jadi pamerannya sering berganti. Kalau mau berkunjung coba cek official website-nya di sini untuk tau pameran temporer apa yang sedang berlangsung.

- Bagi yang belum punya uang atau belum sempat ke Singapura tapi penasaran, silahkan liat virtual tour-nya dulu di sini.

- Karena museum ini tidak terlalu besar, menjelajahinya juga tidak butuh waktu lama. 1-2 jam sepertinya cukup.

- Untuk cara ke sana, harga, jam buka, dan lain sebagianya silahkan lihat di sini.  


Sebelumnya     >> #5. SG Trip - Peranakan Museum
Mulai dari sini  >> #1. SG Trip - Mint Museum of Toys