26.9.12

My Birthday Present

It is almost the end of my favorite month, September. I had my birthday couple days ago that I spent with my lovely family. One of my favorite things about this year birthday is a surprise gift from my husband. He bought me a sewing machine, Janome J3-24 -- the thing that I really wanted. 

I know sewing machine seems so old-fashioned. I should ask for ipod, iphone, galaxy note, or any other gadget, but i don't want any of it for now. 

The reason I want a sewing machine is because I took a sewing course. I only took the course because I want to sew a throw pillow cover, but it turns out that taking the course is too much for that purpose. I learned how to sew clothes instead. In order to prevent my new skill into a waste I decided to sew more things at home, so I need a sewing machine. 


My husband said that when he bought this machine, the seller said to him, "You can call me when your wife needs some help with this machine, I can give her a demonstration. Actually, there is manual book inside the box but it is in English. The good news is, now there is a program called google translate, it can help her to translate the manual into Bahasa Indonesia."

Thanks for your kindness dear Mr. Seller, but I think I'll be okay. It made me wondering about the kind of people who buy sewing machine. 

I promise that I will post my sewing projects here and maybe some do-it-yourself project if I can. 

P.S.
- I choose Janome because according to this blog and some forum in Female Daily, this is one of the best and affordable sewing machine.  

25.9.12

#1. SG Trip - Mint Museum of Toys

(My Travel Series)
___________
Senin, 25-1-2010
Singapore Museums Trip
Day 1

(Please note that this trip happened in 2010, there are probably some changes in the museum now)

Akhirnya ke Singapura lagi setelah bertahun-tahun ga ke sana. Saya dan L ade saya agak bingung kayak anak kampung begitu sampai. Hehehe. Maklum, Jakarta ga secanggih ini (kesannya Jakarta di kampung antah berantah).

Rencana pagi ini adalah ke hostel, makan, lalu ke Mint Museum of Toys. Saat mau ke hostel saya dan si ade sempet nyasar lumayan lama karena salah keluar dari Stasiun MRT (harusnya exit B malah keluar di Exit A) dan karena sistem petunjuk jalan yang beda dari di Indonesia. Kalau di Indonesia papan jalan tegak lurus sama jalannya, di sini sejajar. Hmm kurang ngerti ya, harus digambarin sih biar jelas.

Singkat cerita, kami berhasil sampai hostel, makan, dan beranjak menuju Mint Museum, tujuan utama kami. Museum ini jadi tujuan utama karena paling mirip sama tugas akhir saya tentang museum mainan tradisional.

Untuk pergi ke sana saya dan si ade naik MRT sampai Cityhall, lalu jalan kaki. Lagi-lagi nyasar, tapi untung sampai juga.


1. Petunjuk jalan penyelamat //2. Tampak Depan Museum.


Keliling museum ini dimulai dari lantai teratas, lantai 5. Pengunjung diarahkan naik lift sampai atas, selanjutnya turun lewat tangga. Setiap lantai punya tema masing-masing.




3,4,5,6. Interior Museum dengan desain serupa tapi tak sama di setiap lantainya. 
Saya suka ambalan akrilik yang menyala, simple dan kekinian.
// 4. Saya dan si L waktu lebih muda. Ga berubah kok sama sekarang. //5. Tin tin!

 7. Bordes tangga yang juga dimanfaatkan 
jadi tempat pamer, yang ini khusus teddy bear.



8. Salah satu lantai favorit saya. Ada lantai kaca di ujung sana.
 //9. Adik saya berdiri di lantai kaca. //10. Pemandangan ke bawah - pintu masuk museum. 
Karena tinggi kayaknya ga bakal ada yang lihat ke atas. Pake rok tetep aman. 

Karena museum ini ga terlalu besar, dalam waktu singkat kami sudah selesai keliling-keliling dan foto-foto. Saatnya menuju museum berikutnya!

Moral
- Hal paling keren dari museum ini adalah arsitekturalnya. Pernah menang International Architecture Award 2007 dan beberapa penghargaan lain sepertinya.

- Bapak-bapak di museum ini baik sekali. Ramah menyapa dan ngajak ngobrol.

- Kekurangannya, hampir tidak ada penjelasan tentang koleksinya. Padahal seru kan kalau ada ceritanya. Juga kurang interaktif.

