18.12.12

Weekend Project: Lemari Besi Siku

Ada perkembangan baru di apartemen saya baru-baru ini. Lemari baru! Hore! Bukan lemari yang wah atau bagaimana. Hanya lemari besi biasa yang kami (saya dan si w) buat sendiri. Walaupun biasa-biasa saja, tapi lemari ini berhasil menaikan derajat ruang kecil ini dari gudang menjadi ruang kerja plus ruang simpan yang lebih rapi. 

Awalnya kami mau bikin lemari simpan yang bagus. Dengan bracket dan cermin sebagai pintunya supaya si ruang kecil berubah jadi luas. Masalahnya, bikin lemari seperti itu lumayan mahal. Berarti harus nabung dulu, berarti masih lama, dan berarti ruang ini jadi gudang juga akan masih lama. Oh no. 

Ya sudah, diputuskan untuk beli lemari besi saja yang lebih terjangkau. Masalahnya satu, panjang ruangnya dua meter kurang dua centimeter. Hanya karena dua centimeter, kami ga bisa beli lemari jadi yang tinggal dirakit karena modul lemari fabrikasi adalah per-satu meter. Terpaksa buat custom.



si lemari dan dimana boksnya dibeli

Lemari custom bikinnya ribet, ini yang kami lakukan: 
1) Beli rangka besi di Panglima Polim. Warnanya hanya ada perak. 
2) Minta OB kantor si w ngecat si lemari pake pilox putih. 
3) Besi L untuk struktur tambahan belum dipilox, akhirnya saya yang ngerjain. 
4) Si rangka besi kami rakit. Lagi tengah-tengah ngerakit dateng tamu. Jadilah apartemen kecil penuh orang dengan halang rintang berupa lemari besi belum jadi di tengah-tengahnya. 
5) Murnya dikasihnya kurang. Beli dulu. 
6) Ukur bidang untuk kayunya, kami maunya pake medium-density fibreboard (MDF). Biar lebih bagus kelihatannya.
7) Nyari MDF di sekitaran Pasar Minggu. Cuma ada satu toko yang jual dan ga bisa minta potongin. Gagal. 8) Minta si OB kantor lagi buat beliin MDF. Dia ga nemu, akhirnya dia beli chipboard 18mm yang dipotong sesuai ukuran. 
9) Pasang chipboard. 

Panjang kan ceritanya. Intinya saya dan si W menghabiskan seharian di long-weekend November kemarin untuk bikin lemari ini. Begitu beres, kami dengan senang hati menata boks-boks di sana. Boks-boks yang kami punya memang ga seragam karena saya dan si w ga satu selera. Saya ga suka boks yang ada warnanya. W ga suka boks yang ga ada 'kunciannya'.

Kalau saran dari Amanda di serial the Amanda's (acara tentang mengorganisasi rumah) : Gunakan boks tanpa tutup. Boks yang ada tutupnya hanya akan membuat kita lupa apa isinya dan barang di dalamnya jadi tidak dipakai. 

Tapi si W ga suka sama acaranya Amanda. Jadi boksnya tetep ditutup deh. Huhu

Moral
- Saya ga yakin bikin lemari besi siku custom kayak gini jatuhnya lebih murah dari lemari beneran yang dibuat tukang. Terutama kalau menghitung effort-nya. Yah namanya juga proyek coba-coba.

- Sebaiknya jangan warnain besi siku pakai pilox. Mudah mengelupas dan kalau sehabis itu dibungkus koran, korannya nempel.

- Alasan kami mau pakai mdf/chipboard yang tebalnya 18mm adalah supaya kelihatannya lebih bagus daripada pakai tripleks.

- Info tambahan
MDF: kayu yang dibuat dari serat-serat kecil kayu yang dicampur sejenis lilin dan resin lalu di-press dalam bentuk panel dengan tekanan dan suhu tinggi. Kelebihannya permukaan rata. Kekurangannya tidak kuat air dan lembab.

