20.12.11

Pilih Ubi atau Singkong?

Oktober lalu, saya dan keluarga sempet jalan-jalan ke Papua. Mendarat di Sorong lalu ke Raja Ampat.

Sebelum ke Raja Ampat, kita menginap dulu 1 malam di Sorong. Di sana, kita ditemenin sama saudara saya yang tinggal dan bekerja di situ. Sebagai seorang turis, kita pun bertanya tentang hal menarik apa yang ada di Sorong. Mas K- sebut saja begitu namanya - agak bingung. Kota Sorong ini ga punya sesuatu yang khas. Bahkan makanan khas pun ga ada.

Akhirnya dia pun mengantar kami keliling-keliling. Dalam 30 menit selesai sudah acara keliling kota. Semua sudah terjelajahi. Yang spesial? Hampir ga ada. Kecuali mal paling besar yang gedenya paling segede Aneka Buana di Pondok Labu deket rumah saya. Segede Tip Top kalau di Rawamangun. Segede Borma kalau di Bandung. Kecillah pokoknya.

Selesai keliling-keliling, kami pun diajak makan di pinggir jalan. Di sebelah pantai yang tertutup dinding. Mirip di Ancol. Mas K pun memesan makanan dan minuman yang kira-kira agak beda dengan makanan ibu kota. Minuman bernama Saraba, ubi goreng, dan sesuatu makanan pisang saya lupa namanya.

Saraba lumayan enak. Rasanya mirip bandrek. Minuman jahe hangat.Tapi ini sebenernya juga bukan minuman khas Sorong, karena begitu saya mampir di Makassar banyak yang jual Saraba dengan tulisan 'Minuman khas Makassar.'

Pisang sesuatu namanya itu saya lupa rasanya. Agak aneh kalo ga salah. Gatau deh saya lupa.

Yang terakhir lumayan spesial, ubi goreng. Pas dimakan rasanya kayak singkong goreng, bentuknya juga. Saya sampe lihat menunya lagi, tulisannya : ubi goreng. Dalam bingung saya makan saja. Ternyata adik saya juga mengalami kebingungan yang sama. Dia makan dan lihat menunya. Ga puas, dia akhirnya nanya ke mas K.

"Ini singkong apa ubi si? Tulisannya ubi rasanya singkong.." Ya, dia memang lebih vokal dari saya.

"Itu singkong. Kalau di sini semua yang umbi-umbian dibilang ubi," mas K menjawab kebingungan kami.

Jadi mau pilih ubi apa singkong? Yang dateng bakal sama-sama aja. Hehehehe.



FYI. Alasan kenapa Sorong tidak punya makanan atau sesuatu yang khas adalah karena kota ini awalnya dibuka untuk transmigran. Bukan kota yang sudah berkembang sejak dulu. Juga kota yang dibuka oleh Pertamina. No wonder ga ada setitik pun tradisi yang terasa.

25.9.11

Pidi Baiq

Hari minggu. Pengennya leyeh-leyeh karena besok sudah kerja lagi. Karena indovision saya dibajak TVRI (baca: semua channel berubah jadi TVRI) akhirnya saya nonton TV biasa. TV lokal maksudnya. Jadilah saya nonton stand up comedy di kompas TV. Bukan karena saya kerja di kompas gramedia, tapi karena ade saya yang pilih channel-nya. Ga tau kenapa saya ga ketawa. Entah karena selera humor saya yang rendah atau emang mereka ga lucu. Tapi kakak adek saya juga ga ketawa, jadi mungkin kesalahannya ada pada si acara TV.