- Kalau mau tau lebih lanjut tentang koleksinya, harga tiket, bagaimana cara ke sana, dan sebagainya silahkan lihat official website-nya di sini


Selanjutnya >> #2. SG Trip - National Museum of Singapore

My Travel Series - Singapore Museums Trip

Saatnya melanjutkan my travel series. Beberapa hari kemarin saya kebetulan lihat-lihat portfolio saya, salah satu isinya adalah tugas akhir, desain interior museum mainan tradisional. Jadi ingat perjalanan singkat saya dan si adik ke Singapur untuk melihat desain museum di luar sana. Kenapa ke Singapur? Ya, karena paling dekat dan paling terjangkau. Oiya, kalau adik saya si tugasnya nemenin aja.

Berhubung survey ini agak mendadak, saya ga sempat masukin ini di laporan. Daripada mubazir, saya tulis di blog ini aja, siapa tau berguna buat yang lain. Enjoy!

Photo from here

21.9.12

His Work in Indonesia Design Magazine

Seteleh apartemen kami tampil di Majalah iDEA beberapa bulan lalu, sekarang giliran W rekan hidup saya (baca: suami) yang muncul di majalah. Bukan di iDEA, tapi di Indonesia Design, 9th Anniversary Special Edition. Artotel Surabaya, salah satu karya W bersama kantornya tersayang Tata Wastu Asia. Hehe. 



Penampakan di majalahnya dengan foto Pak Ariya (kiri) dan si W (kanan)

Sesuai namanya, Artotel Surabaya ini adalah Hotel dengan nuansa seni yang kental. Desainnya pun berkolaborasi dengan beberapa seniman muda Indonesia. Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan baca majalahnya. Hehe.

Beberapa waktu lalu karya ini juga memenangkan dua penghargaan HDII Award 2012, untuk kategori Hospitality dan Most Favorite. 

Nah, karena gambarnya tidak jelas, ini saya tampilkan foto-foto versi lebih bagusnya. 

Lobby

 

Cafetaria / Elevator



Rooms

Doors

*Photo Source: Ariya Sradha Fb Page

19.9.12

Solo - Minggu Pagi

Cerita ini mungkin ga terlalu penting, hanya sambungan dari tulisan terdahulu Solo, Malam Minggu. Maklumlah, saya penggemar berat film Before Sunrise dan Before Sunset, jadi saya juga pengen nulis dengan judul yang serupa tapi tak sama tapi berkesinambungan.

Minggu pagi saya masih punya waktu untuk jalan-jalan di Solo. Pesawat ke Jakarta masih jam 12 siang. Ga punya ide mau kemana, juga ga berhasil menemukan inspirasi walaupun udah browsing-browsing.

Selesai sarapan soto ayam, saya dan rekan perjalanan (sebut saja nama nya si W) akhirnya memutuskan untuk pergi ke Keraton saja. Ternyata kami masih kepagian, 'keratonnya belum buka' kata pak tukang becak, yang kemudian menawarkan kami untuk keliling-keliling naik becak dulu.

Keliling naik becak
Dua puluh ribu rupiah biayanya. Saya sih senang-senang saja keliling-keliling di kota orang. Sambil foto-foto seadanya. Bikin saya jadi pengen beli kamera 'beneran' supaya fotonya lebih bagus.

Rute naik becaknya: keraton - gerbong pendamping kereta jenazah - kebo bule untuk malam satu suro - kereta Jenazah - kampung wisata - keraton. Ini fotonya sesuai urutan.







*Setelah keliling-keliling kami ga jadi masuk keraton karena mau langsung ke bandara saja.

Moral
- Saya lebih suka keraton ini dari pada keraton Jogja, walaupun bentuknya mirip karena salah satu arsitek utamanya sama. Lebih suka karena warna putih-biru adalah favorit saya. Haha. 


Previous >> Solo - Malam Minggu

12.9.12

Solo - Malam Minggu

Malam minggu kemarin saya ada di Solo. Bukan khusus untuk jalan-jalan, tapi ada nikahan saudara di Ngawi pagi harinya. Selesai acara, saya dan keluarga beranjak ke Solo karena tak banyak yang bisa dilihat di Ngawi.


Fave Hotel
Kami menginap di Fave Hotel, Solo Baru yang baru buka selama tiga bulan. Baru soft opening jadi masih ada promo. 

Desainnya serupa sama hotel bintang dua yang mulai menjamur belakangan ini. Bedanya ada jendela antara kamar tidur dan kamar mandi. Hohoho. Tapi ada rolling blind-nya kok kalau gak mau diintip. 