Chipboard / Particle Board : Mirip seperi MDF tapi dibuat dari serpihan-serpihan kayu yang lebih besar-besar. 

14.12.12

Saat Saya Susah Bangun Pagi

Beberapa bulan ini saya susah bangun pagi. "Kamu tidurnya kemaleman si," kata suami saya yang udah bosen denger saya ngeluh setiap bangun kesiangan (baca: setiap hari). "Ok, malem ini aku tidur jam 9!" Jawab saya setiap dia bilang begitu.

Malam hari. Saya ingat kalau saya mau tidur cepat. Jam 9 masih terlalu dini, akhirnya saya baru beranjak ke tempat tidur jam 10. Tidurpun ga dengan tangan kosong, tapi disenjatai alarm dan hp ber-alarm yang saya taruh di sebelah tempat tidur. Ga lupa baca doa yang salah satu isinya adalah supaya saya besok bisa bangun pagi. 

Berhasil? Tentu saja tidak. Kalau berhasil saya ga bakalan nulis di sini. Gagal karena saya selalu merasa belum ngantuk dan baru ketiduran saat sudah malam. Ah. Saya pun mulai bertanya-tanya. Waktu di Bandung dulu saya mudah sekali tidur cepat dan bangun pagi. Mengapa oh mengapa.

Akhirnya pagi ini entah kenapa saya berinisiatif untuk bertanya pada yang banyak tau, sebut saja namanya google. Banyak sumber bilang caranya ya harus tidur cepet. "Yeiii itu sih saya juga tau tapi ga berhasil," cibir saya dalam hati. Iya, saya emang anaknya suka gitu. 

Tapii... lalu saya nemu satu artikel wolipop yang bilang begini: 

"Kurang kena sinar matahari akan membuat seseorang tidur lebih larut, tidak cukup tidur dan akhirnya merasa malas," ujar Dr Mariana Figueiro dari the Rensselaer Polytechnic Institute Lingting Research Centre, New York seperti dilansir dari detikhealth.

Artikelnya lumayan panjang, intinya, terlalu banyak di ruang tertutup dan ga mendapat sinar matahari pagi membuat jam biologis seseorang jadi terganggu. Gejala ini namanya 'teenage night owl syndrome' karena lebih banyak dialami remaja. 

Hore saya senang. Walaupun saya belum melakukan apapun supaya saya lebih banyak kena matahari di apartemen yang penuh gedung ini, paling ngga saya udah tau penyebabnya. 

"Kalau gitu aku pake kostum kaktus aja ya, terus tiap pagi berjemur di luar," kata saya, tentu saja dengan maksud bercanda

"Loh ya malah ga kena matahari kalau pakai kostum, gimana sih kamu," yang ternyata ditanggepi serius sama si suami. Hehe. 

Image by Nadyabird

Moral

- Kalau mau baca artikel lengkap tentang teenage night owl syndrome, silahkan lihat di sini

-Yuk sering-sering kena matahari! *ngajak-ngajak

12.12.12

Book Review: Nabi Muhammad, Satu Cerita Dua Buku

Dari sekian banyak buku tentang nabi Muhammad, baru dua yang sudah saya baca yaitu Muhammad - a prophet for our time karya Karen Armstrong dan 365 Hari Bersama Nabi Muhammad saw. Ceritanya sama-sama tentang nabi Muhammad dari lahir sampai meninggal, tapi keduanya diceritakan dengan cara yang sangat-sangat berbeda.

Muhammad - a prophet for our time

Ini buku bulan November saya. Selesai dibaca hanya dalam satu hari, tidak tebal memang. Kalau biasanya buku-buku tentang nabi Muhammad ditulis oleh dan untuk orang muslim, buku yang ini tidak. Buku karya Karen Armstrong tersebut diterbitkan pertama kali tahun 1991, namun kemudian direvisi dan diterbitkan kembali paska tragedi WTC.

