18.4.12

#3. Hong Kong - The Peak / Madame Tussaud

(My Travel Series)
________
Selasa, 27-3-2012
Hong Kong-Singapore Trip
Day 2


Ayo lupakan octopus card dan kembali ke hari kedua. 


Setelah pagi-pagi pergi ke dokter, siangnya saya merasa baikan. Kayaknya sih cuma masalah mental. Begitu dibilang ga papa langsung merasa sehat. Hehe maklum, saya emang sedikit paranoid kalau tentang kesehatan. Ayo jalan-jalan! Begitulah kata hati saya sekarang.

Di hari kedua di Hong Kong ini, saya dan si W berencana ke Stanley Market dan The Peak. Berhubung pagi-paginya kami ganti haluan jadi ke klinik, kami putuskan untuk men-skip Stanley Market dan langsung menuju The Peak.

Ada banyak cara menuju tempat wisata ini. Kami memilih naik Peak Tram, karena menurut si mama, yang udah pernah ke sini, naik peak tram punya keseruan tersendiri. Untuk naik kendaraan yang sudah beroperasi dari tahun 1888 ini kita harus naik MTR menuju central station lalu berjalan kaki ke Peak Tram Lower Terminus. Dari central station menuju terminalnya memang ga terlalu dekat, tapi berkat adanya sign system dimana-mana kami bisa sampai ke sana tanpa harus buka peta. Bravo!

Entah karena kami sampainya siang atau memang begitu sepanjang hari, terminalnya ramai. Awalnya sempet bingung harus kemana karena ada dua buah loket dan satu jalan tanpa lewat loket. Satu loket The Peak, satu Madame Tussaud, dan satu lagi jalan langsung untuk pengguna Octopus Card.

Di sana ada banyak pilihan paket tiket yang bisa dibeli. Saya dan W suami saya dari awal memang berencana untuk beli tiket pulang-pergi + sky terrace + Madame Tussaud, harganya $220 HK. Tiket kombo semacam ini tentunya lebih murah dari pada beli satu-satu. Awalnya kita ngantri di loket The Peak, tapi ternyata kalau mau beli tiket kombo yang ada Madame Tussaudnya belinya di loket Madame Tussaud.

Naik The Peak Tram
Seruuu... Rasanya mirip naik kereta uap yang di Ambarawa tapi dengan kecepatan yang lebih tinggi dan tentunya derajat kecuraman yang lebih tinggi juga. Baru pertama kali saya naik kereta menanjak semacam ini. Kemiringan relnya mencapai 27 derajat. Dari dalam kereta saya bisa melihat pemandangan Hong Kong dari atas. :)


Lunch Time!
Setelah perjalanan yang lumayan singkat naik The Peak Tram kami sampai the Peak. Begitu turun dari kereta dan masuk menuju gedung kami langsung di sambut toko oleh-oleh. 

Krucuk.. krucuk.. Karena sudah siang, kami memutuskan untuk makan dulu sebelum menjelajah The Peak. Agak bingung memilih makan dimana, karena merupakan lokasi wisata, tempat makan di sini lumayan mahal. Satu-satunya yang terjangkau sepertinya McD. Namun, karena tadi pagi kami sudah makan McD, pilihan itu dibuang jauh-jauh. 

Setelah pertimbangan yang matang *kesannya apaan, diputuskan untuk makan di restauran Spaghetti 360. Pemandangannya lumayan bagus di sini, harganya pun, meski mahal, tampaknya ga setinggi di restauran lainnya. Makan berdua sekitar 200-300rb rupiah kalau saya ga salah. Pastanya enak. Rasanya mirip Pasta de Waraku kalau di Indonesia.

Pasta salmon pilihan saya. Yumm :9


Madame Tussaud
Akhirnya impian saya untuk ke Madama Tussaud sejak SD terkabul juga. Alhamdulillah. Waktu SD si mikirnya mau ke Madame Tussaud yang di Belanda, tapi ternyata Allah mengabulkannya di tempat lain.