Nasi Liwet
Selesai check-in, kami makan malam nasi liwet khas Solo. Diajak makan di lesehan sama Pak Pur, supir mobil yang kami sewa. Lesehannya beneran lesehan, ga ada mejanya. Hanya tiker di trotoar yang sempit dan gelap. Perdana makan di lesehan tipe ini. (Eh ngga deng pernah pas di Jogja). Enak banget si makanannya, entah karena ga kelihatan, sangking lapernya, atau emang enak. Plus harganya murah, berlima lima puluh ribu.

Galabo
Sudah kenyang saatnya ngemil. Kami mampir ke gladag langen bogan (Galabo). Makan wedang ronde yang ga kerasa jahenya dan sate buntel yang saya ga coba karena sudah kekenyangan.





Malam minggu yang cukup singkat.

Next >> Solo - Minggu Pagi

6.9.12

My Cactus-Succulent Family

Akhirnya saya berhasil move on. Hahaha. Bukan, bukan, ini bukan tentang percintaan atau apa tapi tentang kaktus. Masih inget cerita saya tentang My Cactus Tale? Kalau inget syukur, kalo ngga ya juga ga papa. Intinya, setelah beberapa kali gagal merawat kaktus, sekarang saya sudah punya kaktus baru!

Libur lebaran kemarin, saya dan keluarga jalan-jalan ke Bandung dan Lembang. Berkat cerita dari teman saya mas Agah, saya membawa keluarga saya mampir ke Rumah Bunga Rizal di Lembang. Tempat ini adalah tempat pengembangbiakan anggrek dan kaktus yang kemudian dibuka jadi tempat wisata.

Aneka ragam kaktus dan sukulen, sampai bingung liatnya


Karena kaktus dan sukulen (secara teori) lumayan mudah dirawat, harganya murah, dan bentuknya lucu-lucu, kami berakhir beli satu atau dua setiap orang. Keluarga saya bertambah deh dengan lima kaktus dan tiga sukulen. Welcome to our family! Mari sini saya perkenalkan.


Mama dan Damon si kaktus // Ade saya, si kaktus kelinci, dan sukulen tanpa nama

Si suami dengan Janome dan Manoj the succulent // Saya dan si Bos the cactus

Kakak ipar dan Geox si Kaktus // Kakak saya dan kaktus bernama Zara

Selain yang kita beli ini masih banyak jenis kaktus lainnya di sana. Fyi kaktus saya paling mahal harganya, dua puluh lima ribu. Saya juga ga tau kenapa. Yang lain harganya lima sampai lima belas ribu. Awalnya adik saya mau beli kaktus jenis lain, tapi ternyata itu kaktus langka yang harganya 150 ribu, hehe.

Walaupun di-posting tentang kaktus sebelumnnya saya sudah pernah nulis tentang tips merawat kaktus, tapi karena kemarin saya dikasih tips lebih detailnya dari Rumah Bunga Rizal jadi saya kasih lagi ya.


Tips Merawat Kaktus Ala Rumah Bunga Rizal

- Simpan di tempat terang, karena tanaman kaktus menyukai banyak cahaya matahari. Minimal 5 jam sehari.

- Kebutuhan air: siram bila media tanam sudah kering, sampai basah (air siraman keluar dari lubang pot). Penyiraman berikutnya tergantung cuaca dan penguapan, biasanya 2-3x seminggu.

- Kebutuhan pupuk: larutkan pupuk pertumbuhan 1 sendok teh/ 4 liter air, kemudian siramkan pada media secukupnya dengan interval 2 minggu skali. (Kata mang nya pakainya pupuk urea)

- Pengendalian/pencegahan hama dan penyakit: larutkan Fungisida + Supracide + larutkan dalam air, kemudian semprotkan pada seluruh bagian tanaman dengan interval 2 minggu sekali. (Ini saya juga ga ngerti hehe)

- Perbanyakan: dengan stek dan biji

Selamat berkebun dan sukses! (ini juga dari lembaran tipsnya, bukan kata saya)



*Photo by lala and me

5.9.12

Batu - Jawa Timur Park 2

(My Travel Series)
__________
Sabtu, 7 April 2012


Seminggu setelah pulang dari Hong Kong dan Singapur, saya kembali jalan-jalan. Horeee. Kali ini ke nikahan temen saya Devi di Malang. Dari Jakarta saya dan teman-teman dari majalah iDEA naik pesawat ke Surabaya (karena lebih murah daripada langsung ke Malang). Surabaya ke Malang kami menyewa mobil travel.