(source: here)

Inti dari buku ini adalah meluruskan image nabi muhammad dimata orang barat. Kalau saya sih dari awal juga udah tau, jadi ga perlu diluruskan lagi. Hehe. Tapi yang saya suka dari buku ini adalah bagaimana Karen Armstrong menjelaskan tentang keadaan politik di zaman nabi. Kalau dulu saya mengertinya sekedar nabi Muhammad dalam menyebarkan islam bertemu banyak kesulitan, sekarang saya jadi kebayang gimana sulitnya. Sulit banget ternyata. Hah, saya si mungkin udah angkat tangan kabur kalau dikasih tugas seberat itu. haha. 

Mungkin karena tujuan buku ini lebih untuk meluruskan pendapat yang salah tentang nabi Muhammad, di dalamnya tidak banyak cerita mengenai teladan-teladan yang bisa ditiru dari Rasulullah. Isinya lebih membeberkan fakta-fakta berdasarkan catatan sejarah dan bukan sesuatu yang sifatnya kepercayaan yang lebih sulit dipahami.


365 Hari Bersama Nabi Muhammad saw

Buku ini sudah selesai saya baca sekitar dua tahun lalu. Kalau buku sebelumnya saya baca satu hari, buku ini saya baca satu tahun. Tebal memang, tapi tentu saja bukan karena tebalnya. Sesuai judulnya buku untuk anak-anak ini berisi cerita  nabi dari lahir sampai wafat yang dipotong-potong menjadi 365 cerita pendek, sesuai jumlah hari dalam satu tahun. Meski sering tergoda untuk menyelesaikannya dalam sekali baca, akhirnya saya berhasil baca sesuai tujuan penulisnya.

(source: here)

Beda banget dari buku Karen Armstrong, buku ini memakai kata-kata yang mudah, cerita yang ringan dan dibuat sesederhana mungkin. Misalnya, untuk nama tidak ada satu pun yang menggunakan embel-embel bin atau binti. Saya suka.

Selain di dalamnya banyak gambar-gambar, buku tebal ini juga disertai peta. Jadi pembacanya bisa membayangkan dimana nabi Muhammad saat melakukan perjalanan dan hijrah.


Moral
- Meski beda, saya suka kedua buku ini. Masing-masing punya keunikan dan keunggulannya.

- Untuk yang punya anak, wajib punya buku 365 Hari Bersama Nabi Muhammad saw. Untuk cerita pengantar tidur.

- Buku Muhammad karya Karen Armstrong cocok untuk memperluas perspektif. Untuk mempertebal keimanan, saya rasa kurang.

3.12.12

#6. SG Trip - Singapore Philatelic Museum

(My Travel Series)
____________
Selasa, 26-1-2010
Singapore Museum Trip
Day 2


(Please note that this trip happened in 2010, there are probably some changes in the museum now)

Hari kedua di Singapura, juga hari terakhir. Memang kunjungan yang super singkat karena saya dan adik saya tidak sedang libur kuliah. 

Pagi-pagi sekali kami sudah check out dari hostel, the Mitra. Sengaja pagi-pagi agar punya waktu untuk foto-foto di Singapura supaya punya bukti kalau kami beneran pergi ke sini. Hehe.

Pergilah kami ke Esplenade yang tentu saja masih tutup, lalu berfoto dengan pemandangan Singapore flyers dan marina bay sands yang saat itu belum jadi. Juga sempat foto sama si singa Merlion. Panas sekali, mau meleleh rasanya. 


*** 

Akhirnya sudah agak siang, museum sudah buka tampaknya. Hari ini kami hanya akan pergi ke satu museum saja, karena takut tidak sempat dan ketinggalan pesawat.  Tujuan kami Singapore Philatelic Museum. Menurut kakak saya, museum ini seru. Yuk yuk menuju ke sana!