Tempat ini cocoklah ya buat orang-orang yang suka narsis. Hehehe.. Selain tokoh dunia dan artis internasional, di cabang Hong Kong ini ada beberapa artis Cina dan asia lainnya. Saya ga begitu kenal. Paling juga yang kenal si Barbie Tsu, pemeran San Cai di Meteor Garden.

Kiri-tengah: Foto bareng astro boy dan obama. Kanan: Menggantikan boneka lilin yang lagi dibawa
 ke Madame Tussaud Bangkok


Sky Terrace 428
Puas foto-foto sama artis dari lilin, kami berdua lanjut naik ke atap gedung - Sky Terrace 428. Wiiiihhh... Pemandangan sore yang bagus. Dari sini pulau Hong Kong Bisa terlihat jelas. Dari mulai bisa lihat gedung-gedungnya, bagian laut yang sepi, juga the peak tram dari atas. : D


             
Kiri: Pemandangan dari Sky Terrace 428; 
Kanan: Kami di depan gedung tempat Sky Terrace, Madame Tussaud, dan terminal the peak tram berada.


Saatnya kembali ke hotel dan beristirahat. Kami pun meluncur mundur di dalam tram kembali ke terminal di bawah sana. *soalnya kalau pulang tremnya jalan mundur alias penumpangnya tetep menghadap ke atas.


Moral
Sebenernya bukan moral si, sekedar tips-trik aja.

- Bagi yang ga pinter nawar, belanja oleh-oleh di the peak adalah pilihan bijak. Kalau dibandingin di pasar-pasar di kota harganya lumayan murah, terutama kalau belinya ga borongan. 

- Di tempat wisata di Hong Kong ada banyak jebakan foto. Jadi kita difoto di depan berbagai layar, diprint, lalu dijual dengan harga yang lumayan mahal. Misalnya sebelum naik tram dan masuk madame tussaud. Sebenernya bukan jebakan si kalau Anda emang pengen foto langsung jadi dengan pemandangan  yang bagus. Hehehe. Kalau emang ga mau beli mending nolak aja pas mau difoto biar ga tergoda pas udah jadi. Hehe

- Kalau mau liat informasi lebih lanjut tentang the peak bisa diliat di www.thepeak.com.hk dan http://www.madametussauds.com/HongKong/en/ 



10.4.12

#2. Hong Kong - Octopus Card

(My Travel Series)

_________
Senin, 26-3-2012 s/d Jumat, 30-3-2012
Hongkong-Singapore Trip
Day 1- 5

Misalnya ada yang tanya : "Apa yang kamu paling suka dari Hong Kong?"
Saya pasti bakal jawab: "Octopus Card!"




Octopus Card adalah kartu sakti yang bisa dipake  membayar segala moda transportasi di Hong Kong. Mulai dari MTR (subway), bus, bus tingkat, trem, sampe ferry. Tinggal di tempelin ke sensornya, ke debit deh saldonya. Selain itu, kartu yang satu ini juga bisa dipake buat belanja di 7Eleven, bayar rumah sakit, sampe untuk ngasih sumbangan di kotak sumbangan . Keren banget kan...

Mengikuti saran semua orang yang sudah pernah ke Hong Kong, Saya dan W si teman perjalanan membeli kartu sakti ini begitu sampe di bandara. Setelah celingak-celinguk kebingungan akhirnya kita tau kalau belinya di booth penjualan tiket kereta yang ada di sana. Harganya $150 HK.

Setelah beli Octopus Card, kami pun naik Airport Express menuju tengah kota. Begitu sampe di stasiun Central, kita berdua ga bisa keluar karena saldonya jadi $0. Jeng! jeng!

"Mahal juga ya..," kata si W.