Mumpung udah sampai Malang kita pun sempet jalan-jalan ke Malang dan sekitarnya. Salah satu tempat favorit saya dalam perjalanan ini adalah Jawa Timur Park 2 (Jatim Park 2). Pas mau ke sana ekspektasi saya sungguh rendah. Haha. Kebayangnya paling taman hiburan sejenis Ancol tapi versi lebih jelek. Tapi saat sampai saya sudah mulai berubah pikiran. Eh arsitekturalnya bagus juga.


1. Gedung sebelah kiri: Museum Satwa, kanan: Pohon Inn Hotel.//
2. Batu Secret Zoo, letaknya di sebelah Pohon Inn Hotel


Ada empat pilihan tiket masuk: Museum Satwa, Batu Secret Zoo, Jatim Park2+Museum Satwa, Jatim Park 1+Jatim Park 2. Meski sempet bingung dan terjadi perdebatan seru di depan loket, akhirnya kami membeli tiket Jatim Park2+Museum Satwa.

Museum Satwa
Masuk ke gedung putih ala Yunani ini saya masih under estimate. Sebagus-bagusnya museum di Indonesia kayak apa sih, pikir saya jahat. Ternyata saya salah lagi, museum yang ini jauuuhh lebih bagus dari perkiraan saya. 



3. Disambut dinasaurus saat masuk// 4. Teman saya Sherly di depan 
diorama yang super realistis// 5. Diorama tiga dimensi lainnya. 


Selain penuh dengan diorama yang dibuat serealistis mungkin, Museum ini juga cukup tidak terduga, misalnya  display di bagian serangga dibuat bergerak-gerak seakan si serangga masih hidup. Selain itu, juga ada pertunjukan boneka-boneka binatang menari-nari. Seru. 

Batu Secret Zoo
Beda dengan kebun binatang pada umumnya, di Batu Secret Zoo kita tidak bebas memilih mau lihat binatang apa. Hanya ada satu flow yang harus diikuti dari awal sampai akhir. Mungkin itu alasan namanya Batu Secret Zoo. Serunya, kebun binatang ini dibuat bertingkat dan berliku-liku, pengunjung jadi tidak bisa menduga binatang apa yang ada selanjutnya. 

Sayang, saat kami ke sana hujan, jadi setengah perjalanan kami lewat jalan potong rumpu-rumput yang sepertinya hanya untuk petugas dan lari sekencang-kencangnya. Untung ga ketemu Harimau atau apa.

Btw, makasi ya Fredi, yang udah ngajakin kita semua ke sini.

Moral 
- Kalau ke Malang, wajib pergi ke sini.
- Jangan lupa bawa payung, rugi kalau hujan.
- Jangan lupa mampir ke toko oleh-olehnya, ada souvenir Jatim Park yang lumayan bagus, serasa souvenir dari luar negeri. hehe. Saya beli tempelan magnet sama klip.
- Untuk informasi lebih lanjut tentang jam buka, harga tiket, peta, dan info-info lainnya silahkan kunjungi official website-nya di Jawa Timur Park 2
- Oiya, untuk sekedar info aja Jatim Park 1 itu isinya amusement park. 

3.9.12

Book Review: The Terrible Thing That Happened To Barnaby Brocket

Buku bulan Agustus saya. Sungguh buku yang judulnya panjang sekali. Saya beli tentu karena gambar cover-nya yang menarik hati. Hehe.

Penulisnya adalah John Boyne, pengarang buku The Boy in Striped Pajamas. Meski saya belum baca bukunya, tapi film The Boy in Striped Pajamas adalah salah satu film paling sedih yang pernah saya tonton. Jadi pas bersiap baca buku barunya ini, saya udah siap-siap untuk jadi sedih. Untungnya cerita gak terlalu menyedihkan.

Bercerita tentang seorang anak bernama Barnaby Brocket yang sejak lahir selalu melayang karena tubuhnya anti terhadap gravitasi. Sayangnya, Barnaby lahir di keluarga yang menganggap dirinya 'normal' dan tidak ingin terlihat berbeda, unik, atau menonjol dari orang lain. Kelainannya ini lalu membawanya ke pengalaman-pengalaman baru yang tak pernah terpikirkannya.

Picture from goodreads

Moral
Sesuai sampulnya, buku berjudul ekstra panjang ini adalah buku anak-anak, jadi kalau suka bacaan ringan penuh imaginasi silahkan baca. Saya si suka-suka aja, meskipun ga tergila-gila ya. 8 dari 10 lah.