Sesuai namanya museum ini berisi informasi mengenai surat menyurat. Tapi juga ada beberapa area temporer dengan tema lainnya. Museum yang berada di Coleman Street ini cukup mudah ditemukan. Berhubung saya kurang pintar cerita tentang isi nya, ini saya kasih foto-fotonya aja ya, biar kebayang.

 Si ade dan sign Singapore Philatelic Museum

Saya pamer tiketnya. $6 untuk orang dewasa.

 Salah satu sudut Heritage Room. 


 Room of Rarities. Seru, bisa sok-sok an 
bawa kantong isi surat.


Purple Room. Ada capnya di dalam mulut. Hihi.


Aneka bentuk kotak surat di Purple Room. 
Pengen deh punya rumah yang ada kotak pos lucunya. 
Biar pak posnya juga terhibur. 

Ruang untuk anak-anak. Bisa pura-pura kerja di kantor pos. 
Juga ada meja untuk mewarnai.

Pemeran temporer tentang Filipina kalau ga salah. Lucu deh, 
lacinya isinya rempah-rempah, ada namanya satu-satu.


Masih di ruang pamer temporer. 
Lagi pakai kacamata 3d.


Dua foto yang nantinya keliatan jadi tiga dimensi.


Pameran temporer lainnya.


Kebetulan saya ke sini sewaktu tahun baru, jadi sedang ada pameran temporer tentang shio. Waktu itu tahun Harimau. Kerennya, bukan hanya ruang temporernya yang dihias, tapi tangga dan beberapa dindingnya dibuat gambar bekas cakaran harimau. Detail banget, salut.

Setelah semua ruang terjelajahi, jalan-jalan di museum pun selesai. Sudah dapat pencerahan, saat nya kembali ke Indonesia, mengerjakan tugas akhir supaya lulus kuliah (bagi yang belum tau, jalan-jalan ini dalam rangka survey untuk tugas akhir). Kira-kira itu yang akan saya tulis dua tahun yang lalu. Sekarang si sudah lulus. 

Moral
- Museum ini cocok sekali untuk anak-anak. Karena anak-anak bukan hanya melihat tapi bisa pegang, puter ini-itu, tarik ini itu. Interaktif lah pokoknya. Selain sangat interaktif semua ukurannya dibuat untuk anak-anak. Saya merasa segala sesuatu di museum ini kependekan. 

- Ruang untuk pameran temporer di museum ini sangat banyak. Bahkan perbandingan antara ruang permanen dan temporer sama. Jadi pamerannya sering berganti. Kalau mau berkunjung coba cek official website-nya di sini untuk tau pameran temporer apa yang sedang berlangsung.

- Bagi yang belum punya uang atau belum sempat ke Singapura tapi penasaran, silahkan liat virtual tour-nya dulu di sini.

- Karena museum ini tidak terlalu besar, menjelajahinya juga tidak butuh waktu lama. 1-2 jam sepertinya cukup.

- Untuk cara ke sana, harga, jam buka, dan lain sebagianya silahkan lihat di sini.  


Sebelumnya     >> #5. SG Trip - Peranakan Museum
Mulai dari sini  >> #1. SG Trip - Mint Museum of Toys

14.11.12

#5. SG Trip - Peranakan Museum

(My Travel Series)
_____________
Senin, 25-1-2010
Singapore Museum Trip
Day 1


(Please note that this trip happened in 2010, there are probably some changes in the museum now)

Mengunjungi Museum Peranakan setelah National Museum of Singapore adalah suatu kesalahan. Pertama, energi saya sudah terkuras cukup banyak paska keliling-keliling di museum nasional yang sungguh besar itu. Kedua, Setelah melihat museum besar dan sangat 'wah', Museum Peranakan jadi terlihat kecil dan biasa saja. Padahal Museum Peranakan ini sebenarnya menarik.

Museum Peranakan ini berisi tentang warga keturunan yang lahir di Singapura. Bagaimana ya menjelaskannya, intinya tentang beragam suku bangsa yang datang dan kemudian membangun keluarga di Singapura, asal-usul penduduk Singapura.