Kami pun langsung isi lagi kartunya masing-masing $100HK sambil deg-degan jangan-jangan bakal sangat cepet abis. Ternyata kita berdua cuma salah sangka. Dari $150 itu, $100 ongkos naik airport express yang jaraknya emang jauh banget, $50 buat deposit yang bisa diambil lagi. Sementara $100 yang diisi kemudian itu ternyata cukup buat jalan-jalan di dalam kota selama 5 hari, ada sisanya malahan. Fiuuuhhh....

Saat mau meninggalkan Hong Kong, kita isi lagi kartunya $100 untuk biaya airport express balik ke bandara. Di sana, kita menukar si kartu yang selalu ada di kantong selama lima hari itu dengan deposit uang $50 plus sisa saldonya. Bye bye octopus card!

*Fyi octopus card ini bisa diisi di semua 7Eleven yang ada hampir di tiap jengkal Hong Kong. Juga bisa dipake tanpa harus ngeluarin dari dalam dompet.


Moral
Kalau ada yang mau ke Hong Kong kartu ini adalah kartu yang wajib dipunyai. Selain praktis ga usah siapin uang kecil setiap naik angkutan umum, juga karena karena ada diskon khusus untuk pengguna octopus card.


Selanjutnya  >> #3. Hong Kong - The Peak / Madame Tussaud
Sebelumnya >> #1. Hong Kong - Halo Dokter

9.4.12

#1. Hong Kong - Halo Dokter!

(My Travel Series)

Sebenernya bingung mau mulai cerita dari jalan-jalan yang kemana, berhubung dari dulu ga pernah ditulis di sini.  Tapi ya sudah, dari sini saja. Hong Kong - Singapore Trip di bulan Maret - April 2012. Kenapa ini? Ga ada alasannya si, pengen aja.

Cerita jalan-jalan biasanya memang ditulis dari hari pertama. Tapi, hari pertama acara jalan-jalan ini dihabiskan di jalan. Subuh-subuh berangkat dari rumah, lalu naik pesawat air asia, transit di Kuala Lumpur pada siang hari, dan akhirnya sampai di Hong Kong malam. Ga terlalu seru, makanya diloncat saja langsung ke hari ke dua.
___

Selasa, 27-3-2012
Hong Kong-Singpore Trip
Day 2


Pagi pertama di Hong Kong. Wiih, kemana dulu ya enaknya. Pilihan jatuh pada Anne Black General Out-Patient Clinic di North Point, Hong Kong. Hahaha. Jelas bukan pilihan wisatawan normal, tapi pilihan wisatawan yang lagi demam kayak saya.

Kemarin waktu sampai di Bandara saya distop sebelum sampai ke imigrasi gara-gara terdeteksi demam sama sensor suhu tubuh yang ada di sana. Saya pun diukur suhunya pake alat pengukur suhu yang dimasukin ke dalam telinga. 38.1 derajat celcius. Untung ga tinggi-tinggi amat. Tapi saya tetep dikasih masker dan dibawa ke sejenis klinik dan tempat isolasi. hihihi. Serem juga sebenernya. Untung setelah ditanya gejala-gejala dan riwayat perjalanan saya, si mbak suster ngebolehin saya masuk ke Hong Kong. Fiuuuhhh....

Sampe hotel saya tetep demam dan mengigil, jadilah si W rekan perjalanan sekaligus suami saya browsing klinik terdekat. hehehe. 

Anne Black General Out-Patient Clinic lumayan deket dari tempat saya nginep, Ibis Hotel. Jalan kaki pun sampai. Masuk-masuk sempet bingung harus kemana. Untung ada suster yang cekatan mendatangi kami dan membantu.

Gak kayak di Indonesia, di sini hal pertama yang dilakukan adalah daftar dan bayar. Karena saya bukan penduduk Hong Kong saya harus bayar 215 HK dollar (kursnya 1.200 rupiah, jadi sekitar Rp258.000,00). Kalau orang lokal cukup bayar $45 saja. Biaya ini sudah termasuk biaya dokter dan obat.

Saya lalu ditimbang dan diukur tingginya. Lalu, self-service menensi darah di alat yang sudah disediakan. Nanti keluar kertas berisi hasilnya gitu. Cool banget. *norak. 