Padahal siang ini saya lagi pengen ketawa. Karena gagal, saya kecewa, tapi ga berat si. Tiba-tiba saya inget sama Pidi Baiq. Iya, Pidi Baiq si penulis buku drunken monster dan teman-temannya. Jadi saya buka blognya. This is it! *ngomong ala chef Farah Quin

Singkat cerita, saya baca dan berhasil ketawa. Bukan cuma ketawa, tapi jadi sadar kalau saya ini terlalu serius. Terlalu serius sama hidup. Padahal menurut Al-Quran aja hidup di dunia ini adalah senda gurau. Selain terlalu serius kayaknya saya ini juga terlalu normal, padahal kayaknya seru juga jadi orang aneh kayak Pidi Baiq. Walaupun setiap baca ceritanya saya suka ragu akan kebenarannya. Tapi karena kata pak guru agama kita gak boleh suudzon, ya sudah saya pilih untuk percaya saja.

Sekian tulisan saya kali ini. Mungkin ga ada fungsinya buat kamu, mungkin juga ada, tapi semoga ada. Yang jelas saya senang bisa nulis suka-suka pake bahasa ngaco-ngaco tanpa takut diedit sama editor, atau takut menyesatkan pembaca. Oiya, kalau kamu gatau apa itu buku drunken monster dan kawan-kawannya ini saya kasih fotonya.


25.8.11

Bunga Biru

Sekitar seminggu yang lalu, kalo kamu main ke meja saya di kantor, kamu akan berjumpa dengan bunga biru ini. Bunga ini habis dijadikan aksesoris untuk pemotretan cover majalah tempat saya kerja. Gara-gara saya pajang di meja, temen-temen kantor banyak yang nanya kenapa ada bunga warna biru. Saya baru tau kalo ternyata banyak juga yang gak tau kalo warna kelopak bunga bisa diganti.


Nah, begini caranya:

- Rendam bunga warna terang (putih misalnya) beserta tangkai di dalam air yang telah ditetesi beberapa tetes pewarna makanan (warna apa saja sesuai selera).
- Tunggu sampai bunga berubah warna.(sekitar 1 hari)

Sebenernya cara ini saya baca di buku widya wiyata (eh gimana si tulisannya) zaman SD. Kayaknya salah satu percobaan untuk membuktikan kapilarisme, tapi ternyata bagus juga ya buat dekorasi ruang. Hehe.

Kalau yang ini saya buat pakai bunga krisan putih + pewarna biru. Beli di rawa belong. Satu iket harganya Rp10.000. Karena sesuatu dan lain hal (baca: bikinnya di mobil yang bergerak) si pewarna tumpah jadi airnya jadi super biru. Akibatnya ga cuma bunganya yang jadi biru tapi daun-daunnya juga. Dan sebeneranya hasilnya ga se-oke yang di foto. Entah kenapa si bunga biru fotogenik. ;)


6.3.11

Di Suatu Hari Minggu

Biar hidup lebih berwarna dan lebih seru, kemarin (maksudnya beberapa hari atau minggu yang lalu) saya memutuskan untuk memfoto minimal satu hal apapun setiap harinya. Sesuatu yang menarik. Mungkin hal-hal kecil yang biasanya terlewat. atau apapun. Intinya foto. A picture worth a thousand words. Itu alasannya.

Tapi dasarnya saya. Niat hanyalah niat. Cuma dilakukan satu hari pas saya punya ide itu. Tapi biarlah. Daripada ngga sama sekali. Hehe. 

Jadi ini foto-foto yang saya ambil di suatu hari minggu beberapa minggu yang lalu. Enjoy!

Di suatu pameran di showroom Forme, Wijaya 1, Jakarta

My favorite. Buzz and Alice. :)


Orang tidur, pick up, tol, dan kecepatan tinggi.
Serem


Rumah hantu di La piazza, Kelapa Gading.
Tertipu masuk ke dalemnya. Ga lagi-lagi!



Informasi Ekstra
Forme adalah showroom furnitur paling intimidating sejagad raya. Begitu datang kita bakal disambut pintu extra besar penuh ukiran yang tertutup rapat. Butuh keberanian buat buka dan masuk. Saat masuk, kita langsung disambut resepsionis yang siap siaga mengawal keliling toko. (dan ga mungkin ga ngelewatin meja resepsionisnya) Termasuk kalo kita cuma mau liat pameran di galeri kecilnya.