Untuk lebih jelasnya, ini saya kasih sedikit preview lewat foto. Silahkan.

Di luar Museum Peranakan


Kiri: Saya sedang mendengarkan penjelasan via head phone. //
Kanan: Si Ade dengan telpon kuno. Telpon-telpon ini bila didengarkan berisi bercakapan sesuai 
dengan jaman telpon ini digunakan. Seru deh.


Museum ini desainnya feminin sekali dengan warna-warna pastel, 
motif bunga, dan kupu-kupu.


Bagian favorit saya. Dua lukisan itu adalah video sepasang orang tua yang 
sedang memberikan wejangan tentang pernikahan. Di hadapannya 
ada kursi untuk duduk. Serasa diceramahin sama ibu-bapak beneran. Hehehe.


Wedding Outfit


Salah satu bagian dindingnya, suka sama gambarnya.


Ada cerita tentang wayangnya juga. 


Sudah sore, saya dan L, si ade pun memutuskan untuk menyudahi kunjungan ke museum untuk hari ini. Sebenarnya Museum Peranakan buka sampai pukul 7 malam, tapi kami sudah terlalu lelah. Saatnya mencari makan malam dan kembali ke Hostel.

Moral
- Kunjungi Museum Peranakan sebelum pergi ke National Museum of Singapore supaya tetap punya energi dan tidak kecewa.

- Museum ini berkesan muda dan feminin, bahkan terlalu sweet bagi saya yang sebenarnya suka yang lucu-lucu.

- Untuk informasi mengenai jam buka, bagaimana cara ke sana, harga tiket, dan segala informasi lainnya, silahkan lihat di sini.


Selanjutnya  >> #6. SG Trip - Singapore Philatelic Museum
Sebelumnya >> #4. SG Trip - National Museum of Singapore (Last Part)

4.11.12

#4.SG Trip - National Museum of Singapore (Last Part)

(My Travel Series)
__________
Senin, 25-1-2010
Singapore Museum Trip
Day 1

(Please note that this trip happened in 2010, there are probably some changes in the museum now)
Tulisan sebelumnya>> #SG Trip - Pameran Tetap National Museum of Singapore

Salah satu daya tarik museum untuk dikunjungi berulang kali adalah pameran temporer. Saat saya pergi ke museum ini, ada dua pameran temporer yang sedang berlangsung.

Tulisan ini mungkin tak banyak bermanfaat bagi yang ingin pergi ke sana dan tengah mencari informasi. Tapi saya tetap ingin menceritakannya karena menurut saya pameran temporer ini sama menariknya dengan pameran tetap.

The Bag - Carrier Bags in Singapore From The 1950s to The1980s
Pameran temporer pertama dengan judul yang panjang sekali. Tema dan objek yang tampak kurang menarik berhasil ditampilkan dengan desain yang apik. Hebat kamu hey desainer pameran!

Ade saya di depan pintu masuk

Di bagian dalam. Pamerannya tidak terlalu besar.

 Display kaca yang sederhana tapi bagus.

Salah satu display favorit saya.

Bahan pembuat kantong kertas di zaman itu.




Quest of Immortality - The World of Ancient Egypt


Pameran kedua, lebih besar dan lebih menarik. Sesuai judulnya, pameran temporer ini mengenai mesir kuno. Pameran ini bersifat sementara karena koleksinya berasal dari Kunsthistoriches Museum, Vienna. Saya beruntung tidak harus ke Vienna untuk melihatnya. Hehe. 

Selain koleksinya, pameran sementara ini juga menarik karena memiliki permainan-permainan interaktif. Tentu bukan sekedar permainan biasa tapi juga mengenai mesir kuno.

Silahkan pilih yang mana. Bentuknya saja piramid.

Cap huruf hieroglyph. Bisa tulis nama sendiri dengan hieroglyph.

Tutorial membuat origami piramid. Susaaah..