Dari sana, saya ketemu suster di satu ruang khusus. Si suster nanya-nanya tentang data diri dan keluhan-keluhannya. Juga dibuatin buku riwayat penyakit yang (kayaknya) bisa dipake di setiap rumah sakit karena datanya dimasukin secara online. Bukunya gratis dan boleh dibawa pulang.

Kekerenan lainnya, si suster udah tau kira-kira jam berapa saya akan dipanggil ketemu dokter dari urutan antrian yang lumayan ramai. Saya disuruh jalan-jalan dulu dan balik lagi di jam yang telah ditentukan. Tapi begitu tau saya demam, mbak suster langsung mempersilahkan saya duduk di tempat duduk khusus.

"Pasien yang demam diprioritaskan, jadi kamu bakal lebih cepet dipanggil," kata mbak suster pake bahasa Inggris yang lumayan jelas.

Saya (bermasker) duduk di tempat duduk khusus

Gak lama, saya pun masuk ke ruang dokter. Bu dokter lalu buka data di komputernya tentang saya. Nanya-nanya saya keluhannya apa. Lalu memeriksa saya sedikit. Semua data pemeriksaan ini langsung dimasukin ke komputer. Saya ga papa kalau kata bu dokter. Karena beberapa hari sebelumnya saya nginjek paku payung, saya pun nanya apa mungkin saya demam gara-gara itu. Ngga katanya. Tapi buat jaga-jaga dia akan minta suster bersihin lukanya.

Selesai dari dokter saya disuruh ke apotik untuk ngambil obat. Lalu ke ruang lain lagi untuk bersihin luka yang sebenernya cuma setitik. Tadinya berniat kabur karena antriannya kayaknya lama. Tapi mbak suster yang super berdedikasi ngeliatin saya terus sambil bilang, 'tunggu ya'. Hehe ga jadi kabur deh.

Di sana luka saya diobatin. Mbak suster yang ngebersihin awalnya mengira saya ke dokter di Hong Kong cuma gara-gara luka setitik. Hahahaha. Keren banget masa ketusuk paku payung aja berobatnya ke Hong Kong. Setelah dibersihin dia menyarankan saya buat balik lagi besok untuk dibersihin lagi. Biayanya $70 kalo besok dateng. Saya ga dateng lagi.


Moral
Pelayanan kesehatan di Hong Kong super menyenangkan menurut saya. Suster-susternya super helpful dan ramah. Kalau ada yang perlu daftar klinik di Hong Kong dan info lainnya bisa diliat di sini.

Lain kali saya juga kayaknya harus beli travel insurance sebelum pergi ke luar negeri, terutama yang negaranya mahal biaya hidupnya.

Selanjutnya >> #2. Hong Kong - Octopus Card

My Travel Series


Sudah lama sekali ga nulis di sini. Campuran antara sibuk dan memang sedang malas menulis. Hehe.. aneh juga bilang sibuk padahal udah resign dari kerjaan. Tapi sibuk itu kan memang bisa datang dari mana saja. haha. Sekarang setelah semua sibuk-sibuk itu telah terlewati, saya jadi pengen nulis lagi. Nulis tentang jalan-jalan. Satu dari sedikit hal yang teramat saya sukai.

Jalan-jalan itu banyak sekali ceritanya. Karena panjang, saya selalu gagal nulis di sini. Abisnya kalo udah kepanjangan rasanya pengen cepet-cepet udahan. Pengen nulis bla bla bla bla aja biar cepet. Nah, biar ga gagal lagi, kali ini saya memutuskan untuk nulis pengalaman jalan-jalan dalam cerita-cerita pendek saja. Biar saya enak nulisnya dan kamu pun ga capek bacanya.

My travel series, judul yang sok-sok ditulis pake bahasa inggris karena kalo ditulis pake bahasa Indonesia jadinya 'seri perjalanan saya', yang kedengerannya kayak cerita bocah picisan.

Selamat menikmati!