Menyalin tulisan mesir. Serasa Lara Croft. Haha.


Setelah puas bermain-main dan membuat ini itu, saya dan si ade pun masuk untuk melihat koleksinya. Benda pamernya terlihat lebih mistis karena hanya diterangi lampu-lampu spotlight di sana sini.

Judulnya maksa foto sama sphinx

Tulisan hieroglyph di batu.

Mumi. Sewarna-warni itu ternyata.

Tampak dalam peti, ternyata di dalamnya ada 
gambar berwarnanya juga, baru tau saya.

Selesailah jalan-jalan kami di Museum yang besar ini.

Moral 
- Museum ini wajib dikunjungi. Jangan lupa siapkan banyak waktu agar tidak terburu-buru, paling tidak setengah hari.
- Untuk tau berapa harga tiketnya (kalau pelajar diskon lo..), pameran temporer apa yang sekarang sedang berlangsung, cara ke sana, dan lain sebagainya, silahkan kunjungi official website-nya di sini.

25.10.12

Book Review: Miss Peregrine's Home for Peculiar Children

A mysterious island. An abandoned orphanage. A strange collection of very curious photographs. Fiction is based on real black and white photographs. The death of grandfather Abe sends sixteen-year-old Jacob journeying to a remote island off the coast of Wales, where he discovers the crumbling ruins of Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children, and explores abandoned bedrooms and hallways. The children may still live. (Goodreads)


picture from here

Yes, the cover looks creepy. Yes, there are many real vintage photographs inside that makes you scare. But other than that, there is no reason to be scared when you read this book.

It took me quiet long time to finish it, mostly because I am too afraid to read it alone. But after I finished it, I feel stupid. It is a children story or maybe teen story. Not too disappointed, because the story is quiet interesting and unpredictable but it is so far from what I expected.

If you want to read it just don't expect anything as creepy as the cover and you'll enjoy it I believe.

8.10.12

Book Review: Pattern Cutting Primer

Buku bulan September saya agak beda dari biasanya, Pattern Cutting Primer. Saya beli tentu karena saat itu lagi semangat-semangatnya menjahit. Sepertinya seru banyak gambar-gambar pola dan layout dalamnya rapi dan sederhana. Saya langsung beli begitu lihat penerbitnya page one, salah satu penerbit buku-buku interior yang saya suka.

Kegembiraan saya tentang buku ini ternyata berhenti di situ saja. Selain memakai banyak istilah tentang jahit menjahit yang saya ga familiar, ilustrasinya pun agak kurang jelas. Pola yang ada tidak dilengkapi gambar pakaian jadinya, saya ga kebayang nantinya akan seperti apa.

Picture from here

Moral
- Buku ini si tidak saya rekomendasikan bagi yang baru belajar jahit. Kalau untuk yang jago juga sepertinya kurang cocok. Jadi saya ga tau sih buku ini sebenernya buat siapa. hehe

- Tentang masalah bahasa yang kurang dimengerti, kemungkinan besar karena kemampuan bahasa inggris saya yang kurang. Kalau kamu merasa jago mungkin buku ini bisa berguna.

5.10.12

#3. SG Trip - Pameran Tetap National Museum of Singapore

(My Travel Series)
__________
Senin, 25-1-2010
Singapore Museums Trip 
Day 1

(Please note that this trip happened in 2010, there are probably some changes in the museum now)
Tulisan sebelumnya>> #2. SG Trip- National Museum of Singapore

Seperti namanya, inti dari museum ini adalah tentang Singapura. Karena itu, seluruh pameran tetapnya adalah tentang negara tetangga tersebut. Terbagi dalam beberapa ruang yang urutannya bebas dipilih. Ada dua tema besar, yakni Singapore History Gallery dan Singapore Living Galleries (terdiri dari Film&Wayang, Photography, Food, dan Fashion).

Singapore Living Galleries
Singapore Living Galleries terdiri empat buah ruang dengan pintu masuk yang berbeda-beda sesuai tema. Sebenarnya, benda pamernya sendiri tidak terlalu unik karena ga jauh beda sama Indonesia. Malahan menurut saya, kebudayaan Indonesia jauh lebih menarik. Hebatnya, desain tata pamer museum ini bikin sesuatu yang biasa jadi ga biasa. Selain desainnya yang beda-beda, pameran di sini dibuat seinteraktif mungkin, jadi kita ga hanya pake mata aja, tapi juga telinga dan bahkan hidung.

Singapore Living Gallery-Food 




Pencahayaannya bikin suasa ruang tampil beda. Belum lagi ada suara-suara 
pendukung dari speaker.

Display interaktif yang dilengkapi huruf braille.
 Hebat ya, kaum disabel pun ikut dipikirin.


Ada dua ruang, ini ruang pertama, isinya tentang bakul dan gerobak kaki lima. 
Ruang berikutnya tentang bumbu-bumbu.


Cetakan kue jaman dulu. Display-nya simple tapi bagus, saya suka.

 
Bahkan sepeda buat jualan yang biasa banget ini 
bisa tampil menarik ya. 


Ruang kedua, salah satu ruang favorit saya.

Ruang tentang macam-macam rempah-rempah.
Display-nya super menarik.

Pengunjung bisa mencium bau berbagai rempah lewat alat ini. Kreatif ya, memaksimalkan semua indra.

Kalau mau mencium, tarik cincin di bagian bawah corong. 
Di bawahnya ada toples kaca berisi rempah. Alat ini tentu dilengkapi huruf braille. 

 Salah satu contoh penjelasannya. 


Singapore Living Gallery- Photography

 

Foto-foto zaman dulu dengan bingkai modern. 

Untuk masuk ruang ini entah kenapa ada gardu kecil seperti di stasiun
 untuk masukin tiket. 

Ruang di balik foto-foto, aslinya gelap banget. 
Saya dan si ade ga berani masuk. Hehe.


Singapore Living Gallery- Film&Wayang
Di sini cahayanya sangat redup, jadi susah untuk foto-foto. Sengaja dibuat redup untuk ngebangun ambiance karena di sini diputar lagu-lagu jaman dulu. Serasa di dunia lain. hehe. 


Ruangannya remang-remang dan serba merah, yang ini untuk nonton video

Pernak- pernik wayang di display dalam peti-peti kecil yang 
disebar di tengah ruangan.

Salah satu contoh properti wayang


Singapore Living Gallery- Fashion


Display baju melayang. Like it!

Ruang favorit saya setelah ruang bumbu. 
Kain-kainnya di tata sesuai warna, cantik banget.




Singapore History Gallery

Bagian ini, sesuai dengan namanya, menceritakan sejarah Singapore. Konsepnya mirip dengan Hong Kong Museum of History , bedanya, saat masuk pengunjung masing-masing diberi satu head set dan sejenis music player dengan tombol-tombol angka. Alat ini berfungsi sebagai tour guide pribadi. 

Di setiap bagian di dalam museum terdapat angka-angka, nah ketika melihat angka itu, saatnya menekan tombol di music player. Kemudian dari head set akan terdengar cerita dan penjelasan tentang ruang tempat kita berada. Kalau tertarik silahkan dengarkan sampai habis, kalau tidak, silahkan lanjut ke tempat berikutnya.

Saya suka sekali dengan bagian museum ini terutama dengan teknologi guide pribadinya. Ini cuplikan foto-foto di dalam sana.





Adik saya dengan head set dan si guide pribadi


Cerita kali ini panjang sekali ya. Untuk moral, tips, dan cerita tentang pameran temporer yang saya lihat, ada di postingan berikutnya ya. Ciao!


Selanjutnya  >> #4. SG Trip - National Museum of Singapore (Last Part)
Sebelumnya >> #2. SG Trip - National Museum of Singapore (First Part)